Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rahasia Hidup Tenang dan Terhormat

Iklan Landscape Smamda
Rahasia Hidup Tenang dan Terhormat
Ilustrasi: OpenAI
pwmu.co -

Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengupas tuntas alasan mendasar mengapa manusia diciptakan dan bagaimana Allah SWT membekali setiap hamba-Nya agar sukses menjalani misi kehidupan di bumi.

Inti dari pesan dia adalah sebuah prinsip sederhana namun mahal: Hidup yang tenang dan senang.

1. Misi Kehidupan: Bekal Sebelum Penugasan

Allah SWT tidak pernah melepaskan hamba-Nya ke medan ujian tanpa perlengkapan yang memadai. Menurut UAH, setiap tugas kehidupan—yang sering kita sebut sebagai ujian—selalu disertakan dengan perangkat penyelesaiannya.

Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 38, di mana saat Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, Allah menyertakan Huda (petunjuk). Janji Allah jelas: siapa yang mengikuti petunjuk-Nya, maka tidak akan ada rasa takut (khauf) dan tidak ada kesedihan (hazan).

“Konsepsi dasar hidup di bumi itu seharusnya penuh ketenangan dan kesenangan. Jika hidup kita saat ini merasa tidak tenang, boleh jadi bukan karena kurang jabatan atau harta, melainkan karena interaksi kita dengan petunjuk Allah (Al-Qur’an) yang masih minim,” jelas UAH seperti dilansir dalam kanal Youtube Amalanku.

2. Manusia: Makhluk Mulia yang Terjaga

Berbeda dengan makhluk lain, manusia dipanggil oleh Allah dengan sapaan yang istimewa. Mengutip QS. Al-Isra: 70, UAH menjelaskan bahwa Allah telah memuliakan anak cucu Adam dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Kemuliaan ini dijaga melalui aturan hukum (Syariat). Contohnya konsep haram yang secara bahasa serumpun dengan kata Hormah (hormat). Mengapa ada yang haram? Bukan untuk membatasi kebebasan, tapi untuk menjaga kehormatan,” terang Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah itu.

Dia menyebut analogi penglihatan. Binatang (seperti monyet) melihat segala sesuatu tanpa batasan.

Namun, manusia diatur pandangannya (ghadul bashar) karena mata manusia itu mulia.

“Jika manusia melihat tanpa batas, maka ia sedang meruntuhkan nilai kemanusiaannya sendiri,” tegas UAH.

3. Anatomi Jiwa: Shadrun, Qalbun, dan Nafsun

Untuk memahami jati diri, UAH memberikan gambaran visual mengenai struktur jiwa manusia yang terdiri dari tiga lapisan utama:

Shadrun (Dada): Lapisan terluar yang menjadi tempat masuknya berbagai bisikan dan kesan pertama.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Qalbun (Hati): Lapisan tengah yang berfungsi menyaring dan merasakan.

Nafsun (Jiwa): Inti terdalam manusia. Di sinilah “mesin” kehidupan berada.

Dalam Nafsun, Allah menanamkan dua potensi sesuai QS. Asy-Syams: 8:

Takwa: Kutub positif yang berisi akumulasi sifat baik (jujur, sabar, rendah hati).

Fujur: Kutub negatif yang berfungsi sebagai katalis agar nilai takwa bisa muncul dan diuji.

4. Kekuatan Keyakinan dalam Menghadapi Masalah

UAH menekankan bahwa setiap orang yang hidup pasti memiliki persoalan. Namun, kunci psikologis untuk menyelesaikannya adalah keyakinan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286).

UAH menyarankan agar setiap kali menghadapi masalah, kita harus membangun dialog internal yang positif:

“Saya pasti bisa menyelesaikan ini.Masalah ini pasti selesai. Kalimat ini jauh lebih menenangkan jiwa daripada membuat status keluhan di media sosial yang tidak menyelesaikan masalah,” papar dia.

5. Menjadi Insan Muttaqin

Puncak dari perjalanan jiwa adalah mencapai derajat Muttaqin. Orang-orang yang mampu mengoptimalkan potensi takwanya akan mendapatkan bimbingan langsung (Hidayah) dari Allah dalam setiap langkahnya.

“Lisannya dibimbing untuk bicara yang baik. Langkahnya dibimbing menuju keberkahan. Hidupnya berdampingan dengan kesuksesan dan kebahagiaan,” kata UAH.

Ditegaskan UAH, ketenangan adalah aset yang lebih mahal daripada materi. Melalui Al-Qur’an, Allah memberikan peta jalan agar manusia kembali ke fitrahnya: menjadi pribadi yang terhormat dengan senantiasa mengikuti bimbingan-Nya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu