Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Enam Seni Berbicara Islami di Era Digital

Iklan Landscape Smamda
Enam Seni Berbicara Islami di Era Digital
Oleh : Yoan Pramoga Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, Universitas Islam Negeri Palangka Raya

Komunikasi merupakan fondasi utama dalam kehidupan antarmanusia. Melalui pertukaran pesan, gagasan dapat disampaikan, hubungan sosial dibangun, dan sebuah peradaban dapat dikembangkan. Namun hari ini, di tengah derasnya arus informasi dan kebebasan berekspresi di ruang digital, kualitas komunikasi justru menghadapi tantangan yang sangat serius.

Masyarakat modern kini akrab dengan fenomena ujaran kebencian, fitnah, hoaks, hingga budaya saling menjatuhkan di media sosial.

Banyak orang berbicara atau mengetik opini tanpa mempertimbangkan bagaimana dampak nyata dari kata-kata yang mereka ucapkan terhadap psikologis dan sosial orang lain.

Dalam menghadapi degradasi moral digital ini, Islam menawarkan sudut pandang yang komprehensif.

Islam memandang komunikasi bukan sekadar aktivitas teknis menyampaikan pesan, melainkan bagian dari ibadah dan manifestasi langsung dari akhlak seorang muslim. Al-Qur’an memberikan panduan yang sangat rinci mengenai bagaimana manusia seharusnya berinteraksi secara verbal.

Para ulama dan akademisi komunikasi Islam menyebutnya sebagai prinsip komunikasi Qurani, yaitu pedoman komunikasi yang bersumber dari nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kitab suci.

Di antara sekian banyak tuntunan, terdapat enam konsep penting yang saling berkesinambungan.

Enam konsep ini dapat disebut sebagai enam seni berbicara dalam Islam, yang meliputi Qaulan Karima, Qaulan Sadida, Qaulan Layyina, Qaulan Maysura, Qaulan Baligha, dan Qaulan Ma’rufa.

Prinsip-prinsip inilah yang menjadi fondasi utama komunikasi yang etis, efektif, dan selalu berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Menyelami Enam Prinsip Komunikasi Qurani

Prinsip pertama adalah Qaulan Karima, yang berakar dari Q.S. Al-Isra’ ayat 23. Konsep ini secara harfiah berarti perkataan yang mulia.

Tuntunan ini mengajarkan agar seseorang berbicara dengan penuh penghormatan, terutama kepada orang tua dan mereka yang berusia lebih tua.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, Qaulan Karima menuntut setiap muslim untuk selalu menjaga martabat lawan bicaranya.

Kritik tetap boleh disampaikan, tetapi sama sekali tidak boleh dengan cara merendahkan atau mempermalukan orang lain.

Penggunaan bahasa yang santun dalam prinsip ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah cerminan nyata dari kemuliaan karakter seseorang.

Selanjutnya, prinsip kedua adalah Qaulan Sadida yang bersumber dari Q.S. An-Nisa’ ayat 9, yaitu perkataan yang benar dan jujur.

Kebenaran merupakan inti dari seluruh sistem komunikasi Islam. Informasi yang disampaikan kepada publik harus berdasarkan fakta yang valid, serta bebas dari unsur kebohongan, manipulasi, maupun fitnah.

Di era digital saat ini, prinsip tersebut menjadi sangat relevan ketika masyarakat terus-menerus dibanjiri oleh berbagai informasi yang belum tentu jelas keabsahannya.

Menurut kajian komunikasi Qurani, Qaulan Sadida menempatkan kejujuran sebagai syarat utama dari efektivitas sebuah komunikasi (Junaidi, 2017).

Prinsip ketiga membawa kita pada aspek kelembutan, yaitu Qaulan Layyina sebagaimana diisyaratkan dalam Q.S. Taha ayat 44.

Menariknya, dalam ayat ini Al-Qur’an memerintahkan Nabi Musa untuk tetap berbicara dengan lemah lembut kepada Firaun, seorang penguasa yang terkenal sangat zalim.

Hal ini menunjukkan bahwa kelembutan bukan hanya diberikan kepada orang baik saja, melainkan juga kepada mereka yang memiliki perbedaan pandangan yang ekstrem.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak konflik sosial muncul bukan karena isi pesannya yang salah, melainkan karena cara penyampaiannya yang kasar dan menyakitkan.

Penelitian tentang komunikasi keluarga Islami pun menunjukkan bahwa pendekatan yang lembut mampu menciptakan hubungan yang jauh lebih harmonis dan efektif (Nur Laila dkk., 2025).

Kemudahan dalam memahami pesan menjadi prinsip keempat melalui konsep Qaulan Maysura yang merujuk pada Q.S. Al-Isra’ ayat 28.

Konsep ini berarti perkataan yang mudah dipahami dan menyenangkan. Islam mengajarkan agar sebuah komunikasi tidak dibuat rumit, berbelit-belit, atau membingungkan audiens.

Pesan yang baik adalah pesan yang dapat dicerna dengan mudah oleh penerimanya.

Dalam dunia pendidikan, dakwah, maupun kepemimpinan, kemampuan untuk menyederhanakan pesan sering kali jauh lebih penting daripada sekadar menunjukkan kompleksitas pengetahuan.

SMPM 5 Pucang SBY

Komunikasi yang jelas seperti ini sangat membantu masyarakat dalam menghindari kesalahpahaman sekaligus memperkuat hubungan sosial.

Prinsip kelima adalah Qaulan Baligha yang bersumber dari Q.S. An-Nisa’ ayat 63, yaitu perkataan yang tepat sasaran dan membekas di hati.

Kita harus menyadari bahwa tidak semua komunikasi yang bernilai benar mampu menggerakkan tindakan orang lain.

Oleh karena itu, diperlukan kemampuan mendalam untuk memahami kondisi psikologis dan latar belakang audiens agar pesan yang disampaikan tetap relevan serta menyentuh kebutuhan mereka.

Qaulan Baligha mengajarkan pentingnya efektivitas komunikasi, yakni bagaimana sebuah pesan tidak sekadar didengar telinga, tetapi juga dipahami dan dihayati dalam jiwa.

Dalam perspektif komunikasi modern, konsep ini sejalan dengan prinsip audience-centered communication yang menempatkan penerima pesan sebagai fokus utama komunikasi.

Akhirnya, prinsip keenam ditutup oleh Qaulan Ma‘rufa yang berlandaskan Q.S. Al-Ahzab ayat 32, yaitu perkataan yang baik dan pantas.

Konsep ini menekankan pentingnya menggunakan kata-kata yang membawa kemaslahatan, tidak menyakiti perasaan, dan sesuai dengan norma kesopanan yang berlaku di masyarakat.

Dalam Al-Qur’an, Qaulan Ma‘rufa sering kali dikaitkan dengan interaksi sosial yang mengedepankan rasa hormat terhadap sesama, termasuk kepada kelompok yang lemah dan membutuhkan perlindungan. 

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini mengajarkan bahwa setiap ucapan seharusnya mengandung nilai kebaikan, memberikan manfaat, serta menjaga harmoni hubungan antarmanusia.

Komunikasi yang baik bukan hanya soal benar atau efektif, tetapi juga harus mampu menghadirkan kenyamanan dan penghargaan bagi lawan bicara.

Relevansi Nyata di Era Modern

Keenam prinsip komunikasi Qurani tersebut sesungguhnya menawarkan solusi konkret atas berbagai sengkarut persoalan komunikasi yang dihadapi oleh masyarakat modern.

Ketika ruang digital kita hari ini dipenuhi oleh ego dan ujaran kebencian, Qaulan Layyina hadir menawarkan kesejukan lewat kelembutan.

Saat hoaks dan disinformasi menyebar begitu cepat tanpa kendali, Qaulan Sadida datang sebagai benteng yang menghadirkan nilai kejujuran universal.

Beg pula ketika banyak orang dengan sengaja menggunakan bahasa yang kasar dan provokatif demi meraih popularitas instan, Qaulan Karima mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga kehormatan sesama manusia.

Lebih jauh lagi, Qaulan Maysura mendidik kita untuk menyampaikan pesan secara sederhana agar tidak memicu kebingungan publik.

Qaulan Baligha mendorong lahirnya komunikasi yang efektif dan berdampak positif, sedangkan Qaulan Ma’rufa membimbing manusia agar mampu menempatkan kata-kata secara proporsional sesuai dengan situasi, kondisi, dan budaya setempat.

Berbagai penelitian ilmiah kontemporer pun berhasil membuktikan bahwa prinsip komunikasi Qurani tidak hanya memiliki dimensi spiritualitas yang kental, melainkan juga sangat relevan dengan teori komunikasi modern.

Nilai-nilai seperti empati, efektivitas pesan, kredibilitas seorang komunikator, dan penghormatan yang tinggi terhadap audiens merupakan unsur-unsur fundamental yang terus dikaji dalam ilmu komunikasi kontemporer.

Akhirnya, kualitas diri seseorang tidak hanya diukur dari seberapa banyak ia mampu berbicara, melainkan dari bagaimana cara ia menyampaikan pembicaraan tersebut.

Islam mengajarkan dengan sangat indah bahwa kata-kata memiliki kekuatan ganda: ia bisa menyembuhkan atau melukai, dan ia bisa menyatukan atau memecah belah.

Karena itu, memahami dan mengimplementasikan enam seni berbicara dalam Islam bukan sebatas mempelajari teori komunikasi di atas kertas.

Ini adalah sebuah upaya besar untuk membangun kesadaran spiritual bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut maupun jemari kita adalah cerminan langsung dari iman dan akhlak.

Di tengah dunia modern yang semakin bising oleh berbagai suara dan kepentingan, mungkin yang paling kita butuhkan hari ini bukan lagi kuantitas kata-kata, melainkan kata-kata yang jauh lebih benar, lebih lembut, lebih bijaksana, dan lebih bermakna bagi kemanusiaan.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 30/06/2026 17:24
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu