Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, menegaskan bahwa kunci utama menjaga silaturahim dan kepedulian sosial pasca Ramadan terletak pada kemampuan umat untuk saling memaafkan dan terus menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama.
Pesan tersebut disampaikan dalam Pengajian Pencerah yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, Ahad (29/3/2026). Kegiatan yang digelar di At Tauhid Tower Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) itu dihadiri jajaran pimpinan Muhammadiyah, tokoh-tokoh agama, serta keluarga besar Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Dalam ceramahnya, Prof Suko, begitu panggilan karibnya, mengajak jamaah untuk memahami makna Idulfitri secara mendalam, bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum spiritual untuk kembali kepada fitrah.
“Idulfitri itu artinya kembali. Kembali kepada kondisi suci, kembali mendekat kepada Allah setelah sebelumnya mungkin kita jauh karena kesalahan,” ujarnya.
Hakikat Kembali: Belajar dari Kisah Nabi Adam
Prof Suko lalu menguraikan konsep “kembali” dalam Idulfitri dapat dipahami melalui kisah Nabi Adam. Ketika melakukan kesalahan, Nabi Adam segera bertobat dan memohon ampun kepada Allah.
Menurutnya, inilah hakikat hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah). Ketika seseorang melakukan kesalahan, lalu bertobat dengan sungguh-sungguh, maka hubungan yang sempat renggang akan kembali dekat.
“Orang bertakwa itu bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang ketika salah segera ingat kepada Allah dan bertobat,” jelasnya.
Sebaliknya, dia mencontohkan iblis yang enggan bertobat karena kesombongan, sehingga justru semakin jauh dari rahmat Allah.
Selain hubungan dengan Allah, Prof Suko menekankan pentingnya menjaga hubungan antarmanusia (hablum minannas).
Dia menjelaskan, sifat dasar manusia adalah menyukai keharmonisan, tetapi kesalahan yang dilakukan satu sama lain seringkali merusak hubungan tersebut.
Karena itu, permaafan menjadi kunci utama untuk memperbaiki hubungan. “Kalau tidak ada maaf, maka jangan berharap silaturahim akan terjaga,” tegasnya.
Dia mengutip pemikiran Prof. Quraish Shihab yang membagi tingkat permaafan menjadi tiga level, yaitu:
Al-‘afwu – memaafkan, tetapi masih mengingat kesalahan
At-takfir – memaafkan dan berusaha melupakan
Ash-shafh – memaafkan, melupakan, bahkan berbuat baik kepada orang yang pernah menyakiti
Menurut Prof Suko, level tertinggi (ash-shafh) adalah kunci sejati menjaga silaturahim. “Kalau masih ada ganjalan di hati, silaturahim itu terasa berat. Tapi kalau sudah sampai pada level lapang dada, hubungan akan kembali hangat,” ujarnya.
Faktor yang Mempengaruhi Kemudahan Memaafkan
Prof Suko juga mengutip penelitian Felix Neto dari University of Porto yang menyebutkan beberapa karakter yang mempengaruhi seseorang dalam memaafkan:
- Orang yang ramah dan mudah bergaul cenderung lebih mudah memaafkan
- Orang yang gemar bersyukur lebih lapang hati
- Semakin dewasa seseorang, semakin mudah memaafkan
- Orang yang mampu mengendalikan emosi lebih tidak pendendam
“Jadilah pribadi yang ramah, bersyukur, dewasa, dan mampu mengendalikan emosi. Itu kunci menjadi pemaaf,” pesannya.
Selain silaturahim, Prof Suko menekankan pentingnya menjaga kepedulian sosial pasca Ramadan. Dia mengutip pesan Kiai AR. Fahruddin yang menggambarkan Muhammadiyah sebagai “Islam yang gagah dan nyahnyo”, yakni Islam yang kuat sekaligus gemar memberi.
“Warga Muhammadiyah itu harus loman, harus suka memberi. Kalau medit (pelit), itu bukan karakter Muhammadiyah,” tegasnya.
Dia lantas menjelaskan, semangat berbagi tidak boleh berhenti setelah Ramadan. Justru, nilai ketakwaan sejati terlihat ketika seseorang tetap bersedekah dalam kondisi lapang maupun sempit.
“Orang kaya bersedekah itu biasa. Tapi yang luar biasa adalah mereka yang tetap berinfak meski dalam keterbatasan,” ujarnya.
Janji Allah: Kemudahan bagi yang Dermawan
Prof Suko mengingatkan bahwa Allah telah menjanjikan kemudahan bagi orang-orang yang gemar bersedekah dan bertakwa. Sebaliknya, kesulitan akan menghampiri mereka yang bakhil dan enggan berbagi.
“Kalau kita memberi, Allah akan kembalikan dalam bentuk kemudahan. Tapi kalau pelit, justru kesulitan yang datang,” katanya.
Dia juga mengingatkan bahwa sifat bakhil akan berujung penyesalan, terutama saat menjelang kematian, ketika seseorang berharap diberi kesempatan kembali ke dunia untuk bersedekah.
Lebih lanjut, Prof Suko mengajak seluruh jamaah, terutama para pemimpin amal usaha Muhammadiyah, untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama, dimulai dari lingkungan terdekat.
Dia menyoroti pentingnya memperhatikan kesejahteraan guru, karyawan, serta masyarakat sekitar. “Jangan sampai kita hidup nyaman, tapi tetangga kita kelaparan. Itu tanda kepedulian kita masih kurang,” tegasnya.
Mengakhiri ceramahnya, Prof Suko mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan momentum pasca Ramadan sebagai awal perubahan diri.
“Mari kita jadi orang yang pemaaf dan gemar berbagi. Dengan itu, silaturahim akan terjaga dan kepedulian sosial akan terus hidup,” pungkasnya.
Dia berharap nilai-nilai tersebut tidak hanya hadir selama Ramadan, tetapi menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan sehari-hari umat Islam.
“Insya Allah, dengan pemaafan dan kepedulian sosial, kita akan menjadi pribadi yang diridhai Allah,” tutupnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments