Sendangagung, Agustus 2026 – Empat puluh tahun.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya deretan bilangan. Namun bagi Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, angka 40 adalah sejarah.
Ia adalah air mata yang pernah jatuh di atas sajadah. Peluh yang menetes di atas kitab. Doa panjang di tengah malam ketika genteng bocor dan lampu diesel padam.
Dalam tradisi Islam, usia 40 merupakan usia ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu. Dalam perjalanan sebuah lembaga, 40 tahun menjadi bukti bahwa sebuah perjuangan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh dengan istiqamah.
Dan Al-Ishlah membuktikannya.
Dari Rumah 8 x 7 Meter untuk Peradaban
Bayangkan tahun 1987, setahun setelah Al-Ishlah berdiri.
Tidak ada gedung megah. Tidak ada Wi-Fi. Yang ada hanya satu rumah tua berukuran 8 x 7 meter di tengah ladang jagung dan rimbun bambu.
Rumah itu dibeli dari Wak Mateni, Lebak Utara, oleh Hj. Rif’atin, almh., adik Ustadz Dawam, kemudian dipindahkan ke Kelengan.
Rumah tersebut disekat-sekat menjadi kelas, mushala, kamar Kiai, dua kamar santri, dan dapur.
Belajar malam hanya dengan dua neon dan tiga bola lampu yang bersumber dari diesel Balai Desa. Pukul 23.59 lampu mati. Pukul 03.30 menyala kembali.
Ketika hujan turun, ember dan timba digunakan untuk menampung air yang merembes dari genteng. Saat kemarau, debu masuk ke mana-mana.
Di belakang rumah, sungai mengalir. Ular, musang, biawak, hingga monyet sering bertamu ke asrama tanpa permisi.
Namun, justru di sanalah ruh Al-Ishlah ditempa. Bukan oleh fasilitas, melainkan oleh satu pesan yang terus diulang setiap Subuh oleh Drs. KH. Muhammad Dawam Saleh:
“Pondok ini dibangun bukan dengan batu dan pasir, tapi dengan hati dan tekad yang kuat.”
Beliau pun memberikan teladan. Tidur paling akhir, bangun paling awal. Tahajud, Dhuha, dan mengaji menjadi bagian dari keseharian.
Dari keteladanan itulah lahir DNA Al-Ishlah: ikhlas, sederhana, semangat belajar tinggi, taat ibadah, dan disiplin.
Di asrama berlantai tanah yang berlapis sesek atau kepang, penulis dan 15 santri angkatan kedua belajar berbagi. Berbagi tempat tidur, berbagi nasi dari Ibu Sukinah, dan berbagi mimpi.
Tidak ada “anak pejabat”. Yang ada hanya “santri” yang siap bersusah payah demi ilmu.
From Zero to Hero: Batu Demi Batu
Waktu terus berjalan. Fase “bertahan hidup” perlahan berganti menjadi fase “membangun”.
Pada 1990-an, listrik PLN mulai masuk. Asrama permanen berdiri. MA Al-Ishlah lahir pada 1989 di bawah kepemimpinan Hj. Dra. Muthmanah.
Jumlah santri yang semula puluhan berkembang menjadi ratusan, kemudian ribuan.
Kini, pada 2026, Al-Ishlah memiliki kampus seluas sekitar 5 hektare. Ada STIQSI Lamongan, masjid dua lantai dengan kapasitas sekitar 2.000 jamaah, klinik, koperasi, Toko Al-Ishlah, gedung-gedung ber-AC, serta berbagai unit usaha.
Namun, ada hal yang jauh lebih penting: di setiap fase perkembangan tersebut, ruh awal tidak pernah ditinggalkan.
Saat gedung sudah megah, Kiai tetap mengingatkan:
“Jangan sampai gedungnya megah, tapi hatinya miskin.”
Itulah yang membuat perjalanan Al-Ishlah bukan sekadar kisah pembangunan fisik.
Alumni Al-Ishlah hari ini tersebar menjadi guru, dosen, kiai, PNS, pengusaha, dokter, dan berbagai profesi lainnya. Mereka bukan sekadar diantar menuju kesuksesan. Mereka menjemputnya dengan bekal ruh yang ditempa sejak berada di rumah berukuran 8 x 7 meter.
Ujian 40 Tahun: Menjaga Api di Tengah Modernitas
Mencapai usia 40 tahun bukan berarti perjuangan telah selesai. Justru tantangan baru menanti.
Ada tantangan generasi instan yang ingin mendapatkan hasil cepat tanpa melalui proses. Ada godaan komersialisasi pendidikan dengan fasilitas mewah. Ada pula tantangan regenerasi kepemimpinan ketika para pendiri mulai memasuki usia senja.
Jawabannya hanya satu: kembali kepada ruh awal.
Kembali kepada keikhlasan. Kembali kepada khidmah.
Semangat itulah yang terlihat dalam rangkaian perayaan 4 Dasawarsa Al-Ishlah tahun ini dengan tema “Bersatu dalam Khidmah, Bergerak untuk Umat”.
Lihat Jalan Santai MASYAN. Lihat Fun Mini Soccer di Malisha. Lihat sunatan massal dan pengobatan gratis.
Lihat guru yang turun menjadi panitia. Lihat alumni yang pulang membawa dukungan dan menjadi donatur.
Tidak ada sekat. Yang ada adalah “kita” untuk Al-Ishlah.
Mengapa Kita Bangga?
Kami bangga bukan semata karena gedungnya sudah bagus. Kami bangga karena tahu dari mana semua ini berasal.
Kami pernah kedinginan ketika lampu padam. Pernah antre mandi 15 orang. Pernah digigit nyamuk sambil menghafal.
Namun, kami juga pernah dipuji. Pernah didoakan dalam sujud tahajud Kiai.
Al-Ishlah mengajarkan bahwa hidup bukan tentang memiliki banyak, tetapi tentang memberi banyak. Bukan tentang menjadi pemenang, tetapi tentang menjadi manusia yang bermanfaat.
Hari ini, ketika melihat santri belajar di kelas yang representatif dan rapat guru berlangsung di ruangan ber-AC, ada rasa haru.
Perjuangan 40 tahun lalu tidak sia-sia.
Namun, ada satu pesan yang tidak boleh dilupakan: jangan lupakan sengsaranya masa lalu.
Jangan lupakan lampu diesel, jalanan blethok, dan genteng bocor. Sebab dari sanalah ruh perjuangan itu lahir.
40 Tahun untuk Generasi Mendatang
Empat puluh tahun adalah akhir dari satu perjalanan, sekaligus awal bagi perjalanan baru.
Tugas pimpinan: menjaga amanah.
Tugas guru: terus menjadi teladan dengan ikhlas.
Tugas alumni: pulanglah, bawa ilmu dan tenaga.
Tugas santri: belajarlah sungguh-sungguh. Al-Ishlah ke depan ada di pundak kalian.
Semoga Allah menjaga Al-Ishlah, menjadikannya lembaga yang barokah, melahirkan generasi Qur’ani, dan menjadi rahmat bagi semesta.
Selamat Milad ke-40 Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung.
Dari rumah 8 x 7 meter, untuk peradaban yang lebih luas.
Gondo Waloyo, Santri Ponpes Al-Ishlah 1987





0 Tanggapan
Empty Comments