Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rihlah ke Jantung Muhammadiyah, Aisyiyah Tegalsari Pertebal Militansi Dakwah

Iklan Landscape Smamda
Rihlah ke Jantung Muhammadiyah, Aisyiyah Tegalsari Pertebal Militansi Dakwah
Kader Aisyiyah Tegalsari di dean Masjid Gede Kauman. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Keberhasilan dakwah Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari peran strategis Aisyiyah. Sejak awal berdirinya persyarikatan ini, Aisyiyah hadir bukan sekadar pelengkap, melainkan mitra sejajar yang ikut menggerakkan dakwah pencerahan melalui pendidikan, sosial, dan penguatan umat.

Spirit sejarah itulah yang kembali diteguhkan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Tegalsari Surabaya melalui kegiatan Rihlah Dakwah ke Yogyakarta, 27–29 Desember 2025.

Rihlah dakwah yang diikuti sekitar 30 orang pengurus Aisyiyah ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan sinergi dakwah Muhammadiyah dan Aisyiyah, sekaligus ruang refleksi, evaluasi, serta penguatan organisasi menuju program dakwah yang lebih optimal pada tahun 2026.

Ketua PCA Aisyiyah Tegalsari Surabaya Nurhasanah menegaskan, rihlah dakwah ke Yogyakarta, khususnya ke Kauman, bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual dan ideologis.

“Melalui rihlah dakwah ini, kita ingin meneladani spirit perjuangan para pendiri Muhammadiyah dan Aisyiyah. Harapannya, Aisyiyah Tegalsari semakin berdaya dengan karya sebagai wujud amal saleh kita,” ujarnya.

Rombongan berangkat menggunakan jalur Kereta Api sejak Sabtu dan menempuh perjalanan sekitar 5 jam menuju Yogyakarta. Setibanya di Kota Gudeg, rombongan langsung menuju tempat penginapan di BLK PAY Aisyiyah. Meski menempuh perjalanan panjang, semangat peserta tetap menyala.

Bahkan, pada malam pertama, kegiatan langsung dilanjutkan dengan konsolidasi organisasi. Dalam kesempatan tersebut, Nurhasanah menyampaikan bahwa setidaknya ada tiga agenda utama yang menjadi fokus pembahasan rihlah dakwah ini.

“Pertama, memperkuat spirit sejarah dakwah Muhammadiyah dan Aisyiyah. Kedua, penguatan organisasi dan aktualisasinya. Ketiga, membangun pola kaderisasi yang berkelanjutan,” jelasnya.

Kegiatan malam itu kemudian ditutup dengan istirahat, sebelum peserta kembali bangkit di sepertiga malam terakhir untuk melaksanakan shalat tahajud dan dilanjutkan shalat Subuh berjamaah.

Saya sempat mengingi Kajian Subuh dalam rihlah dakwah tersebut. Saya mengajak peserta menggali nilai-nilai perjuangan para tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah.

“Di Yogyakarta inilah KH Ahmad Dahlan melakukan terobosan dakwah yang mencerahkan, di tengah kuatnya tradisi TBC, kemiskinan yang merajalela, serta kebutuhan umat akan dakwah yang menggembirakan dan memberdayakan,” terang saya.

Dakwah Muhammadiyah sejak awal dibangun di atas keteladanan, pengorbanan, dan keberanian melakukan pembaruan, namun tetap dengan pendekatan yang santun dan penuh hikmah.

Usai kajian Subuh, kebersamaan dilanjutkan dengan sarapan gudeg khas Yogyakarta, yang dinikmati penuh kehangatan dan rasa syukur.

 Spirit Tajdid Masjid Gede Kauman

Agenda rihlah dakwah kemudian berlanjut dengan berjalan pagi menuju Masjid Gede Kauman, sembari menikmati hangatnya sinar matahari pagi yang seolah memberi energi baru untuk melangkah dan mengembangkan dakwah yang menggembirakan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Masjid Gede Kauman, dengan arsitektur khas Jawa dan relief yang terawat indah, menjadi saksi bisu bagaimana dakwah Islam berakulturasi dengan budaya lokal. Di tempat inilah Muhammadiyah tumbuh dengan spirit tajdid tanpa mencabut akar kearifan budaya.

Materi berikutnya tentang wawasan historis, organisatoris, dan kaderisasi, yang kemudian menjadi bahan diskusi bersama peserta. Hal ini menekankan pentingnya penguatan ideologi tauhid sebagai fondasi gerakan Aisyiyah.

Dengan menyitir ayat-ayat Al-Qur’an seperti QS Ali Imran ayat 104 dan 190, serta QS Maryam ayat 59, suasana kajian terasa semakin khidmat dan reflektif.

“Masjid Gede Kauman ini adalah salah satu bangunan bersejarah yang menjadi bagian penting dakwah awal Muhammadiyah sejak berdiri pada 18 November 1912,” jelas saya.

Dikisahkan, salah satu peristiwa penting di masjid tersebut adalah usaha KH Ahmad Dahlan meluruskan arah kiblat shaf salat.

Meski sempat menuai penolakan, dengan dakwah yang santun dan penuh kesabaran, perubahan itu akhirnya dapat diterima oleh jamaah.

Ziarah Keteladanan di Kampung Kauman

Rihlah dakwah dilanjutkan dengan menyusuri Kampung Kauman yang asri, bersih, dan penuh nuansa persaudaraan. Baru mengawali perjalanan, rombongan terlebih dahulu mengunjungi makam Nyai Walidah Dahlan, yang tertera sebagai Pahlawan Nasional.

Kunjungan ini menghadirkan rasa bangga tersendiri bagi ibu-ibu Aisyiyah. Sosok Nyai Walidah sebagai penggerak utama Aisyiyah menjadi teladan nyata bahwa perempuan memiliki peran besar dalam dakwah, pendidikan, dan perjuangan bangsa.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan, tempat bersejarah yang dahulu digunakan sebagai pusat ibadah sekaligus pengkaderan Muhammadiyah. Di sekitar langgar inilah cikal bakal amal usaha pendidikan Muhammadiyah dirintis hingga berkembang seperti saat ini.

Meski terik matahari semakin menyengat, semangat peserta tidak surut. Rombongan terus melangkah hingga menuju Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Aisyiyah di Jalan KH Ahmad Dahlan, menutup rangkaian rihlah dakwah dengan penuh kesan dan inspirasi.

Rihlah dakwah Aisyiyah Tegalsari Surabaya ini bukan hanya meninggalkan jejak perjalanan, tetapi juga menanamkan kembali ruh perjuangan, keteladanan, dan komitmen dakwah.

Dari Kauman Yogyakarta, semangat itu dibawa pulang untuk diterjemahkan dalam karya nyata bagi umat dan persyarikatan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu