Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ramadan dan Ekoteologi sebagai Risalah Penyelamatan Semesta

Iklan Landscape Smamda
Ramadan dan Ekoteologi sebagai Risalah Penyelamatan Semesta
Oleh : Khilmi Arif Anggota MPID Pimpinan Cabang Muhammadiyah Dau, Malang
pwmu.co -

Selama ini, pemikiran kita terhadap Ramadan seringkali terkurung dalam bilik ibadah personal.

Puasa jamak dimaknai sebatas ritual vertikal: mendaras Al-Qur’an, memperpanjang ruku, serta menahan lapar dan dahaga sejak fajar menyingsing hingga senja terbenam.

Namun, jika kita merenungi lebih mendalam, puasa sesungguhnya menyimpan denyut nadi sosial sekaligus ekologis.

Di titik inilah, relevansi ekoteologi menemukan momentum emasnya.

Puasa bukan sekadar laku asketik individual, melainkan pendidikan spiritual untuk memulihkan kesadaran manusia dalam menjaga bumi sebagai amanah suci dari Sang Pencipta.

Ekoteologi hadir sebagai refleksi teologis yang menjembatani antara iman dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Ia menegaskan dengan lugas bahwa alam semesta bukanlah komoditas ekonomi yang bebas diperas, melainkan manifestasi dari ayat-ayat Tuhan yang harus dirawat dengan penuh takzim.

Dalam kosmologi Islam, manusia didapuk sebagai khalifah fil ardh—pemegang mandat untuk mengelola, bukan mengeksploitasi.

Krisis ekologis yang kita saksikan hari ini, mulai dari amuk banjir, polusi yang mencekik, hingga perubahan iklim yang tak menentu, sejatinya adalah cermin dari krisis moral dan spiritual manusia modern yang telah kehilangan kompas amanahnya.

Puasa mengajarkan satu fundamen etis yang melampaui zaman: pengendalian diri.

Di bawah tirani gaya hidup konsumtif yang memuja logika “beli, pakai, buang,” Ramadan datang sebagai interupsi sekaligus koreksi.

Saat berpuasa, kita belajar mengeja kembali makna kata “cukup”.

Kita dilatih membedakan antara “kebutuhan” yang esensial dan “keinginan” yang dangkal.

Kesadaran inilah yang menjadi fondasi etika ekologis.

Logikanya sederhana namun tajam: jika manusia mampu menahan diri dari hal-hal yang halal (makan dan minum) demi ketaatan, maka ia seharusnya lebih mampu menahan diri dari tindakan destruktif terhadap alam yang jelas-jelas dilarang.

Al-Qur’an telah memberikan peringatan dini bahwa kerusakan di darat dan laut adalah buah dari tangan manusia sendiri.

Pesan ini menggarisbawahi bahwa problem lingkungan bukanlah sekadar persoalan teknis-saintifik, melainkan persoalan etis yang mendasar.

Puasa mengasah kepekaan batin agar manusia tak lagi memandang alam sebagai objek pasif.

Dalam rasa lapar yang melilit, seseorang diingatkan akan keterbatasannya sebagai makhluk.

Ia disadarkan bahwa keberlangsungan hidupnya sangat bergantung pada kemurnian air, kesuburan tanah, dan keseimbangan ekosistem.

Kesadaran akan kefanaan ini seharusnya melahirkan sikap rendah hati (tawadhu) di hadapan semesta.

Dalam bingkai ekoteologi, terdapat lima prinsip krusial yang selaras dengan nilai-nilai puasa.

Pertama, Tauhid Ekologis. Sebuah kesadaran bahwa seluruh partikel di alam ini adalah ciptaan Allah yang berada dalam satu simfoni ketuhanan yang harmonis.

Puasa menguatkan tauhid dengan memalingkan hati dari pemujaan terhadap materi menuju pengabdian kepada Sang Khalik.

Kedua, Amanah. Bumi adalah titipan lintas generasi. Puasa melatih integritas dan kedisiplinan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Jika seseorang mampu menjaga kejujuran puasanya meski dalam sunyi, ia sedang menempa diri menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam mengelola sumber daya alam.

Ketiga, Mizan atau Keseimbangan. Tuhan menciptakan alam dalam proporsi yang presisi.

Puasa adalah praktik menjaga keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan dahaga ruhani.

Ia mengajarkan ritme kehidupan: ada waktu untuk mengambil, ada batas untuk berhenti.

Prinsip ini sangat relevan dalam kebijakan lingkungan agar kita tidak melampaui daya dukung bumi.

Keempat, Keadilan (‘Adl). Eksploitasi lingkungan yang memiskinkan masyarakat kecil adalah bentuk kezaliman nyata.

Puasa menumbuhkan empati kepada mereka yang papa (lemah).

Ekoteologi memperluas empati ini hingga ke masa depan, memastikan anak cucu kita tidak mewarisi bumi yang telah rusak.

Kelima, Ihsan terhadap Alam. Berbuat ihsan tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia, tetapi mencakup seluruh entitas makhluk hidup.

Dalam tradisi profetik, menanam pohon bahkan dipandang sebagai sedekah jariyah.

Spirit inilah yang harus dihidupkan kembali sebagai gerakan hijau di tengah masyarakat.

Sayangnya, realitas Ramadan kita seringkali diwarnai paradoks yang getir.

Syiar agama meningkat, namun sampah makanan pun melonjak.

Penggunaan plastik sekali pakai justru berlipat ganda saat berbuka bersama.

Jika puasa hanya berhenti pada rasa lapar tanpa perubahan perilaku, maka ia telah gagal melahirkan transformasi.

Ramadan seharusnya menjadi “madrasah ekologis”—sebuah laboratorium untuk menata ulang gaya hidup agar lebih bersahaja, hemat energi, dan minim pemborosan.

Muhammadiyah, dengan spirit Al-Ma’un-nya, memiliki tanggung jawab moral untuk memperluas pembelaan terhadap kaum mustadh‘afin ke ranah ekologis.

Sebab, korban pertama dari kiamat lingkungan adalah rakyat kecil yang tak berdaya.

Mengintegrasikan narasi ekoteologi ke dalam mimbar-mimbar khutbah dan aksi nyata adalah langkah krusial untuk menegaskan bahwa menjaga kelestarian bumi adalah bagian integral dari ibadah.

Pada akhirnya, puasa bukan sekadar perlombaan menahan lapar hingga beduk maghrib bertalu.

Ia adalah proses metamorfosis menuju manusia bertakwa—pribadi yang sadar batas, adil, dan penuh tanggung jawab.

Ketika nilai-nilai tersebut membumi dalam relasi kita dengan alam, maka lahirlah spiritualitas yang sejati.

Ramadan tidak hanya hadir untuk menyucikan jiwa yang kotor, tetapi juga untuk menggerakkan tangan-tangan kita agar kembali merawat semesta yang kian renta.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu