Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ramadan Momentum Terbaik Meraih Rahmat dan Ampunan Allah

Iklan Landscape Smamda
Ramadan Momentum Terbaik Meraih Rahmat dan Ampunan Allah
Foto: kathmandupost.com
Oleh : Muhsin MK
pwmu.co -

Puasa Ramadan memberikan banyak makna. Salah satunya adalah makna kasih sayang atau rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini berkaitan dengan dua firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Lalu dipertegas dalam firman-Nya:

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa…” (QS. Al-A’raf: 156)

Rahmat atau kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala sedemikian besar kepada hamba-Nya. Tanpa adanya rahmat, manusia akan binasa dan merugi. Simaklah ayat berikut:

“Nuh berkata, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan tidak menaruh belas kasihan (memberi rahmat) kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.’” (QS. Hud: 47)

Rahmat atau kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala terbagi dua:

1. Rahmat ‘Ammah (Umum)

Rahmat ini mencakup seluruh makhluk-Nya, termasuk orang-orang kafir sekalipun. Rahmat ini bersifat jasadiyyah, badaniyyah, dan dunyawiyyah (rahmat fisik duniawi), seperti pemberian makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, jabatan, kedudukan, dan berbagai kenikmatan hidup lainnya.

2. Rahmat Khasshah (Khusus)

Rahmat ini bersifat imaniyyah dan diniyyah, baik di dunia maupun di akhirat. Bentuknya berupa taufik untuk berbuat ketaatan kepada Allah, kemudahan melakukan kebaikan, diteguhkan keimanan, diberi hidayah menuju jalan yang lurus, serta dimuliakan dengan masuk surga dan diselamatkan dari neraka.

Rahmat Allah di Bulan Ramadan

Di bulan Ramadan, rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dicurahkan kepada seluruh manusia, baik kepada yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa.

Bagi yang tidak berpuasa, mereka tetap mendapatkan rahmat umum di dunia. Mereka memperoleh makanan, minuman, pakaian, materi, bahkan hadiah atau bingkisan Lebaran.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Mereka juga mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR), bahkan bisa lebih besar sesuai jabatan dan kedudukannya. Semua itu tetap mereka peroleh sebagaimana orang-orang yang berpuasa.

Namun demikian, ada rahmat khusus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak mereka dapatkan.

Sebaliknya, orang-orang yang menunaikan shaum Ramadan akan mendapatkan dua rahmat sekaligus: rahmat umum dan rahmat khusus.

Mereka akan memperoleh pahala berlipat ganda. Bahkan bagi yang gemar beramal, berinfak, dan bersedekah, balasannya jauh lebih besar. Allah berfirman:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki…” (QS. Al-Baqarah: 261)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan:

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Konsekuensi Meninggalkan Puasa

Bagi mereka yang tidak berpuasa tanpa alasan syar’i, selain kehilangan rahmat khusus, juga tidak mendapatkan penghapusan dosa. Bahkan dosanya bisa semakin bertambah dan berat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa tidak berpuasa satu hari di bulan Ramadan tanpa alasan, maka tidak akan mampu menggantinya walaupun dengan puasa sepanjang tahun.” (Diriwayatkan dalam Fathul Bari)

Di akhirat nanti, mereka pun tidak akan mendapatkan rahmat Allah, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka mendapat laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Mereka kekal di dalamnya (neraka), tidak diringankan azabnya dan tidak pula ditangguhkan.” (QS. Al-Baqarah: 161–162). (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu