Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rasionalitas dan Urgensi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)

Iklan Landscape Smamda
Rasionalitas dan Urgensi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)
Oleh : Trist Kader Muda Muhammadiyah
pwmu.co -

Penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) oleh Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid merupakan sebuah langkah transformatif yang melampaui sekadar pembaruan teknis dalam penentuan awal bulan Qamariah.

Langkah ini merupakan respons intelektual dan sosiologis terhadap dinamika dunia modern yang menuntut keteraturan sistemik.

KHGT mengadopsi sistem zona waktu global dan Garis Tanggal Internasional (International Date Line/IDL) yang telah diterima secara luas dalam praktik internasional, menjadikannya jembatan antara doktrin keagamaan dan realitas astronomis yang objektif.

Secara fundamental, KHGT dibangun di atas aksioma ilmiah bahwa bumi merupakan satu sistem rotasi yang utuh.

Dalam kurun waktu 24 jam, bumi berputar 360 derajat, memicu lahirnya pembagian zona waktu universal yang merentang dari GMT-12 hingga GMT+14.

Konstruksi ini bukanlah sekadar rekayasa teologis, melainkan kesepakatan administratif dan saintifik yang memungkinkan peradaban modern berfungsi secara koheren.

Di titik inilah KHGT menemukan pijakan empirisnya; jika dunia internasional telah menyepakati satu standar waktu yang konsisten untuk navigasi, komunikasi, dan ekonomi, maka secara rasional kalender Hijriah pun harus diletakkan dalam kerangka global yang serupa demi kemaslahatan umat manusia.

Selama berabad-abad, praktik penetapan awal Ramadan, Syawal, atau Zulhijah sangat bergantung pada metode rukyat lokal (local sighting).

Dalam lanskap dunia yang dahulu terfragmentasi oleh kendala geografis dan keterbatasan teknologi komunikasi, pendekatan tersebut mungkin dipandang memadai.

Namun, di era kontemporer yang ditandai dengan penerbangan lintas benua, komunikasi real-time, dan mobilitas global umat Islam yang masif, perbedaan penetapan hari raya dalam satu kawasan—bahkan dalam satu negara—menimbulkan implikasi sosio politik dan psikologis yang nyata.

Fenomena ini sering kali memicu kebingungan administratif dan mengaburkan esensi kesatuan umat.

KHGT hadir dari kesadaran bahwa umat Islam hidup dalam sistem global yang saling terhubung.

Sebuah kalender yang bersifat global menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan metodologis.

Secara teknis, KHGT bertumpu pada hisab astronomis yang akurasinya dapat diverifikasi secara universal.

Posisi bulan dan matahari dapat dikalkulasi jauh hari sebelumnya dengan presisi tinggi melalui algoritma matematika modern.

Keunggulan ini memungkinkan susunan kalender Hijriah untuk jangka panjang, memberikan kepastian bagi perencanaan berbagai sektor, mulai dari administrasi pendidikan, manajemen aktivitas ekonomi, hingga perumusan kebijakan publik nasional.

Kepastian ini selaras dengan fungsi kalender Masehi yang telah lama menjadi fondasi birokrasi dunia.

Dalam perspektif ini, KHGT adalah bentuk adaptasi cerdas terhadap tuntutan tata kelola global yang menuntut keterukuran dan prediktabilitas.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Secara strategis, inisiatif ini mempertegas posisi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan yang memposisikan sains sebagai mitra dialog bagi agama, bukan sebagai entitas yang kontradiktif.

Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah konsisten mengedepankan pendekatan rasional dan tajdid (pembaruan) berbasis ilmu pengetahuan.

KHGT merupakan kelanjutan dari tradisi intelektual tersebut, di mana integritas metodologis dan pemanfaatan ilmu falak modern terintegrasi secara utuh ke dalam praktik peribadatan.

Lebih dari sekadar instrumen penanggalan, KHGT membawa dimensi simbolik yang sangat kuat terkait konsep Ummah Wahidah, umat yang satu.

Realitas perbedaan awal puasa dan hari raya selama ini sering kali memperlihatkan fragmentasi identitas di mata dunia.

Kalender global tunggal menawarkan utopia yang realistis bagi penyatuan momen-momen sakral lintas benua.

Ketika umat Islam di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika memulai Ramadan atau merayakan Idul Fitri pada hari yang sama, akan terbentuk kesadaran kolektif yang lebih kokoh mengenai kebersamaan global.

Hal ini menjadi representasi visual dari universalitas Islam yang melintasi batas-batas negara bangsa.

Dalam konteks dunia maritim dan mobilitas tanpa batas, rasionalitas KHGT menjadi semakin relevan.

Para awak kapal yang melintasi berbagai zona waktu serta maskapai penerbangan yang bergerak melampaui garis tanggal internasional membutuhkan standar waktu yang sinkron agar ibadah mereka tetap selaras dengan hukum alam.

KHGT menghadirkan harmoni antara ketetapan syariat dan struktur waktu dunia modern.

Tentu saja, transisi menuju sistem global ini tidak luput dari tantangan, terutama terkait kedaulatan otoritas keagamaan di tiap negara serta sensitivitas kultural yang telah mengakar.

Namun, secara epistemologis, KHGT berangkat dari tesis yang sederhana namun fundamental: satu bumi dengan satu sistem rotasi seharusnya dalam naungan satu sistem kalender global yang konsisten.

KHGT bukan sekadar proyek penyeragaman tanggal, melainkan upaya visioner untuk menjembatani teks suci dengan konteks zaman, menyatukan warisan tradisi dengan tuntutan peradaban modern.

Melalui KHGT, Muhammadiyah menawarkan sintesis antara iman, ilmu, dan tata kelola global untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dalam struktur waktu yang terpadu.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu