Pada Ahad, 27 September 2026, Universitas Darussalam (Unida) Gontor menyelenggarakan sidang senat terbuka untuk pengukuhan Syamsuddin Arif sebagai Guru Besar (Profesor Penuh) dalam bidang Filsafat Islam Abad Pertengahan (Medieval Islamic Philosophy).
Pidato pengukuhannya berjudul “On Islamic Philosophy, Mind (‘Aql), and the Question of Originality”, diterbitkan oleh Unida Gontor Press.
Prof. Syamsuddin Arif, M.A., Ph.D. dikenal sebagai pakar filsafat Islam, logika, kajian orientalisme, dan studi Melayu-Indonesia. Ia merupakan alumnus ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization), lembaga yang didirikan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.
Ia termasuk dalam jajaran cendekiawan Indonesia lulusan ISTAC bersama Ugi Suharto dan Hamid Fahmi Zarkasyi.
Syamsuddin Arif juga merupakan peneliti senior di INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) yang turut ia dirikan, serta pernah menjadi anggota redaksi majalah ISLAMIA.
Ia dikenal sebagai poliglot yang menguasai bahasa Arab, Inggris, Jerman, Yunani, Ibrani, dan Prancis, serta hafiz Al-Qur’an.
Orasi tentang Filsafat Islam
Pidato pengukuhannya menelusuri sejumlah persoalan mendasar dalam filsafat Islam melalui empat bagian utama.
Pertama, Apa itu Filsafat?
Bagian ini membahas makna filsafat serta posisinya sebagai ḥikmah, falsafah, dan ‘ulūm al-awā’il.
Kedua, Mencari Filsafat Islam
Pembahasan berikutnya memetakan perdebatan klasik mengenai pertanyaan “tidak ada filsafat Islam” atau “ada filsafat Islam”. Di dalamnya termasuk tantangan dalam mendefinisikan filsafat Islam, persoalan penamaan—apakah filsafat Arab, Islam, atau Muslim—periodisasi, hingga urgensi dan tantangan dalam studinya.
Ketiga, Problem ‘Aql dalam Filsafat Islam
Bagian ini mengulas persoalan ‘aql secara lebih mendalam, mulai dari analisis leksikal, penggunaannya dalam Al-Qur’an dan hadis, posisinya dalam tradisi Peripatetik-Neoplatonik, hingga pemetaan tradisi filosofis yang luas.
Dalam konteks tersebut, ‘aql dibahas sebagai fakultas bawaan, daya pemahaman, serta kepekaan spiritual-moral.
Keempat, Empat Makna ‘Aql
Sebagai sintesis penutup, ‘aql dipaparkan dalam empat makna, yaitu sebagai fakultas intelektual alami, sebagai pengetahuan niscaya (ḍarūrī), sebagai pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh, serta sebagai daya diskresi praktis dan penguasaan diri.
Memperkuat Kajian Filsafat Islam di Unida Gontor
Pengukuhan tersebut memperkuat posisi Unida Gontor sebagai salah satu ruang kajian filsafat Islam yang serius di Indonesia. Tradisi intelektual pesantren di Gontor terus mengalami transformasi, dari ISID hingga berkembang menjadi universitas.
Kehadiran Prof. Syamsuddin Arif di Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam jenjang S2 Unida turut memperkuat jejaring keilmuan yang menghubungkan tradisi Gontor dengan wacana filsafat Islam internasional yang berkembang dari tradisi ISTAC dan pemikiran al-Attas.
Perjalanan Keilmuan Prof. Syamsuddin Arif
Perjalanan keilmuan Prof. Syamsuddin Arif dimulai dari KMI Gontor. Ia lulus pada 1989, kemudian mengabdi dengan mengajar Al-Qur’an di Majlis Qurra’ wa-l Huffazh, Bone, Sulawesi Selatan.
Ia kemudian menempuh pendidikan S1 di International Islamic University Malaysia (IIUM) dan lulus pada 1996. Pendidikan S2 dan S3 ditempuh di ISTAC-IIUM, masing-masing lulus pada 1999 dan 2004.
Selain itu, ia menempuh program doktor kedua di Johann Wolfgang von Goethe University, Frankfurt, Jerman.
Dalam aktivitas akademiknya, ia aktif sebagai peneliti senior INSISTS dan kerap menjadi pembicara tamu di berbagai kampus, termasuk STIBA Makassar.
Ia juga tercatat di SINTA dengan ID 5977523, dengan h-index Google Scholar 15, serta telah menerbitkan lebih dari delapan buku.
Bukan Sekadar Seremoni Akademik
Pengukuhan Prof. Syamsuddin Arif sebagai Guru Besar Filsafat Islam Abad Pertengahan bukan sekadar seremoni akademik.
Lebih dari itu, momentum tersebut menunjukkan bahwa kajian filsafat Islam klasik, dengan segala kerumitan konsep seperti ‘aql, tetap memiliki ruang untuk digali secara serius.
Kajian tersebut mempertemukan basis tradisi pesantren dengan standar keilmuan internasional. Dari ruang akademik Unida Gontor, tradisi intelektual tersebut terus menemukan ruang untuk dikembangkan dan didialogkan dengan perkembangan studi filsafat Islam kontemporer.





0 Tanggapan
Empty Comments