Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rektor UM Surabaya Ungkap Luka Psikologis Perawat Migran di Forum Internasional

Iklan Landscape Smamda
Rektor UM Surabaya Ungkap Luka Psikologis Perawat Migran di Forum Internasional
Rektor UM Surabaya Dr. Mundakir memaparkan hasil penelitian di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia. Foto: Dok/Pri
pwmu.co -

Mobilitas perawat Indonesia ke berbagai negara terus meningkat seiring tingginya kebutuhan tenaga kesehatan global. Indonesia kini menjadi salah satu pemasok perawat terbesar di kawasan Asia–Pasifik dan Timur Tengah. Namun, di balik kontribusi besar tersebut, masih ada persoalan yang jarang dibahas: kesehatan mental perawat migran, terutama setelah mereka kembali ke tanah air.

Isu inilah yang disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Dr. Mundakir, dalam forum internasional 6th Asian Congress in Nursing Education (ACiNE) bertema “New Frontiers in Nursing Education: Bridging Technology and Practice” di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia, Senin–Rabu (17–19/2025).

Dalam paparannya, Mundakir mengungkapkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 yang mencatat Indonesia memiliki lebih dari 511.000 perawat, dengan sekitar 300.000 di antaranya aktif bekerja sebagai perawat klinis.

“Sebanyak 1,02 persen perawat Indonesia kini bekerja di mancanegara, mulai dari Jepang, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Singapura, hingga Belanda dan Amerika Serikat. Migrasi perawat telah menjadi isu strategis yang berdampak pada negara pengirim dan penerima,” jelasnya.

Namun menurutnya, perhatian publik dan akademik masih terfokus pada fase sebelum keberangkatan dan selama penempatan. Sementara itu, fase setelah kepulangan—yang justru sangat menentukan keberlanjutan karier dan kesehatan mental perawat—masih minim kajian.

“Fase post-migration adalah titik penting yang menentukan apakah perawat dapat kembali terintegrasi, mempertahankan kompetensinya, dan terus berkontribusi pada sistem kesehatan nasional,” tegas Mundakir.

Kesenjangan Pengetahuan dan Realitas Stres di Lapangan

Menurut Mundakir, penelitian terkait stres dan mekanisme koping perawat Indonesia di luar negeri sejauh ini masih terbatas.

“Padahal tantangan yang dihadapi begitu kompleks. Di antaranya, tekanan finansial, ekspektasi keluarga, hambatan bahasa, perbedaan budaya kerja, hingga relasi sosial yang kadang tidak bersahabat,” tanda Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim ini.

Dia kemudian memaparkan hasil studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa 67 persen perawat Indonesia mengalami stres moderat hingga tinggi pada dua tahun pertama bekerja di luar negeri. Tekanan tersebut diperparah oleh berbagai faktor, antara lain:

  • Workplace bullying yang menurunkan kepuasan kerja hingga 45 persen.
  • Peningkatan potensi turnover sebesar 30 persen.
  • Kenaikan risiko kesalahan medis hingga 25 persen akibat tekanan mental berkepanjangan.

Penelitian yang dipresentasikan Mundakir menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD). Pengolahan data dilakukan menggunakan NVivo 12 dengan proses coding bertingkat, peninjauan sejawat, pembacaan berulang, hingga penyusunan tema akhir.

Hasilnya, muncul tiga tema besar yang menggambarkan kondisi mental perawat Indonesia selama bekerja di luar negeri maupun saat kembali ke Tanah Air.

1. Tekanan Kerja Berat dan Berkelanjutan

Perawat mengaku harus terus tampil profesional di tengah budaya kerja yang sangat berbeda. Tuntutan kinerja tinggi, ketidakpastian, dan adaptasi budaya menimbulkan kelelahan mental yang berkepanjangan.

“Tidak sedikit yang mengalami kecemasan dan rasa takut berlebih, terutama terkait evaluasi kerja dan komunikasi lintas budaya,” tegasnya.

2. Distres Mental yang Mengganggu Kehidupan Pribadi

Banyak perawat mengalami gangguan tidur, trauma, rasa terisolasi, penurunan berat badan, dan kesulitan berkomunikasi. Kondisi bullying atau intimidasi membuat sebagian dari mereka menarik diri dan kehilangan kepercayaan diri.

Iklan Landscape UM SURABAYA

3. Mekanisme Koping yang Beragam

Ada yang mampu bertahan dengan membangun jejaring sosial, mengembangkan hobi, atau melakukan pembelajaran mandiri.

“Namun sebagian lainnya memilih menyerah, menarik diri, bahkan memutuskan pulang sebelum kontrak berakhir karena tekanan mental yang terlalu berat,” katanya.

Mundakir juga menyoroti beban ganda yang harus ditanggung perawat migran: mereka adalah tenaga profesional sekaligus penopang ekonomi keluarga. Ekspektasi finansial sering kali memperberat tekanan psikologis.

Perbedaan budaya komunikasi, diskriminasi, serta minimnya dukungan institusional memperparah kondisi kesehatan mental mereka.

“Tidak jarang mereka pulang ke Indonesia dengan trauma psiko-emosional, kecemasan berlebih, isolasi sosial, hingga gangguan fisik seperti kelelahan kronis,” jabar dia.

“Dukungan pasca-migrasi sangat minim, padahal ini fase krusial,” imbuh Mundakir

Mundakir mengatakan penelitian ini memberikan kesimpulan dan rekomendasi kebijakan.

Pertama, perawat migran menghadapi tekanan multidimensi, mulai dari beban profesional hingga distres mental yang memengaruhi kehidupan sosial.

Kedua, perlindungan dan pendampingan psikologis perlu diperkuat, baik oleh organisasi profesi di Indonesia maupun institusi kesehatan di negara tujuan.

Ketiga, program dukungan pasca-migrasi harus menjadi agenda prioritas, termasuk konseling, pelatihan adaptasi ulang, dan penguatan identitas profesional setelah kembali ke Tanah Air.

Studi ini telah diterima untuk diterbitkan di jurnal internasional IJNSA (Elsevier), menandai kontribusi penting UM Surabaya dalam mendorong lahirnya kebijakan migrasi tenaga kesehatan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Dengan temuan tersebut, UM Surabaya berharap pemerintah serta organisasi profesi memperluas perhatian pada aspek psikologis perawat migran, sehingga mereka tidak hanya menjadi penopang sistem kesehatan global, tetapi juga terlindungi secara mental dan sosial.

Namun demikian, Mundakir menegaskan bahwa peluang bekerja sebagai tenaga profesional di luar negeri tetap menjadi kesempatan besar bagi perawat Indonesia.

“Meski ada masalah psikologis, peluang bekerja profesional di luar negeri merupakan tantangan sekaligus kesempatan yang sangat menjanjikan bagi perawat untuk meningkatkan kapasitas, kompetensi, dan memperoleh jaminan finansial yang lebih baik,” ujar Mundakir. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu