Kemerdekaan tidak semata-mata tentang terbebasnya sebuah bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga memiliki makna yang lebih dalam: kemampuan manusia untuk hadir, bergerak, dan memberikan manfaat tanpa terbelenggu oleh sekat-sekat yang membatasi hubungan antarmanusia.
Dalam konteks dakwah, semangat kemerdekaan menemukan relevansinya dalam dakwah komunitas.
Dakwah komunitas adalah dakwah yang merdeka. Merdeka bukan berarti dakwah tanpa nilai, tanpa arah, atau tanpa prinsip. Sebaliknya, dakwah komunitas adalah dakwah yang kokoh dalam prinsip tetapi lentur dalam pendekatan; teguh dalam nilai tetapi terbuka dalam pergaulan; menyampaikan kebenaran tetapi tidak memaksakan kehendak.
Dakwah komunitas tidak berhenti pada satu jamaah tertentu. Ia tidak mengenal batas kelas sosial. Ia tidak hanya hadir di ruang-ruang masjid, majelis taklim, lembaga pendidikan, atau komunitas yang secara identitas telah dekat dengan kehidupan keagamaan.
Semua manusia adalah sasaran dakwah.
Mereka yang berada di lingkungan marginal, masyarakat pedesaan, kelompok menengah, kalangan profesional, akademisi, pengusaha, pejabat, komunitas budaya, masyarakat terpencil, hingga mereka yang hidup di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), semuanya memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pencerahan, pendampingan, dan perhatian dakwah.
Inilah wajah dakwah komunitas yang sesungguhnya: dakwah yang menembus sekat.
Dakwah Tidak Mengenal Kelas dan Status Sosial
Dakwah sering kali dipersepsikan sebagai aktivitas yang berlangsung di ruang-ruang tertentu dan diikuti oleh kelompok masyarakat tertentu. Padahal, Rasulullah ﷺ memberikan teladan bahwa dakwah harus menjangkau manusia secara luas.
Al-Qur’an menegaskan: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”(QS. Al-Anbiya: 107)
Ayat ini memberikan fondasi penting bahwa risalah Islam membawa rahmat. Karena itu, dakwah tidak seharusnya menjadi ruang untuk memperlebar jarak sosial, melainkan menjadi jalan untuk mendekatkan manusia kepada kebaikan.
Dakwah komunitas hadir dengan kesadaran bahwa setiap komunitas memiliki karakter, kebutuhan, persoalan, budaya, dan bahasa sosial yang berbeda.
Karena itu, seorang dai komunitas tidak cukup hanya pandai berbicara. Ia harus mampu mendengar.
Tidak cukup hanya mampu menyampaikan pesan agama. Ia harus mampu memahami kehidupan masyarakat.
Tidak cukup hanya datang membawa ceramah. Ia harus hadir membawa solusi.
Pada titik inilah dakwah komunitas menjadi dakwah yang membumi.
Dai Komunitas: Hadir Membawa Pencerahan
Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengembangkan dakwah melalui para dai komunitas yang hadir di tengah berbagai lapisan masyarakat.
Para dai komunitas tidak dibatasi oleh kelas sosial, pangkat, jabatan, latar belakang budaya, maupun kondisi geografis.
Dai dapat hadir di tengah masyarakat bawah dan marginal, tetapi juga hadir di tengah masyarakat kelas menengah dan kelas atas. Dai dapat hadir di lingkungan perkotaan, tetapi juga bersedia menembus keterbatasan geografis menuju daerah-daerah 3T.
Kehadiran dai bukan untuk mempertanyakan, “Siapa mereka?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang mereka butuhkan?”
Inilah perubahan paradigma penting dalam dakwah komunitas.
Dai bukan sekadar datang untuk berbicara kepada masyarakat, tetapi datang untuk hidup bersama masyarakat, memahami persoalan mereka, dan kemudian mendampingi mereka agar mampu keluar dari persoalan tersebut.
Karena itu, dakwah komunitas tidak hanya berbicara tentang ibadah secara verbal, tetapi juga dapat diwujudkan dalam program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, pendampingan keluarga, penguatan kapasitas masyarakat, pembinaan mualaf, pengembangan usaha, serta berbagai bentuk pemberdayaan sesuai kebutuhan komunitas.
Dakwah menjadi nyata ketika nilai agama hadir dalam kehidupan.
Dakwah yang Menggembirakan, Bukan Menakutkan
Rasulullah Saw mengajarkan agar dakwah dilakukan dengan memberikan kemudahan dan kabar gembira.
“Permudahlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan ini sangat penting bagi para dai komunitas.
Masyarakat yang ditemui dai tidak selalu berada dalam kondisi ideal. Ada yang sedang menghadapi kemiskinan, keterbatasan pendidikan, konflik keluarga, keterasingan sosial, persoalan ekonomi, bahkan krisis kepercayaan diri.
Dalam kondisi seperti itu, dakwah semestinya hadir sebagai cahaya.
Dai datang membawa harapan.
Dai datang membawa ketenangan.
Dai datang membawa semangat untuk bangkit.
Dai datang untuk mengatakan bahwa kehidupan masih memiliki masa depan.
Karena itu, kehadiran dai komunitas Muhammadiyah hendaknya selalu menjadi kehadiran yang menggembirakan siapa saja.
Dakwah bukan ruang untuk mempermalukan orang lain.
Dakwah bukan tempat untuk mengejek komunitas tertentu.
Dakwah bukan sarana untuk mengolok-olok individu yang berbeda.
Dakwah bukan pula arena untuk menunjukkan bahwa kelompok kita lebih tinggi daripada kelompok yang lain.
Dakwah adalah jalan untuk mengajak manusia mendekat kepada Allah dengan cara yang bijaksana dan penuh kasih sayang.
Merdeka dari Sikap Merasa Paling Benar
Ada satu bentuk kemerdekaan yang sangat penting bagi seorang dai: merdeka dari kesombongan diri.
Seorang dai harus memiliki keyakinan terhadap kebenaran yang disampaikannya. Namun, keyakinan tersebut tidak boleh berubah menjadi kesombongan yang membuatnya merendahkan orang lain.
Ketua LDK Pimpinan Pusat Muhammadiyah, selalu mengingatkan para dai komunitas agar mampu menjaga diri di tengah berbagai perbedaan.
Perbedaan suku, ras, agama, budaya, status sosial, bahkan perbedaan paham dan keyakinan di antara sesama umat Islam tidak boleh menjadi alasan bagi seorang dai untuk kehilangan akhlak.
Dai harus tetap menjaga lisan.
Dai harus tetap menjaga sikap.
Dai harus tetap menghormati manusia sebagai sesama makhluk Allah.
Sebab, tugas dai adalah menyampaikan, bukan memaksa.
Al-Qur’an telah memberikan prinsip yang sangat jelas:
“Tidak ada paksaan dalam agama.” (QS. Al-Baqarah: 256)
Keimanan pada hakikatnya adalah hidayah Allah.
Manusia boleh menyampaikan kebenaran. Manusia boleh mengajak kepada kebaikan. Manusia boleh menunjukkan jalan yang diyakininya benar.
Tetapi manusia tidak memiliki kuasa untuk memaksa hati orang lain. Hidayah adalah milik Allah.
Karena itu, seorang dai harus mampu membedakan antara keteguhan dalam prinsip dan pemaksaan terhadap orang lain.
Keteguhan adalah karakter seorang dai.
Pemaksaan bukan karakter dakwah.
Dakwah yang Menghormati Perbedaan
Dalam masyarakat yang sangat beragam, dakwah komunitas membutuhkan kedewasaan.
Dai tidak boleh menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membangun permusuhan.
Allah berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Ayat tersebut memberikan tiga fondasi penting: hikmah, pengajaran yang baik, dan dialog dengan cara yang baik.
Dakwah yang merdeka adalah dakwah yang mampu berdiri teguh tanpa harus menjatuhkan orang lain.
Ia mampu menjelaskan Islam tanpa menghina keyakinan orang lain.
Ia mampu mengajak kepada kebaikan tanpa merendahkan komunitas yang berbeda.
Ia mampu menunjukkan jalan yang diyakininya benar tanpa kehilangan rasa hormat kepada sesama manusia.
Inilah akhlak dakwah.
Dari Ceramah Menuju Pemberdayaan
Dakwah komunitas juga perlu bergerak dari paradigma “berbicara kepada masyarakat” menuju “bekerja bersama masyarakat”.
Masyarakat 3T, misalnya, tidak cukup hanya diberi ceramah. Mereka juga membutuhkan pendidikan, penguatan ekonomi, pendampingan sosial, akses terhadap Al-Qur’an, penguatan keluarga, serta berbagai bentuk pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Demikian pula masyarakat marginal. Mereka membutuhkan kehadiran yang nyata.
Dakwah yang hanya berhenti pada kata-kata akan mudah dilupakan.
Tetapi dakwah yang hadir dalam bentuk kepedulian akan meninggalkan kesan.
Satu bantuan yang tepat sasaran.
Satu program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Satu pendampingan yang dilakukan dengan tulus.
Satu dai yang mau mendengar keluh kesah masyarakat.
Semua itu dapat menjadi bahasa dakwah yang jauh lebih kuat daripada kata-kata.
Dakwah akhirnya tidak hanya terdengar oleh telinga, tetapi dirasakan oleh kehidupan.
Kemerdekaan dan Tanggung Jawab Dakwah
Momentum kemerdekaan bangsa Indonesia semestinya menjadi ruang refleksi bagi para dai.
Setelah bangsa ini merdeka secara politik, apakah manusia di sekitar kita sudah benar-benar merasakan kemerdekaan dalam kehidupannya?
Apakah masyarakat marginal sudah merasa diperhatikan?
Apakah masyarakat di daerah 3T sudah merasakan hadirnya negara dan masyarakat yang peduli?
Apakah mereka yang berbeda dengan kita masih merasa aman berada di tengah kehidupan sosial?
Apakah perbedaan paham keagamaan membuat kita semakin dewasa atau justru semakin mudah saling mencela?
Pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya menjadi bahan renungan bagi para dai.
Sebab, kemerdekaan tidak boleh hanya dirayakan dengan upacara dan simbol. Kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi kepedulian.
Kemerdekaan harus melahirkan keberanian untuk menembus sekat.
Kemerdekaan harus melahirkan kesediaan untuk membantu.
Kemerdekaan harus melahirkan persaudaraan.
Dan dakwah harus menjadi salah satu kekuatan yang menjaga kemerdekaan itu tetap bermakna.
Dakwah Merdeka: Teguh dalam Aqidah, Luas dalam Pergaulan
Dakwah komunitas Muhammadiyah pada akhirnya harus mampu menunjukkan wajah Islam yang mencerahkan.
Teguh dalam aqidah.
Kuat dalam ibadah.
Luhur dalam akhlak.
Luas dalam pergaulan.
Bijaksana dalam menyampaikan pesan.
Dan nyata dalam pemberdayaan.
Dai komunitas tidak boleh hanya bertanya berapa banyak orang yang mengikuti ceramahnya.
Lebih jauh dari itu, dai harus bertanya: berapa banyak manusia yang merasakan manfaat dari kehadirannya?
Berapa banyak keluarga yang menjadi lebih kuat?
Berapa banyak masyarakat yang menjadi lebih berdaya?
Berapa banyak orang yang kembali memiliki harapan?
Berapa banyak hati yang menjadi lebih dekat kepada Allah?
Di situlah ukuran keberhasilan dakwah komunitas.
Penutup: Merdeka untuk Mengabdi
Dakwah komunitas adalah dakwah merdeka.
Merdeka dari sekat kelas sosial.
Merdeka dari batas geografis.
Merdeka dari fanatisme kelompok.
Merdeka dari kesombongan identitas.
Merdeka dari kebiasaan mengejek dan merendahkan.
Namun tetap terikat oleh nilai-nilai Islam, akhlak, hikmah, dan tanggung jawab kemanusiaan.
Dai komunitas hadir bukan untuk mencari siapa yang harus dikalahkan. Dai hadir untuk menemukan siapa yang membutuhkan uluran tangan. Dai tidak datang untuk mempertontonkan kehebatan. Dai datang untuk memberikan manfaat.
Dai tidak datang untuk mengatakan, “Kalian berbeda dengan kami.”
Dai datang untuk mengatakan, “Mari kita bersama-sama mencari jalan kebaikan.”
Itulah dakwah yang merdeka.
Dakwah yang tidak memilih-milih manusia.
Dakwah yang tidak bertanya tentang pangkat sebelum memberikan salam.
Dakwah yang tidak bertanya tentang kelas sosial sebelum memberikan perhatian.
Dakwah yang tidak bertanya tentang latar belakang budaya sebelum memberikan pertolongan.
Dakwah yang memandang manusia dengan kasih sayang dan melihat setiap komunitas sebagai ruang untuk menghadirkan kebaikan.
Pada akhirnya, kemerdekaan dakwah bukanlah kebebasan untuk mengatakan apa saja. Kemerdekaan dakwah adalah kebebasan untuk berbuat baik kepada siapa saja. Karena Rasulullah Saw diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Maka para dai pun harus berusaha menghadirkan rahmat itu di mana pun mereka berada.
Di kampung-kampung.
Di kota-kota.
Di tengah masyarakat marginal.
Di lingkungan profesional.
Di tengah masyarakat kelas atas.
Di daerah terpencil dan 3T.
Di tengah perbedaan suku, budaya, agama, bahkan perbedaan pemahaman keagamaan.
Di mana ada manusia, di sanalah dakwah menemukan ruang pengabdiannya.
Dan di mana ada masyarakat yang membutuhkan pencerahan, di sanalah dai komunitas seharusnya hadir.
Sebab dakwah yang merdeka bukan dakwah yang bebas dari tanggung jawab, tetapi dakwah yang merdeka untuk mengabdi, merdeka untuk mencerahkan, dan merdeka untuk menghadirkan rahmat bagi siapa saja. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments