Upaya menekan angka stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat dukungan dari para pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Melalui program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), tim dosen yang dipimpin Prof. Baiduri, M.Si. melakukan edukasi tentang pentingnya makanan bergizi bagi siswa, guru, dan orang tua di SD Inpres Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Kampus Putih untuk hadir dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).
Menariknya, rombongan UMM disambut meriah dengan tarian bonet hingga senam tujuh kebiasaan anak Indoenesia hebat.
Baiduri dan tim juga turut bergabung bersama siswa serta orang tua untuk momen penyambutan ini. Bahkan mereka mencicipi dan mengunyah sirih pinang sebagai bentuk penerimaan dari warga sekitar.
Para pakar UMM juga memberikan makanan bergizi seperti susu, telur, buah, dan sayur yang sekaligus menjadi contoh makanan bergizi bagi siswa-siswi SD Inpres Soe. Alat peraga serta buku-buku cerita juga dihibahkan dengan harapan bisa menjadi penyemangat para siswa untuk belajar, khususnya di aspek STEM.
Adapun untuk posyandu, tim UMM memberikan alat-alat yang dibutuhkan seperti timbangan digital dan lainnya.
“Pengabdian ini juga menindaklanjuti info dari kementerian yang menjelaskan bahwa NTT menjadi salah satu wilayah dengan stunting tertinggi di Indonesia, khususnya Timor Tengah Selatan. Maka para profesor dan tim pakar dihadirkan untuk memberikan kontribusi di bidang stunting dan kemiskinan ekstrem. Sehingga jargon Kampus Berdampak bisa benar-benar kami lakukan, termasuk di NTT,” kata Baiduri.
Baiduri tidak sendiri, dia ditemani oleh Prof. Yus Mochamad Cholily, Prof. Roro Eko susetyorini, Dra. Roimil Latifah, M.Si. dan Dr. Beti Istanti Suwandayani. Adapula Dr. Arina Restian, dan Dr. Kuncahyono yang membantu dan memberikan kontribusi.
Baiduri menjelaskan bahwa siswa juga diajak untuk mengenal makanan-makanan bergizi. Jangan sampai mereka sarapan dengan mie atau makanan-makanan yang gizinya sedikit.
Selain itu, para orang tua dan anggota posyandu juga diajak berdiskusi tentang bagaimana menangani stunting yang ada. Memahamkan bahwa ada beberapa makanan dari wilayah setempat yang ternyata memiliki gizi yang baik untuk pertumbuhan.
Di sisi lain juga memberikan arahan dan program terkait pentingnya 1000 hari pertama setelah kelahiran. Dengan begitu, langkah kecil ini bisa memberikan perubahan, khususnya di aspek stunting.
“Misalnya makanan khas setempat yang berbahan dasar jagung. Ini bisa dikembangkan dan diinovasikan sebagai alternatif makanan yang bergizi dan baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Program ini tentu akan berjalan secara berkelanjutan di bulan-bulan berikutnya dan skeolah-sekolah lainnya di TTS NTT,” katanya.
Di sisi lain, Kepala Sekolah SD Inpres Soe Yermia Haekase mengapresiasi kegiatan yang dilakukan di sekolahnya.
Para siswa merasa sangat antusias dengan berbagai program yang ada. Mulai dari makanan bergizi, dongeng, hingga penggunaan alat peraga untuk belajar bidang STEM. Harapannya, program P3M tidak hanya terbatas di sekolahnya saja.
“Ada 542 sekolah dasar di Kabupaten Timor Tengah Selatan yang juga membutuhkan dukungan dna bantuan. Maka, kami harap UMM bisa turun dan membantu sekolah-sekolah tersebut. Bisa saja berkolaborasi dengan kementerian pendidikan dasar dan menengah (Kemendikdasmen) untuk menjalankan program-program berdampak,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments