Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Fitnah Akhir Zaman Kian Nyata: Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai Umat Islam

Iklan Landscape Smamda
Fitnah Akhir Zaman Kian Nyata: Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai Umat Islam
Foto: Canva
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Dunia terus bergerak dengan kecepatan yang sulit dibayangkan. Perubahan datang silih berganti, seolah manusia tidak lagi diberi kesempatan untuk berhenti sejenak dan merenung. Namun di balik kemajuan yang mengagumkan, banyak tanda yang mengingatkan kita pada peringatan Rasulullah saw tentang fitnah akhir zaman.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan datang hari kiamat hingga fitnah tampak, dan kebohongan dibenarkan serta kebenaran didustakan.” HR. Ahmad)

Hadis ini terasa semakin relevan dengan kondisi saat ini. Kita menyaksikan bagaimana informasi menyebar begitu cepat. Seseorang dapat menjadi terkenal hanya karena sensasi, sementara orang yang berkata jujur justru sering dicurigai atau diserang.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihatnya di media sosial. Tidak sedikit orang yang menyebarkan berita tanpa memeriksa kebenarannya. Sebuah informasi palsu yang dikemas menarik sering kali lebih cepat dipercaya daripada fakta yang membutuhkan penjelasan panjang.

Bahkan dalam lingkungan kerja atau pergaulan, seseorang yang berusaha berkata apa adanya terkadang dianggap tidak sejalan dengan kelompok. Sebaliknya, mereka yang pandai memainkan opini justru memperoleh simpati dan dukungan.

Allah SWT telah mengingatkan: “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran kebenaran bukanlah banyaknya pengikut atau suara mayoritas, melainkan kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Perang yang Tidak Selalu Menggunakan Senjata

Dahulu manusia memahami perang sebagai pertempuran fisik. Kini bentuknya semakin beragam. Perang informasi, manipulasi opini, dan pengendalian persepsi menjadi bagian dari kehidupan modern.

Seseorang bisa dibentuk cara berpikirnya melalui konten yang ia konsumsi setiap hari. Tanpa disadari, standar benar dan salah perlahan berubah sesuai arus yang berkembang.

Dalam lingkup keluarga, misalnya, banyak orang tua yang mengeluhkan anak-anak mereka lebih percaya pada informasi dari internet dibandingkan nasihat yang diberikan di rumah. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh narasi dalam membentuk cara pandang manusia.

Allah SWT berfirman: “Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali ‘Imran: 54)

Ayat ini mengingatkan bahwa sehebat apa pun rekayasa manusia, kekuasaan Allah tetap berada di atas segalanya.

Kemajuan Teknologi dan Kekosongan Hati

Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi memberikan banyak manfaat. Pekerjaan menjadi lebih mudah, komunikasi semakin cepat, dan ilmu pengetahuan semakin luas. Namun kemajuan tersebut tidak selalu diiringi ketenangan jiwa.

Kita sering menjumpai seseorang yang memiliki perangkat canggih, pekerjaan mapan, dan kehidupan yang tampak sempurna di media sosial, tetapi tetap merasa gelisah dan tidak bahagia. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, namun hatinya tenang karena dekat dengan Allah.

Imam Ibnul Qayyim pernah mengingatkan bahwa hati yang rusak akan membuat dunia terasa sempit meskipun segala fasilitas tersedia.

Ilustrasi sederhana dapat kita lihat pada seseorang yang terus-menerus mengejar kenaikan jabatan. Ketika jabatan itu berhasil diraih, ia justru kembali merasa kurang dan mengejar target berikutnya. Kepuasan yang dicari tidak pernah benar-benar ditemukan karena hatinya bergantung pada dunia yang sifatnya sementara.

Allah SWT berfirman: “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Al-Hadid: 20)

SMPM 5 Pucang SBY

Salah satu ujian terbesar akhir zaman adalah ketika kebenaran terasa asing.

Orang yang berusaha menjaga prinsip sering dianggap kaku. Mereka yang menolak korupsi, manipulasi, atau ketidakjujuran terkadang justru tersingkir dari lingkungan yang sudah terbiasa dengan praktik tersebut.

Di sekolah, misalnya, seorang siswa yang menolak menyontek bisa menjadi bahan ejekan teman-temannya. Di dunia kerja, pegawai yang mempertahankan integritas kadang dianggap menghambat kepentingan kelompok tertentu.

Imam Al-Ghazali mengatakan: “Kerusakan terbesar bukan ketika kebatilan itu kuat, tetapi ketika kebenaran kehilangan keberanian untuk berdiri.”

Karena itu, tantangan seorang mukmin bukan hanya mengetahui kebenaran, tetapi juga berani mempertahankannya.

Tetap Teguh di Tengah Fitnah

Rasulullah SAW memberikan pedoman yang jelas: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh bersikap acuh terhadap kemungkaran. Setiap orang memiliki peran sesuai kemampuan dan kedudukannya.

Mungkin kita tidak mampu mengubah keadaan dunia, tetapi kita masih bisa menjaga keluarga, mendidik anak-anak dengan nilai Islam, menjaga kejujuran dalam pekerjaan, serta menebarkan kebaikan di lingkungan sekitar.

Persiapan Terpenting Seorang Mukmin

Akhir zaman bukan semata-mata persoalan kapan dunia berakhir. Yang lebih penting adalah bagaimana keadaan iman kita ketika ajal datang menjemput.

Banyak orang sibuk merencanakan masa depan duniawi: pendidikan, pekerjaan, rumah, dan investasi. Semua itu penting. Namun jangan sampai kita lupa mempersiapkan bekal yang jauh lebih panjang, yaitu kehidupan akhirat.

Para ulama salaf memberikan nasihat yang sangat berharga: “Tetaplah berada di atas kebenaran meskipun engkau berjalan sendirian.”

Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan manusia bukan banyaknya harta, jabatan, atau pengikut, melainkan iman yang tetap terjaga hingga akhir hayat.

Maka di tengah derasnya fitnah zaman, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah SWT agar hati kita diteguhkan di atas agama-Nya, dijauhkan dari tipu daya dunia, serta diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.

Ya Allah, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Lindungilah kami dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi. Jadikan kami hamba-hamba-Mu yang istiqamah hingga akhir kehidupan. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 31/05/2026 14:24
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu