Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo kembali menggelar agenda Pengajian Ahad Pagi di Masjid An-Nur Kompleks Perguruan Muhammadiyah Jalan Mojopahit, Sidoarjo, Ahad (21/9/2025). Pengajian kali ini menghadirkan pemateri Prof. Dr. Biyanto M.Ag., Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, dengan tema Hidup Bijak di Era Gaduh.
Dalam muqadimahnya, Prof. Biyanto membuka pengajian dengan mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad SAW. “Orang yang mencari ilmu kedudukannya sama dengan orang yang berjihad di jalan Allah,” ujarnya di hadapan jamaah. Menurutnya, menuntut ilmu adalah amal mulia yang tidak boleh ditinggalkan, dan warga Persyarikatan harus terus bersemangat untuk mengaji.
Prof. Biyanto juga menyinggung situasi bangsa pasca 20–25 Agustus 2025, ketika Indonesia diliputi ketegangan, anarkisme, hingga penjarahan di berbagai daerah. “Fenomena ini sangat jauh dari karakter bangsa Indonesia yang sejatinya beradab dan menjunjung tinggi nilai toleransi,” terangnya.
Ia menambahkan, keresahan sosial turut dipicu oleh perilaku oknum pejabat yang gemar memamerkan gaya hidup glamor di tengah masyarakat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. “Hal ini tentu menimbulkan jurang sosial dan memicu kegelisahan rakyat bawah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Biyanto menjelaskan bahwa umat saat ini hidup di era serba digital yang ditandai dengan dunia VUCA, yakni Volatility (perubahan cepat), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kerumitan), dan Ambiguity (ketidakjelasan). Ia memberi contoh, dulu masyarakat menggunakan wesel pos untuk mengirim uang, kini semua berganti dengan e-banking. “Banyak hal bergeser dengan sangat cepat,” katanya.
Tentang ketidakpastian, ia mencontohkan sosok pelawak Cak Lontong yang berlatar belakang sarjana teknik, namun justru berkarier di dunia hiburan dengan penghasilan lebih besar dibandingkan profesi sesuai jurusannya. Kerumitan, lanjutnya, tampak dari kasus ijazah palsu yang terlihat sederhana, tetapi sulit diselesaikan. Sedangkan ketidakjelasan tampak dari maraknya hoaks yang membuat masyarakat terjebak kebingungan.
Menghadapi kondisi itu, Prof. Biyanto mengajarkan tiga kunci hidup bijak di era gaduh. Pertama, hadir sebagai penerang. Umat Islam harus menjadi juru penjelas, bukan provokator, serta luwes dalam beragama. Kedua, prinsip kehati-hatian. “Jaga lisan dan jari-jari kita sebelum berbicara atau menyebarkan berita. Seorang muslim yang baik adalah yang bisa menjaga lisan dan jari, jangan sampai menyakiti tetangga,” pesannya.
Ketiga, pentingnya tabayun atau saling klarifikasi. Ia mengingatkan, hal ini sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 6, agar kaum beriman tidak mudah termakan berita yang dibawa orang fasik sehingga menimbulkan penyesalan.
Prof. Biyanto menegaskan pentingnya umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah Sidoarjo, memperkuat keimanan, meningkatkan literasi digital, serta menjaga kesabaran dan kebersamaan dalam menghadapi tantangan bangsa di era VUCA. “Dan tidak kalah penting, pastikan anak-anak kita berhati-hati dalam memilih kawan. Didiklah mereka dengan pendidikan terbaik untuk menghadapi zamannya, karena anak kita akan hidup di masa yang berbeda dengan saat ini,” pungkasnya. (*)





Prof Bi selalu membawa suasana yang adem