Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hidup Sederhana Bukan Berarti Miskin, tetapi Tetap Setia kepada Allah dalam Nikmat dan Kesulitan

Iklan Landscape Smamda
Hidup Sederhana Bukan Berarti Miskin, tetapi Tetap Setia kepada Allah dalam Nikmat dan Kesulitan
Ilustrasi: OpenAI

Hidup sederhana dalam Islam tidak identik dengan kemiskinan, hidup serba kekurangan, atau sengaja menjauh dari kenikmatan dunia. Kesederhanaan justru terletak pada kemampuan seseorang menempatkan setiap pemberian Allah sesuai dengan fungsi dan tuntunan syariat.

Ketika memperoleh kebahagiaan, seorang Muslim tidak boleh larut hingga melupakan Allah. Sebaliknya, ketika mendapatkan kesulitan, ia tidak semestinya menjauh dari Allah atau meninggalkan prinsip-prinsip Islam.

Pesan tersebut disampaikan Ustaz H. Muhammad Yasri, MHI, mubaligh Muhammadiyah, dalam kajian rutin Gamis Malam.

Dalam kajian yang membahas Riyadus Shalihin, Ustaz Yasri menguraikan makna hidup sederhana sekaligus cara seorang Muslim menyikapi kemakmuran, kesengsaraan, ujian, dan berbagai keadaan kehidupan.

Menurutnya, ukuran kesederhanaan bukan terletak pada banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki. Ukurannya adalah bagaimana manusia menggunakan apa yang diberikan Allah.

“Dikasih nikmat bertambah taat, dikasih kesengsaraan sabar kepada Allah,” demikian inti pesan yang disampaikan Ustaz Yasri dalam kajiannya yang dilansir di kanal Youtube Masjid Baitul Muttaqien Keputih Surabaya.

Dia lalu menjelaskan, kehidupan dunia merupakan ruang bagi manusia untuk menjalani berbagai aktivitas yang pada akhirnya memiliki konsekuensi di akhirat. Karena itu, manusia membutuhkan pembekalan agar tidak kehilangan arah.

Pembekalan tersebut, menurutnya, bukan semata-mata hasil pemikiran manusia, melainkan bersumber dari ilmu Allah dan dicontohkan melalui kehidupan Rasulullah Muhammad saw.

Islam memberikan pedoman yang menyentuh seluruh kehidupan manusia, baik yang tampak dalam perilaku maupun yang berada di dalam hati.

SMPM 5 Pucang SBY

Karena itu, niat menjadi bagian penting dalam setiap amal. Perbuatan lahiriah harus berjalan bersama dengan gerak batin berupa niat, keinginan, dan tujuan yang benar.

“Makanya disebut niatan. Apa yang kita tuju, apa yang kita kehendaki dengan perbuatan lahir tadi,” jelasnya.

Dari sini, Ustz Yasri mengajak jemaah melihat kembali cara menyikapi berbagai keadaan hidup. Ketika Allah memberikan kebahagiaan, seseorang semestinya menggunakan kebahagiaan itu sebagai modal untuk semakin dekat kepada-Nya.

Kekayaan, kesehatan, jabatan, kemudahan, dan berbagai bentuk kenikmatan tidak boleh membuat manusia lupa terhadap sumber nikmat tersebut.

Sebaliknya, ketika seseorang menghadapi kesulitan, kesengsaraan, atau bencana, ia harus tetap bertahan dalam ketaatan.

“Kalau diberi kebahagiaan ya gunakan kebahagiaan itu tambah dekat kepada Allah. Jangan lupa dengan kebahagiaan itu. Gunakan modal taat,” katanya.

Dengan demikian, terang Ustaz Yasri, kesederhanaan bukanlah soal seberapa banyak seseorang memiliki harta. Kesederhanaan adalah kemampuan menjaga keseimbangan hati ketika keadaan berubah. Saat lapang, tetap taat. Saat sempit, tetap sabar.

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu