Muhammadiyah dan Semangat Generasi Awal
Pesan tentang kesederhanaan dan pengorbanan kemudian diarahkan Yasri kepada kehidupan Persyarikatan Muhammadiyah.
Dia mengingatkan perjuangan KH. Ahmad Dahlan yang dilakukan dengan pengorbanan besar. Bahkan, dalam ceramahnya, Yasri menyebut Kiai Dahlan sampai menjual perabot rumah untuk mendukung kegiatan pendidikan dan pengajian para guru.
“Sekarang guru-gurunya sudah terpenuhi seharusnya lebih ingat generasi awalnya sehingga kepeduliannya itu lebih kuat,” ujar Ustaz Yasri.
Bagi di, perjalanan panjang Muhammadiyah seharusnya membuat warga Persyarikatan semakin memahami makna pengabdian.
Ustaz Yasri menekankan pentingnya menghidupkan Muhammadiyah, bukan menjadikan Muhammadiyah sebagai tempat mencari kehidupan.
Ungkapan tersebut bukan berarti warga Muhammadiyah tidak boleh mendapatkan hak profesional. Sebaliknya, profesionalisme dalam pengelolaan amal usaha harus terus berjalan.
Namun, semangat dasarnya tetap pengabdian. Muhammadiyah harus dipahami sebagai rumah perjuangan yang telah memberikan kehidupan kepada banyak orang melalui pendidikan, kesehatan, sosial, dan berbagai amal usaha lainnya.
Karena itu, jabatan dalam Persyarikatan tidak semestinya dijadikan kendaraan untuk ambisi pribadi.
Ustaz Yasri kemudian menghubungkan sejarah dengan identitas Muhammadiyah. Menurutnya, warga Muhammadiyah sebenarnya tidak membutuhkan peringatan yang hanya bersifat seremonial jika setiap hari mereka mampu mengingat perjuangan para pendahulu.
Tujuan memperingati bukan sekadar mengingat sebuah tanggal atau nama tokoh, tetapi mendapatkan pelajaran dari tokoh yang diperingati.
“Tujuannya untuk memperingati itu supaya kita dapat peringatan dari yang kita peringati,” katanya.
Dengan cara pandang tersebut, perjuangan Rasulullah, para sahabat, dan para pendiri Muhammadiyah bukan sekadar bagian dari sejarah. Perjuangan mereka adalah cermin.
Generasi sekarang dapat melihat bagaimana orang-orang terdahulu menghadapi kesulitan tanpa kehilangan keyakinan dan bagaimana mereka menghadapi kemakmuran tanpa kehilangan arah.
Ketika Kemakmuran Menjadi Ujian
Salah satu pesan kuat dalam kajian tersebut adalah bahwa kemakmuran juga merupakan ujian.
Manusia sering kali menganggap kesulitan sebagai ujian, tetapi lupa bahwa kekayaan, jabatan, kenyamanan, dan keberhasilan juga merupakan ujian yang tidak kalah berat.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, kemakmuran dapat menjadi ujian yang lebih berbahaya karena membuat manusia merasa aman dan lupa bahwa semua yang dimilikinya berasal dari Allah.
Yasri mencontohkan manusia yang ketika keinginannya terpenuhi langsung menyimpulkan bahwa Allah sedang memuliakannya. Sebaliknya, ketika rezekinya dibatasi, ia menganggap Allah sedang menghinakannya.
Menurut Ustaz, cara berpikir semacam itu keliru. Keinginan yang terpenuhi belum tentu tanda kemuliaan. Keinginan yang tidak terpenuhi juga belum tentu tanda kehinaan.
Yang harus dilihat adalah dampaknya terhadap hubungan manusia dengan Allah. Jika sebuah kenikmatan membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, maka kenikmatan itu menjadi jalan kebaikan.
Jika sebuah kesulitan membuat seseorang semakin sabar dan tetap berada dalam ketaatan, maka kesulitan tersebut juga dapat menjadi jalan kebaikan.
Yasri kemudian mengajak jemaah melihat dunia tidak hanya dari tampilan luarnya.
Menurutnya, dunia dapat terlihat indah di permukaan, tetapi menyimpan pelajaran di balik setiap kejadian.
Manusia cenderung melihat apa yang tampak. Sementara hati semestinya mampu membaca makna di balik peristiwa.
Karena itu, seseorang tidak boleh terjebak pada ukuran lahiriah semata. Kekayaan tidak otomatis berarti kemuliaan. Kemiskinan tidak otomatis berarti kehinaan. Kekuasaan tidak otomatis berarti keberhasilan. Kesulitan tidak otomatis berarti kegagalan.
“Semua itu bergantung pada bagaimana manusia menggunakan dan menyikapinya,” tandas Ustaz Yasri.





0 Tanggapan
Empty Comments