PWMU.CO bakal berusia 10 tahun alias satu dekade pada 18 Maret 2026. Dalam perjalanannya, portal ini tumbuh bersama denyut dakwah digital Muhammadiyah Jawa Timur. Ribuan berita, gagasan, dan kisah inspiratif lahir dari semangat warga Persyarikatan yang ingin berbagi kebaikan. Berikut serpihan mozaik cerita dari perjalanan satu dekade PWMU.CO.
Sore itu Magetan seperti baru saja menuntaskan tangisnya. Hujan yang mengguyur sejak siang meninggalkan jejak basah di aspal. Kabut tipis menggantung di sekitar Telaga Sarangan. Gunung Lawu berdiri diam di kejauhan, separuh tertutup selimut awan.
Mobil kami merayap pelan menanjak menuju sebuah hotel di tepian telaga. Jalan berkelok, licin, dan menukik. Deretan kendaraan terparkir rapi mengikuti kontur jalan yang menurun.
Lampu-lampu mulai menyala. Udara terasa dingin. Angin membawa bau tanah basah dan daun pinus. Sore perlahan berubah menjadi senyap yang menenangkan.
Saya datang sedikit terlambat. Bersama Ram Surahman. Nama Ram kini sering muncul di layar televisi. Dia Sekretaris Persebaya Surabaya. Wajahnya kerap nongol di siaran live sepak bola dari Gelora Bung Tomo.
Tapi bagi saya, Ram tetap kawan lama di ruang redaksi. Kawan seperjuangan. Kawan mengejar deadline.
Dulu kami satu meja di Suara Indonesia. Lalu media itu berubah nama menjadi Radar Surabaya. Ruang redaksi berganti, tapi aroma tinta koran tetap sama.
Jauh sebelum itu, tahun 1995, kami juga pernah satu perahu. Mengelola Tabloid Matahari. Media milik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Terbit bulanan. Penuh idealisme.
Sayangnya umurnya pendek. Edisi pertama, semangat menggebu. Edisi kedua, mulai ngos-ngosan. Edisi ketiga dan keempat, bertahan. Edisi kelima… selesai. Tutup. Tamat.
Di Magetan ini, kami datang untuk Rapat Kerja Lembaga Informasi dan Komunikasi (LIK). Lembaga baru di bawah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.
LIK berada dalam koordinasi Ustaz Nadjib Hamid. Tokoh yang energinya seperti tak pernah habis. Kini beliau telah berpulang.
Saat itu, Ustaz Nadjib menjabat Wakil Ketua PWM Jatim. Ada satu majelis dan dua lembaga di bawah koordinasinya. Majelis Pustaka. LPPCR (Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting). Dan tentu saja LIK.
Yang menarik, LIK hanya ada di Jawa Timur. Tidak ada di wilayah lain. Semacam eksperimen organisasi. Lahir dari kebutuhan zaman.
Rapat kerja berlangsung dua hari. 6 sampai 7 Februari 2016. Suasananya terasa berbeda. Barangkali karena LIK bersentuhan langsung dengan arus informasi. Cepat. Dinamis. Tak kenal jeda.
Di ruang pertemuan itu saya melihat wajah-wajah lama. Orang-orang media. Orang-orang yang akrab dengan deadline dan berita.

Ada Ustaz Rohman Budijanto. Mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos. Ia tak pernah lelah mengingatkan pentingnya dakwah digital Muhammadiyah. Menyemangati saya dan teman-teman untuk terus menulis.
Ada Muh. Kholid Asyadulloh. Ketua LIK PWM Jatim. Sekaligus Pemimpin Redaksi Matan.
Faisol Taselan juga hadir. Wartawan Media Indonesia. Kami cukup lama bareng di lapangan liputan.
Di sudut ruangan tampak Arief Santosa. Redaktur Jawa Pos yang menggawangi rubrik Budaya. Kini beliau sudah almarhum.
Ada pula Rully Anwar dari Suara Surabaya. Aktivis media yang aktif menggelar berbagai pameran.
Dan satu lagi, Fiqih Arfani. Wartawan muda dari Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.
Ada Nasrullah dan Jamroji, keduanya dosen dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dua akademisi ini dikenal aktif menulis dan sering terlibat dalam diskursus media serta gerakan dakwah di ruang publik.
Kemudian Radius Setiyawan, dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya—yang kerap disebut Umsura. Kini ia menjabat Wakil Rektor di kampus tersebut. Pengalamannya di dunia akademik dan komunikasi membuat pandangannya sering menjadi rujukan dalam pengembangan media dakwah.
Ada pula Arya Wiraraja, dosen Universitas Airlangga (Unair). Ia dikenal sebagai sejarawan Muhammadiyah yang tekun menelusuri jejak-jejak sejarah organisasi ini, terutama dalam konteks sosial dan intelektual di Indonesia.
Satu lagi yang hadir adalah Abdullah Sidiq Notonegoro. Ia kawan lama saya ketika sama-sama menjadi aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
***
Rapat dimulai usai ishoma (istirahat, salat, dan makan). Waktu yang selalu terasa pas untuk memulai percakapan serius.
Malam itu hampir 90 persen pengurus LIK yang baru dibentuk hadir. Jumlah yang cukup membuat ruangan terasa padat. Kursi-kursi terisi. Obrolan kecil masih terdengar di beberapa sudut sebelum rapat benar-benar dimulai.
Kami duduk di sebuah ruangan yang memanjang. Karena bentuknya seperti lorong yang diperlebar, susunan kursi akhirnya dibuat segi empat. Semua saling berhadapan. Tidak ada yang benar-benar di belakang. Setiap orang bisa saling menatap. Saling menyimak.
Di bagian depan duduk Muh. Kholid Asyadulloh, ketua LIK yang malam itu memimpin rapat. Di sampingnya, empat wakil ketua mengambil tempat. Ada Arief Santosa, lalu Nasrullah, kemudian Rully Anwar, dan saya sendiri.
Kami duduk berdampingan, seperti barisan kecil yang bersiap memulai kerja besar. Tidak ada jarak yang terasa kaku. Yang ada justru semangat yang sama: memikirkan masa depan lembaga ini.
Malam itu, percakapan, gagasan, bahkan perdebatan kecil mulai mengalir. Ada yang menyampaikan ide dengan penuh semangat.
Ada yang menimpali dengan catatan kritis. Sesekali terdengar tawa ringan, memecah suasana rapat yang semula terasa formal.
Satu per satu gagasan muncul ke permukaan. Tentang arah gerak lembaga, program kerja, hingga bagaimana membangun ekosistem literasi dan media yang lebih kuat di lingkungan Muhammadiyah.
Tidak semua ide langsung disepakati. Tapi justru di situlah rapat menemukan nyawanya. Dialog yang hidup, pikiran yang saling mengasah, dan semangat kolektif untuk bergerak bersama. (bersambung)






0 Tanggapan
Empty Comments