Kekayaan Seharusnya Menambah Ketaatan
Ustaz Yasri memberikan gambaran sederhana. Ketika seseorang diberi kekayaan, kekayaan tersebut seharusnya menjadi modal untuk semakin mendekat kepada Allah.
Harta bukan sekadar untuk dinikmati sendiri. Ada tanggung jawab sosial di dalamnya. Kekayaan semestinya melahirkan kepedulian, termasuk melalui sedekah dan berbagi dengan sesama.
“Taruhlah dikasih kekayaan. Saya akan bermodalkan kekayaan ini saya dan orang-orang yang saya kenal untuk semakin dekat dengan Allah,” ujarnya.
Menurut Ustaz Yasri, manusia memiliki kecenderungan untuk merasa tidak pernah cukup. Ketika memperoleh sesuatu yang menyenangkan, ia dapat menjadi kikir. Namun, ketika mengalami kesulitan, ia justru mudah mengeluh.
Dia mengaitkannya dengan gambaran manusia dalam Al-Qur’an yang mudah gelisah ketika menghadapi kesulitan dan cenderung menahan kebaikan ketika mendapatkan kenikmatan.
Padahal, menurut dia, kebahagiaan dan kesengsaraan sama-sama dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas iman.
Allah menguji manusia dengan kemudahan. Allah juga menguji manusia dengan kesulitan. Yang membedakan bukan jenis ujiannya, melainkan bagaimana manusia merespons ujian tersebut.
Kesalahpahaman lain yang perlu dihindari adalah anggapan bahwa kesulitan selalu berarti Allah sedang menghinakan seseorang.
Ustaz Yasri mengingatkan agar manusia tidak menjadikan terpenuhi atau tidak terpenuhinya keinginan sebagai ukuran apakah Allah sedang memuliakan atau menghinakan dirinya.
Sebab, bisa jadi sesuatu yang sangat diinginkan justru tidak menyelamatkan. Sebaliknya, sesuatu yang tidak disukai justru menjadi jalan keselamatan.
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh hanya melihat hasil yang tampak di permukaan. Ketika mendapatkan kemakmuran, ia perlu bertanya: apakah kemakmuran itu membuatnya semakin dekat kepada Allah atau justru menjauhkannya?
Ketika mendapatkan kesulitan, ia juga perlu melakukan introspeksi: apakah kesulitan tersebut membuatnya semakin sabar dan mendekat kepada Allah atau justru membuatnya meninggalkan jalan Islam?
“Dicoba dengan kemakmuran yang cepat naik. Dicoba oleh Allah dengan kesengsaraan. Dicoba dengan kematian malah gagal,” tuturnya.
Karena itu, ujian kehidupan tidak otomatis menjadi buruk. Kesalahan dapat muncul ketika manusia salah dalam menyikapi ujian tersebut.
Hidup Sederhana Bukan Menyiksa Diri
Dalam pandangan Ustaz Yasri, Islam tidak mengajarkan manusia untuk sengaja hidup sengsara atau membuat standar kemiskinan sendiri demi dianggap sederhana. Hidup sederhana bukan berarti menolak kenikmatan dunia.
“Jadi hidup sederhana itu bukan bikin standar sendiri seperti bihara-biara, hidup di biara. Hidup sengsara, menyiksa sendiri bukan hidup sengsara, tapi hidup itu sesuai dengan takaran syariatnya,” jelasnya.
Rasulullah saw menjadi teladan dalam hal ini. Kehidupan Rasulullah harus dipahami sesuai konteks keadaan yang dihadapi.
Ketika berada dalam kondisi sulit, Rasulullah bersabar. Ketika mendapatkan kemudahan, beliau tetap setia kepada Allah dan tidak menjadikan kemakmuran sebagai alasan untuk melupakan tujuan hidup.
Dengan demikian, kesederhanaan bukan berarti menolak fasilitas, kekayaan, atau kemakmuran. Yang lebih penting adalah bagaimana semua itu difungsikan.
Kekayaan boleh dimiliki. Kemakmuran boleh dinikmati. Fasilitas boleh digunakan. Namun, semuanya tidak boleh mengubah orientasi hidup seorang Muslim. Tujuannya tetap Allah dan jalannya tetap Islam.
Untuk memperkuat penjelasan tersebut, Yasri menguraikan hadis yang diriwayatkan Abu Musa Al-Asy’ari tentang peninggalan Rasulullah SAW yang disimpan dan ditunjukkan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra.
Di antara peninggalan tersebut adalah pakaian Rasulullah yang terdiri atas pakaian bagian atas dan sarung. Pakaian itu disebut memiliki bahan yang kasar.
Bagi Ustaz Yasri, kisah tersebut bukan semata-mata untuk menunjukkan kesederhanaan pakaian Rasulullah.
Ada pesan yang jauh lebih penting: kemakmuran tidak boleh membuat manusia kehilangan kesadaran sejarah dan melupakan perjuangan generasi sebelumnya.
Ketika Islam kemudian berkembang dan mencapai kemakmuran, kondisi tersebut justru harus diwaspadai. Sebab, manusia bisa saja berubah ketika memperoleh kekuasaan dan kekayaan.
Ustaz Yasri mengingatkan, sejarah menunjukkan bagaimana sebuah peradaban dapat runtuh bukan semata-mata karena kekurangan, tetapi karena orang-orang yang hidup dalam kemewahan mulai melupakan pesan-pesan Allah.
Dia mencontohkan kehancuran Baghdad pada masa Abbasiyah ketika kekuasaan berada dalam kondisi berkembang, tetapi kehidupan masyarakat mengalami persoalan serius karena sebagian manusia terlena oleh kemakmuran.
Dari pembahasan tentang peninggalan Rasulullah, Ustaz Yasri kemudian membawa jemaah pada pentingnya sejarah.
Menurutnya, peninggalan sejarah memiliki fungsi sebagai pengingat. Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi dapat membangkitkan kesadaran generasi sekarang.
Ustaz Yasri menilai, generasi muda perlu diperkenalkan dengan berbagai peninggalan sejarah agar mengetahui bagaimana generasi terdahulu memperjuangkan nilai, agama, dan bangsa. Karena itu, anak-anak perlu diajak mengunjungi museum dan tempat-tempat bersejarah.
Dalam konteks Muhammadiyah, Yasri menyebut pentingnya mengenalkan tokoh-tokoh perjuangan kepada generasi muda, termasuk Jenderal Soedirman.
Menurutnya, generasi Muhammadiyah perlu mengetahui bahwa perjuangan tokoh-tokoh terdahulu tidak lahir dari kemudahan. Ada pengorbanan, keterbatasan, dan keteguhan yang menyertai perjuangan mereka.
Dia juga menyinggung KH. Agus Salim yang pernah menjalankan diplomasi untuk mendapatkan pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia dalam kondisi serba terbatas.
Sejarah, menurut Ustaz Yasri, dapat menjadi pemantik kesadaran pribadi sekaligus kesadaran dalam kehidupan bernegara.





0 Tanggapan
Empty Comments