Tidak ada kehidupan yang benar-benar luput dari kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Berbagai macam fenomena yang terjadi di dunia selalu berada dalam kehendak Allah, tidak terkecuali apa yang terjadi pada diri kita.
Oleh karena itu, kita selalu memohon kepada Allah berbagai macam kebaikan, baik di dunia maupun akhirat, sebagai bentuk pengharapan agar Dia menghendaki kebaikan bagi diri kita.
“Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanataw-wa fil-aakhirati hasanataw-wa qinaa ‘adzaaban-naar.”
Artinya: “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah: 201).
Harapan kita terhadap berbagai macam kebaikan tentu harus didasarkan pada prinsip iman. Hati yang selalu berharap kepada Allah adalah wujud dari keimanan dalam hati.
Sebaliknya, hati yang tidak pernah berharap kepada Allah bisa jadi menjadi pertanda lemahnya iman.
Setidaknya ada tiga hal yang menjadi pertanda lemahnya iman. Hal ini perlu kita waspadai karena ketika iman sudah lemah dan tidak segera diatasi, ia berangsur-angsur akan mulai menghilang.
1. Gemar Bermaksiat
Manusia hidup berdampingan dengan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada diri seseorang lebih didominasi oleh dorongan buruk dan kemaksiatan.
Ketika seseorang sudah merasa nyaman dalam berbuat maksiat tanpa ada kesadaran untuk bertobat, maka ini menjadi pertanda keimanan di dalam hatinya mulai tergerus.
Mungkin sebagian dari kita mampu menghindari dosa-dosa besar, seperti memakan daging babi, meminum minuman keras, membunuh, dan sebagainya.
Namun, banyak dari kita yang lupa bahwa kemaksiatan kecil yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi beban yang sangat berat.
Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata:
“’An ‘Aaysyata radhiyallaahu ‘anhaa, qaalat: qaala Rasuulullaahi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: Yaa ‘Aaysyatu iyyaaki wa muhaqqaraatil-a’maali (wa fii riwaayatin: adz-dzunuubi) fa-inna lahaa minallaahi thaalibaa.”
Artinya: “Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Aisyah, hindarilah olehmu amal-amal yang remeh (dan dalam satu lafaz disebutkan dosa-dosa). Karena ada yang akan menuntut dari Allah terhadap amal-amal itu.’” (HR. Ibnu Majah no. 4243).
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Apabila setan telah putus asa untuk menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar, maka dia akan membujuknya untuk melakukan dosa kecil yang apabila terkumpul pada diri manusia, dapat membinasakannya.” (Tafsir Qayyim).
2. Tidak Menghadirkan Hati dalam Ibadah
Masih banyak orang yang melakukan ibadah hanya sebatas formalitas saja atau hanya ingin dianggap baik oleh orang di sekitarnya.
Pentingnya menghadirkan hati dalam ibadah akan berdampak pada kekhusyukan kita dalam melaksanakannya.
Sebaliknya, jika hati tidak benar-benar dihadirkan dalam ibadah, maka akan timbul rasa malas, menyepelekan, hingga pada akhirnya meninggalkan ibadah tersebut.
Terkadang, sifat manusia yang materialistis membawanya pada apa yang akan didapatkannya setelah melakukan suatu amalan.
Jika ia mengetahui suatu amalan yang dilakukan tidak membawa keuntungan fisik atau materi, maka ia cenderung akan meninggalkannya.
Kemudian, jika manusia ditimpa musibah atau kesulitan, barulah ia akan kembali kepada ketaatan. Allah berfirman:
“Wa minan-naasi may-ya’budullaaha ‘alaa harfin, fa-in ashaabahuu khairunit-thama-anna bihii, wa in ashaabat-hu fitnatuninqalaba ‘alaa wajhihii, khasirad-dunyaa wal-aakhirah, dzaalika huwal-khusraanul-mubiin.”
Artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11).
3. Hilangnya Kepekaan Sosial
Wujud kepedulian manusia dengan sesamanya dapat dilihat dari tingkat kepekaannya, karena kepedulian merupakan manifestasi dari kasih sayang.
Islam adalah agama yang mengajarkan rahmatan lil-‘alamin. Artinya, memiliki kepekaan sosial yang baik dan hubungan yang erat dengan masyarakat merupakan bagian dari implementasi iman.
Kebaikan, rasa peduli, dan kasih sayang adalah sikap yang dapat menguatkan keimanan seseorang.
Sebaliknya, sikap zalim, suka menyakiti, dan acuh tak acuh adalah pertanda keimanan yang mulai runtuh. Bahkan dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda:
“Wallahi laa yu’minu, wallahi laa yu’minu, wallahi laa yu’minu. Qaaluu: wa maa dzaaka yaa Rasuulallaah? Qaala: al-jaaru laa ya’manu jaaruhu bawaaiqahu. Qaaluu: yaa Rasuulallaah wa maa bawaaiqahu? Qaala: syarruhu.”
Artinya: “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Para sahabat bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Seseorang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari gangguannya.” Mereka bertanya lagi, “Apa yang dimaksud dengan gangguannya?” Beliau menjawab: “Keburukannya.” (HR. Muslim no. 46, Musnad Ahmad no. 25909).
Kesimpulan
Iman adalah cahaya hati yang perlu kita pelihara sebaik mungkin. Karena hanya dengan imanlah Allah akan memberikan jaminan keselamatan bagi kita di dunia dan akhirat.
Maka, penting bagi kita untuk selalu waspada terhadap segala bentuk kemaksiatan, meningkatkan kualitas ibadah, serta menumbuhkan kepedulian sosial dengan sebaik-baiknya.
Mudah-mudahan dengan hal itu, Allah senantiasa menetapkan keimanan dalam hati kita hingga akhir hayat.***





0 Tanggapan
Empty Comments