Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Cahaya di Pakis Gunung: Jejak Tulus Pak Abdullah Membasuh Akidah

Iklan Landscape Smamda
Cahaya di Pakis Gunung: Jejak Tulus Pak Abdullah Membasuh Akidah
Pak Abdullah saat menerima kehadiran Dr. Faozan Amar, S.Ag., M.M., Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk periode 2022–2027. (Muhaimin/PWMU.CO)

Di sudut riuh Pakis Gunung, Surabaya, sebuah kisah perjuangan dakwah dan kemanusiaan terpahat.

Semua berawal dari kegigihan dan tangan dingin seorang guru agama bernama Pak Abdullah.

Ia membawa api semangat Muhammadiyah yang telah menyala sejak 1961 dari Masjid Khadijah, Malang.

Dengan prinsip yang mengakar kuat: “Besarkan Muhammadiyah, jangan makan dari Muhammadiyah”, ia mengubah wajah sebuah kawasan yang dulunya dianggap kelam.

Mengubah Wajah “Hitam” Pakis Gunung

Lulus dari PGA Negeri Malang pada 1964, Pak Abdullah memulai pengabdiannya sebagai pendidik.

Namun, benih perjuangan terbesarnya tertanam saat ia menetap di Pakis Gunung pada 1975.

Kala itu, kawasan tersebut menyandang stigma sebagai daerah “hitam”.

Premanisme dan perilaku menyimpang menjadi pemandangan sehari-hari yang membuat siapa pun gentar untuk melintas.

“Masyarakat takut dengan orang Pakis. Saat itu, masjid belum ada, sementara gereja sudah berdiri tegak,” kenang Pak Abdullah.

Kondisi sosiologis tersebut menciptakan tantangan akidah yang nyata.

Dengan strategi santunan yang masif, pihak dari kaum Nasrani mulai menarik simpati warga yang terhimpit ekonomi.

Melihat hal ini, Pak Abdullah tidak tinggal diam. Bersama Almarhum Pak Yulianto dan Pak Samadi, ia merintis dakwah di Masjid Al-Amin sebagai benteng pertahanan akidah masyarakat.

Membangun Panti dengan “Tangan Dingin”

Perjuangan kemanusiaan Pak Abdullah bermula dari ruang tamu rumahnya yang sempit.

Karena banyak anak yang tergiur santunan pihak lain, ia memutuskan membawa anak-anak tersebut ke rumahnya sendiri untuk mengaji dan mendapatkan bantuan serupa.

Rumah sederhana itu pun berubah fungsi menjadi markas dakwah sekaligus tempat bernaung.

Cibiran seringkali mampir ke telinganya. “Sombong sekali, pondasi sebesar itu tidak mungkin bisa selesai!” ujar para peragu saat itu.

Namun, Pak Abdullah justru melihat peluang di tengah badai.

Ia memanfaatkan kelemahan manajemen santunan pihak lawan untuk menarik kembali anak-anak ke pangkuan Islam.

Titik balik bersejarah terjadi pada 1988 ketika ia dan rekan-rekannya membeli sebidang tanah seharga Rp10 juta.

Pembangunan panti asuhan yang dimulai pada 1990 dan rampung pada 1997 itu seolah menjadi saksi keajaiban Tuhan.

“Dukungan mengalir deras bak hujan. Kami mengirim proposal ke berbagai tokoh nasional, mulai dari Pak Harto, Akbar Tandjung, hingga Jenderal Yusuf. Mereka semua tergerak untuk menyumbang,” ungkapnya dengan mata berbinar.

Panti asuhan tersebut kini berkembang pesat hingga memiliki tiga gedung dan menaungi anak-anak dari jenjang TK hingga SMA.

Pada masa awal, Pak Abdullah menghimpun dana dengan mendatangi rumah para donatur atau membawa anak-anak asuh untuk bersilaturahmi ke kediaman tokoh-tokoh terpandang.

SMPM 5 Pucang SBY

Selain itu, ia menggerakkan jejaring sesama guru di berbagai sekolah untuk menjadi donatur rutin, sebuah inisiatif mulia yang terus berjalan hingga saat ini.

Manajemen Kejujuran: Antikorupsi di Jalan Dakwah

Pak Abdullah menerapkan sistem keuangan yang sangat ketat dan transparan.

Ia tidak ingin uang santunan menguap tanpa manfaat nyata bagi anak asuh.

Baginya, setiap rupiah adalah amanah. Pernah suatu ketika, ia mengubah sistem santunan tunai menjadi tabungan pendidikan karena melihat anak-anak sering menghabiskan uang bantuan untuk hal yang tidak produktif.

Ketegasan ini membuahkan hasil luar biasa. Salah satu anak asuh bernama Fauzin berhasil membeli sepeda motor dari akumulasi uang santunannya yang dikelola dengan baik.

Prinsip antikorupsi Pak Abdullah pun tak tergoyahkan. Hingga masa baktinya berakhir pada 2013, ia menyerahkan sisa kas sebesar Rp130 juta kepada pengurus baru.

“Lihat rumah saya, tetap sederhana. Jika saya korupsi, rumah saya pasti sudah mewah. Harta panti harus sepenuhnya untuk anak panti,” tegasnya.

Pak Abdullah memegang prinsip bahwa seluruh aset panti harus sepenuhnya diperuntukkan bagi kepentingan anak asuh, bukan untuk kesejahteraan pengurus.

“Jika saya korupsi, tentu rumah saya sudah jauh lebih mewah dari ini. Dulu, setiap kali mobil panti rusak, saya langsung memerintahkan perbaikan, bahkan saya siap merogoh kocek pribadi untuk menutupi biayanya,” tegasnya untuk menunjukkan integritas dan komitmen antikorupsi yang ia jalani.

Menanam Pohon Kurma untuk Masa Depan

Setelah membangun fondasi panti yang kokoh, Pak Abdullah menyerahkan tongkat estafet kepengurusan pada tahun 2013.

Ia mengambil keputusan ini agar generasi baru dapat melanjutkan kepemimpinan dengan inovasi yang melampaui pencapaian sebelumnya.

Ia berpesan, “Generasi penerus harus bekerja jauh lebih baik daripada saya”.

Kini, di usia yang telah menyentuh 80 tahun, Pak Abdullah belum menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti.

Meski telah mendirikan “Yayasan Abdullah Sholeh” —setelah tidak lagi menjadi pengurus panti—, ia tetap siap memberikan tenaganya untuk Muhammadiyah kapan pun dibutuhkan.

Kekuatan fisiknya ia sandarkan pada disiplin salat tahajud dan kebiasaan bersedekah.

Ia selalu mengibaratkan perjuangan dakwah seperti menanam pohon kurma.

“Mungkin kita tidak akan sempat mencicipi buahnya, tetapi anak cucu kitalah yang akan menikmatinya nanti,” tuturnya penuh filosofi.

Cita-citanya yang belum padam adalah melihat panti asuhan tersebut memiliki sekolah mandiri.

Baginya, pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai kemiskinan dan ketidaktahuan.

Perjalanan Pak Abdullah di Pakis Gunung adalah sebuah pengingat bahwa ketulusan, jika dipadukan dengan integritas, akan menciptakan jejak kebaikan yang abadi dan tak lekang oleh waktu.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu