Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof. Biyanto Ingatkan Bahaya Generasi Lemah di Era Digital

Iklan Landscape Smamda
Prof. Biyanto Ingatkan Bahaya Generasi Lemah di Era Digital
Prof. Biyanto saat menyampaikan khotbah Jumat di Masjid Al Badar, Kertomenangal Surabaya. Foto: Agus Wahyudi/PWMU.CO
Oleh : Agus Wahyudi

Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Prof Biyanto, MA mengingatkan bahaya lahirnya generasi lemah dan cemas akibat pengaruh media digital. Hal itu disampaikan dalam Khotbah Jumat di di Masjid Al Badar Kertomenanggal, Surabaya, Jumat (10/4/2026).

Biyanto mengawali dengan mengutip pesan mendalam dari Surat An-Nisa ayat 9. Ayat tersebut menjadi peringatan bagi setiap orang tua agar tidak meninggalkan generasi dalam kondisi lemah.

Adapun terjemahan Surat An-Nisa ayat 9 adalah sebagai berikut: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya). Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

Biyanto lalu menjelaskan, para mufasir memaknai ayat ini sebagai pesan moral yang sangat kuat, terutama dalam konteks tanggung jawab orang tua.

Dalam beberapa tafsir, ayat ini juga dikaitkan dengan situasi ketika seseorang menjelang wafat (nazak), di mana dia telah membagikan harta bendanya. Namun, pesan utama ayat tersebut bukan sekadar soal warisan materi.

“Yang harus kita khawatirkan bukan hanya harta, tetapi kondisi anak-anak kita setelah kita tiada. Lemah di sini bukan semata soal ekonomi, tetapi juga lemah dalam keimanan, ilmu, dan karakter,” tegas Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya itu.

Menurutnya, kelalaian dalam mendidik anak akan berdampak besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masa depan bangsa. Anak-anak yang tumbuh tanpa bekal yang cukup berisiko menjadi generasi yang tidak mampu bersaing.

“Jangan sampai anak-anak kita hanya menjadi penonton, bukan pemain. Menjadi tamu di negeri sendiri, bukan tuan rumah,” ujarnya.

Biyanto menekankan bahwa anak adalah generasi harapan yang harus dipersiapkan untuk hidup lebih baik dari orang tuanya.

Karena itu, ayat tersebut mengandung pesan agar setiap orang tua memiliki rasa “takut” dalam arti positif, yakni kekhawatiran jika anak-anaknya tumbuh dalam kondisi lemah.

Dia juga mengaitkan pesan tersebut dengan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW dalam menyempurnakan akhlak. Pendidikan karakter, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam membangun generasi yang tangguh.

Lebih lanjut, Prof. Biyanto menyinggung fenomena global yang diangkat dalam buku karya Jonathan Haidt tentang “generasi cemas” (anxious generation). Buku tersebut menggambarkan perubahan drastis pada pola hidup anak-anak akibat ketergantungan terhadap gadget dan dunia digital.

SMPM 5 Pucang SBY

“Dulu anak-anak kita bergantung pada alam. Mereka bermain di luar, berinteraksi secara nyata. Sekarang bergeser ke dunia maya. Bahkan muncul istilah ‘no gadget, no life’,” paparnya.

Perubahan ini, lanjutnya, membawa dampak serius. Anak-anak menjadi kurang bergerak secara fisik, lebih rentan secara mental, serta mudah mengalami kecemasan.

Dia juga mengutip hasil penelitian UI yang menunjukkan meningkatnya kerentanan mental pada anak, termasuk kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri. Fenomena ini bahkan telah terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

“Anak-anak kita hari ini mudah cemas, mudah waswas, dan rapuh. Ini harus menjadi perhatian serius,” katanya.

Merespons kondisi tersebut, Biyanto mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai mendorong pemanfaatan media sosial secara positif agar anak-anak lebih aktif dan produktif, bukan sekadar menghabiskan waktu bermain gim di tempat tidur.

Namun demikian, dia menegaskan bahwa tantangan media digital tidak bisa dihadapi hanya oleh pemerintah. Perlu keterlibatan semua pihak, terutama keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.

“Dulu kita hanya mengenal tiga pusat pendidikan: keluarga, sekolah, dan lingkungan. Sekarang bertambah satu lagi yang sangat kuat pengaruhnya, yaitu media, wabil khusus media sosial,” jelasnya.

Biyanto juga mengingatkan, mendidik generasi kuat bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban. Orang tua harus memastikan anak-anak tumbuh dengan iman, ilmu, dan ketahanan mental yang kokoh.

“Wajib hukumnya bagi kita untuk mendidik anak-anak menjadi generasi yang kuat, bukan generasi yang cemas,” pungkasnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 10/04/2026 18:28
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡