Bagaimana jika Joseph Nicéphore Niépce, yang kita kenal sebagai Bapak Fotografi, ternyata adalah seorang Muslim taat, yang tumbuh dewasa di tengah lingkungan masyarakat yang sangat berpegang pada prinsip “kembali ke teks” ketika memahami dalil?
Apakah keinginannya sedari awal untuk “menggambar dengan cahaya” itu akan tetap ia lanjutkan sampai menjadi sebingkai foto? Atau ia akan berhenti di tengah jalan, mengubur semua eksperimennya karena takut melanggar larangan menggambar makhluk bernyawa?
Pertanyaan ini bukan soal tidak percaya pada takdir yang sudah digariskan. Apalagi hanyut dalam pengandaian liar dan halusinasi tanpa batas (lau) yang kerap membuka pintu masuk setan. Ini sejatinya wujud dari kegelisahan kita ketika melihat realitas hari ini.
Kegelisahan itu muncul bukan tanpa sebab. Sampai sekarang kita masih menyaksikan bagaimana potensi besar umat yang mestinya bisa berdampak luas, justru layu sebelum sempat berkembang.
Bukan karena tidak punya inovasi, tetapi terhenti oleh pemahaman keagamaan yang kaku, puritan, dan tidak kontekstual.
Persoalannya nyata. Andai saja pemahaman yang mengharamkan setiap gambar makhluk bernyawa itu sampai membuat teknologi fotografi berhenti, kita bukan hanya kehilangan momentum penemuan. Tetapi bisa jadi juga memutus mata rantai panjang peradaban sains itu sendiri.
Dan ironisnya, mata rantai itu justru pernah bermula dari rahim peradaban umat Islam. Dunia sains tidak bisa mengingkari peran para ilmuwan Muslim di zaman keemasan.
Pada abad ke-11, Ibnu al-Haitsam sudah memetakan pergerakan cahaya di dalam ruang gelapnya atau menyebutnya al-qumrah. Dari kata itulah, dunia Barat kemudian menyerapnya menjadi kata “camera”.
Sembilan abad berselang, Niépce menyempurnakan menjadi teknologi yang hari ini kita genggam di telapak tangan.
Ketika Foto Menjadi Bukti Peradaban
Coba bayangkan, bagaimana jadinya dunia tanpa hasil jepretan kamera. Banyak persoalan yang tidak akan pernah terjawab dengan tuntas.
Dampaknya bisa terjadi pada perkembangan peradaban manusia. Dunia informasi dan jurnalisme misalnya.
Sehebat apa pun sebuah tulisan berita, andai tanpa foto sebagai bukti autentik, akan kehilangan kredibilitas.
Kebenaran bisa saja dibelokkan hanya oleh satu ilustrasi gambar yang sengaja dibuat bertentangan. Sebab, ia bisa bicara lebih faktual daripada seribu kata.
Publik diminta begitu saja percaya dengan liputan bencana alam, kasus korupsi, atau aksi kemanusiaan di Gaza tanpa adanya dokumentasi visual.
Tentu ini kurang dramatis dan sulit menumbuhkan empati daripada dengan tampilan foto seorang anak di bawah reruntuhan pengungsian atau aparat yang membawa tumpukan berkas suap.
Akhirnya, karena nihil visualisasi, informasi lapangan hanya jadi deretan angka dan nama, seperti cerita dari mulut ke mulut yang rawan di salahartikan.
Dengan adanya kekakuan pemahaman ini, imbasnya bisa lebih meluas karena juga akan merambah ke dunia pendidikan dan sains.
Tanpa foto dan ilustrasi, bagi anak-anak sekolah, pelajaran anatomi tubuh manusia hanya jadi hafalan dan susah untuk dipahami. Begitu pula buku anak PAUD dan TK yang kosong ilustrasi, juga terasa datar tanpa makna. Imajinasi padam, dan rasa ingin tahu ikut mati sebelum tumbuh.
Akibatnya, kita melahirkan generasi yang buta terhadap bukti visual. Generasi yang gagap terhadap keindahan alam semesta dari penjelasan orang lain lewat gambar.
Seruan pertama yang turun kepada Nabi kita adalah “Iqra“—bacalah. Dan membaca dalam Islam tidak pernah berhenti pada ayat qauliyah saja. Ia juga menuntut kita membaca ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah.
Bukankah kamera, mikroskop, dan teleskop adalah “kacamata baru” dari Allah agar kita bisa membaca ayat-ayat kauniyah di semesta dengan lebih jernih?





0 Tanggapan
Empty Comments