Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Reorientasi Metodologi: Menggagas Model Evaluasi PAI yang Holistik di Era Disrupsi

Iklan Landscape Smamda
Reorientasi Metodologi: Menggagas Model Evaluasi PAI yang Holistik di Era Disrupsi
Mehamad Shaleh Gunung, Mahasiswa Pascasarjana PAI UMM. (Dok. Pribadi/PWMU.CO)
Oleh : Mehamad Shaleh Gunung NIM: 202420290110121. Program Studi Pendidikan Agama Islam Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang
pwmu.co -

Salah satu arah pengembangannya adalah penyusunan instrumen penilaian afektif yang ilmiah dan terstruktur, seperti skala sikap, rubrik perilaku, serta lembar observasi yang memiliki indikator jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis.

Instrumen semacam ini memungkinkan pendidik untuk menilai karakter religius, kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab siswa secara lebih objektif, tidak sekadar berdasarkan catatan anekdot yang sporadis dan subjektif. Dengan demikian, evaluasi afektif tidak lagi dianggap abstrak, melainkan dapat diukur secara sistematis.

Selain itu, penerapan self-assessment dalam bentuk muhasabah merupakan inovasi evaluatif yang selaras dengan nilai-nilai spiritual Islam. Melalui evaluasi diri, peserta didik dilatih untuk merefleksikan sikap, niat, dan perilakunya secara jujur dan bertanggung jawab.

Konsep muraqabah—kesadaran akan pengawasan Allah—dapat diintegrasikan dalam instrumen refleksi tertulis maupun jurnal spiritual, sehingga evaluasi tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol eksternal, tetapi juga membangun kesadaran moral internal.

Pendekatan ini sekaligus menumbuhkan kejujuran intelektual dan spiritual yang menjadi fondasi karakter muslim beradab.

Lebih jauh, evaluasi berbasis portofolio dan proyek menjadi bentuk konkret penilaian otentik yang relevan dengan semangat Islam Berkemajuan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang.

Penilaian ini menekankan pada produk, proses, dan aksi nyata peserta didik, seperti proyek kepedulian sosial, praktik ibadah kontekstual, atau karya reflektif keislaman yang dapat diobservasi dan dievaluasi secara berkelanjutan.

Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan yang menekankan pentingnya mengamalkan ajaran al-Quran segera setelah dipelajari.

Dengan demikian, evaluasi PAI tidak hanya mengukur apa yang dipahami siswa, tetapi juga sejauh mana nilai-nilai Islam benar-benar hidup dalam tindakan dan kontribusi sosial mereka.

Pengembangan evaluasi pembelajaran PAI pada hakikatnya bukan sekadar persoalan teknis menyusun butir soal atau menentukan bentuk penilaian.

Lebih dari itu, ia merupakan sebuah ikhtiar epistemologis untuk memastikan bahwa proses pendidikan agama benar-benar selaras dengan tujuan dasarnya, yakni pembentukan manusia yang berkarakter dan beradab.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Evaluasi berfungsi sebagai cermin bagi efektivitas pembelajaran, sekaligus sebagai alat untuk membaca sejauh mana nilai-nilai keislaman telah terinternalisasi dalam diri peserta didik.

Tanpa evaluasi yang tepat, pendidikan agama berisiko kehilangan arah dan terjebak pada rutinitas formal yang miskin makna.

Evaluasi yang komprehensif dan holistik akan menghasilkan data yang lebih akurat, mendalam, dan bermakna bagi pendidik.

Data tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan informasi diagnostik yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan continuous improvement dalam proses pembelajaran PAI.

Melalui evaluasi yang dirancang secara reflektif, pendidik dapat mengidentifikasi kelemahan, merumuskan strategi perbaikan, serta menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan kebutuhan nyata peserta didik.

Dengan demikian, evaluasi tidak lagi dipahami sebagai alat penghakiman, tetapi sebagai instrumen pembelajaran yang bersifat formatif dan transformatif.

Sudah saatnya orientasi evaluasi PAI mengalami pergeseran paradigma yang lebih mendasar, dari sekadar menguji kemampuan mengingat dan menghafal menuju pengujian kesadaran dan pembentukan karakter.

Evaluasi harus mampu menangkap dimensi kesalehan personal dan sosial peserta didik, seperti kejujuran, empati, tanggung jawab, dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan orientasi semacam ini, PAI tidak hanya melahirkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara moral, matang secara spiritual, dan responsif terhadap tantangan sosial di sekitarnya.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu