Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rektor UM Surabaya: Krisis Jiwa, Akar dari Kekacauan Sosial Kita

Iklan Landscape Smamda
Rektor UM Surabaya: Krisis Jiwa, Akar dari Kekacauan Sosial Kita
Dr. Mundakir. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Dalam keheningan batin yang kerap tertutup hiruk-pikuk dunia, manusia modern ternyata sedang menghadapi krisis yang tak kasatmata, yakni krisis jiwa.

Hati banyak orang kehilangan ketenangan, pikiran dipenuhi amarah dan kecurigaan, hingga kasih sayang dalam keluarga pun memudar.

Dari sinilah lahir berita-berita memilukan: suami membunuh istri, anak menghabisi orang tuanya, dan perceraian yang makin marak di setiap lapisan masyarakat.

Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Dr. Mundakir, dalam ceramahnya menegaskan bahwa semua anomali sosial itu bukan sekadar masalah moral atau hukum, melainkan tanda dari jiwa manusia yang sedang sakit.

“Kesehatan jiwa adalah fondasi dari perilaku yang beradab. Bila jiwa rusak, maka masyarakat pun ikut terluka,” ujarnya seperti dikutip dari kanal Youtube Masjid Al-Anwar Official.

“Semua itu adalah penyakit yang bersumber dari jiwa yang tidak sehat. Kita harus sadar bahwa kesehatan jiwa adalah fondasi dari perilaku yang beradab,” ujarnya di hadapan para jamaah.

Dia menambahkan, gangguan jiwa bukan hanya yang tampak berat hingga dirawat di rumah sakit jiwa. Ada spektrum yang lebih ringan seperti mudah curiga, sering marah, mudah stres, hingga kebiasaan “ngomel tanpa henti”.

“Ibu-ibu yang sedikit-sedikit ngomel, bapak-bapak yang gampang curiga, itu tanda-tanda gangguan jiwa ringan. Maka hati-hati. Kalau merasa begitu, segera istighfar,” ujarnya disambut tawa jamaah.

Mundakir menyoroti kondisi di Indonesia yang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018, jumlah masyarakat yang mengalami gangguan jiwa mencapai 9,8 persen, namun melonjak menjadi 16 persen pada 2024.

“Lonjakan itu hampir dua kali lipat. Orang yang depresi meningkat drastis dari 6,6 persen menjadi 17,1 persen,” ungkapnya.

Ia menambahkan, “Jangan kaget kalau setiap hari kita mendengar pembunuhan, perceraian, atau pelecehan. Itu bukan sekadar kriminal, tapi tanda masyarakat kita sedang tidak sehat jiwanya.”

Dalam perspektif Islam, Mundakir mengutip pandangan ulama Mesir, Hasan Muhammad Asyarkawi, yang menyebut ada sembilan penyakit jiwa: riya (pamer), marah, lalai, waswas, putus asa, rakus, tertipu (ghurur), sombong, serta iri dan dengki.

“Kalau orang sudah pamer, suka marah, mudah iri, itu tanda jiwanya tidak sehat. Islam sudah lama memberi panduan tentang kesehatan mental ini,” ujarnya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Menurutnya, riak (pamer) adalah penyakit jiwa yang berbahaya karena termasuk bagian dari syirik kecil.

“Ketika kita beramal tapi ingin dipuji orang, itulah riya. Amal itu tidak akan berpahala, hanya dapat pujian manusia,” jelasnya sambil menukil ayat Al-Qur’an yang memperingatkan agar umat Islam tidak membatalkan pahala sedekah dengan riya.

Penyakit kedua yang disorotnya adalah marah berlebihan. Ia menjelaskan bahwa marah sering timbul karena keinginan tidak sesuai kenyataan.

“Kalau marah, diamlah. Itu yang diajarkan Islam. Marah bisa mematikan akal sehat dan mendorong tindakan keji seperti kekerasan bahkan pembunuhan,” tegasnya.

Mundakir mengajak jamaah untuk meningkatkan iman dan ilmu sebagai jalan menjaga kesehatan jiwa.

“Iman dan Islam itu nikmat besar. Dengan iman, kita bisa terhindar dari penyakit jiwa yang membuat banyak orang terjerumus dalam kejahatan,” katanya.

Dia menegaskan pentingnya kegiatan seperti pengajian sebagai “charger spiritual” untuk memperkuat batin dan ketenangan hati.

“Mari kita terus ngaji. Dengan ilmu dan iman, hati kita akan tenang dan pikiran kita sehat,” tandasnya.

Mundakir menegaskan bahwa orang beriman adalah sosok yang “ajaib”, karena apa pun kondisi yang dialaminya selalu berbuah kebaikan.

“Kalau mendapat nikmat, dia bersyukur. Kalau diuji, dia bersabar. Maka hidupnya selalu positif. Itulah orang mukmin yang sejati,” ujarnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡