Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr H Hidayatullah MSi, hadir sebagai pemateri dalam pertemuan triwulan III Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulangan, Jumat (5/9/2025).
Acara yang digelar di Masjid Baiturrahman SD Muhammadiyah 2 Tulangan itu sekaligus menjadi forum pembinaan bagi guru dan karyawan amal usaha Muhammadiyah (AUM) di lingkungan PCM Tulangan.
Pertemuan berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 10.30, dihadiri pimpinan majelis dan bidang PCM Tulangan, kepala sekolah dari jenjang TK Aisyiyah, SLB, SMP, SMA, hingga SMK, serta seluruh guru dan karyawan AUM. Dalam forum tersebut, masing-masing kepala sekolah menyampaikan laporan perkembangan sekolah di hadapan jajaran PCM dan peserta yang hadir.
Dalam kesempatan itu, Hidayatullah membawakan materi bertema Etos Kerja Profesional Guru dan Karyawan Amal Usaha Muhammadiyah. Ia mengawali paparannya dengan mengutip pesan almarhum Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sekaligus tokoh Muhammadiyah.
“Dalam hidup ini boleh jadi kita tidak punya apa-apa, tapi kita harus punya mimpi, cita-cita, dan keinginan masa depan. Sebagai guru dan karyawan Muhammadiyah, mimpi itu bukan hanya untuk diri kita, tetapi juga untuk masa depan sekolah dan amal usaha kita,” tegasnya.
Menurutnya, mimpi itu harus diwujudkan dengan kesungguhan dan kerja keras yang menjadi bagian dari etos kerja. Ia menjelaskan, istilah etos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sikap, watak, karakter, dan keyakinan seseorang.
Dalam Islam, etos kerja dimaknai sebagai sikap dan keyakinan yang mendorong seorang hamba Allah (abdullah) sekaligus khalifah di muka bumi untuk berkontribusi bagi kemaslahatan umat.
“Guru dan karyawan Muhammadiyah menjalankan tugas kekhalifahan. Merebut masa depan amal usaha dan sekolah adalah bagian dari amanah itu,” terangnya.
Lebih lanjut, Hidayatullah menekankan pentingnya profesionalisme yang meliputi tujuan, komitmen, tanggung jawab, serta perilaku yang mencerminkan kualitas sebuah profesi.
“Profesionalisme bukan sekadar datang mengajar atau bekerja, tetapi memberi makna penting bagi lembaga. Orientasi kita bukan sekadar ujroh (upah), tapi juga ajrun (pahala). Inilah yang membedakan amal usaha Muhammadiyah dengan lembaga lain,” jelas mantan Kepala SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo itu.
Ia juga menegaskan bahwa istilah amal usaha memiliki filosofi mendalam. Amal diletakkan lebih dulu agar setiap aktivitas di lingkungan Muhammadiyah berorientasi ibadah, sedangkan usaha adalah instrumen untuk menjaga keberlanjutan pelayanan kepada umat.
“Yang harus kita munculkan adalah spirit dan semangat dalam mengabdi. Inilah modal utama membangun masa depan amal usaha Muhammadiyah yang lebih gemilang,” pungkas Rektor Umsida tiga periode tersebut.





0 Tanggapan
Empty Comments