Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Belajar Talking Head Video, Eco Bhinneka Muhammadiyah Bekali Peserta Strategi Konten Medsos

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Belajar Talking Head Video, Eco Bhinneka Muhammadiyah Bekali Peserta Strategi Konten Medsos
Abyan Daffa dari Medkom PP Muhammadiyah memperagakan teknik pengaturan pencahayaan menggunakan ring light untuk produksi video. Foto: Fajar Firmansyah
pwmu.co -

Membuat konten media sosial yang menarik membutuhkan perencanaan, pemahaman audiens, dan teknik produksi yang tepat. Hal ini menjadi salah satu materi dalam pelatihan media FRAME. CREATE. SPEAK yang diselenggarakan Eco Bhinneka Muhammadiyah di Aula Lantai 6, Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Dalam sesi bertajuk Talking Head Video: Upgrade Konten Medsosmu, Abyan Daffa dari tim Media dan Komunikasi PP Muhammadiyah mengajak peserta memahami strategi pengembangan konten sekaligus mempraktikkan produksi video monolog.

Abyan menjelaskan, pengelola media perlu mengevaluasi pendekatan yang digunakan agar konten dapat menjangkau audiens secara efektif. Pemahaman terhadap karakteristik audiens dan platform menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

“Ketika membuat konten, kita perlu mengevaluasi apakah cara dan metode yang kita gunakan sudah tepat. Kita juga perlu memahami siapa audiens kita dan bagaimana karakteristik platform tempat konten tersebut dipublikasikan,” jelasnya.

Menurut Abyan, riset audiens dan pemahaman terhadap algoritma platform dapat membantu pengelola media menyusun strategi konten. Evaluasi juga perlu dilakukan dengan memperhatikan jumlah tayangan, tanda suka, pembagian konten, serta komentar dari audiens.

Ia juga mendorong peserta mengembangkan variasi konten melalui sejumlah pilar, seperti edukasi, inspirasi, informasi, hiburan, berita, dan ajakan untuk melakukan tindakan atau call to action.

Membuat Video dengan Peralatan Sederhana

Dalam sesi tersebut, Abyan memperkenalkan Talking Head Video, yaitu format video yang menampilkan seseorang berbicara langsung ke kamera untuk menyampaikan informasi, menjelaskan isu, atau membagikan pengalaman.

Ia membagikan sejumlah kiat produksi, mulai dari membagi naskah menjadi beberapa segmen hingga merekam beberapa konten sekaligus atau batching. Peserta juga diajak memperhatikan pencahayaan dan kualitas audio agar pesan tersampaikan dengan baik.

Menurutnya, produksi video tidak harus dimulai dengan peralatan profesional. Telepon genggam, tripod, mikrofon, dan aplikasi teleprompter dapat menjadi perangkat awal untuk membuat konten.

“Tidak perlu menunggu semua peralatan lengkap untuk mulai membuat video. Kita bisa memanfaatkan perangkat yang tersedia, mempersiapkan naskah dengan baik, dan terus berlatih,” pesannya.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Ia menambahkan, pembagian naskah menjadi beberapa segmen dapat mempermudah proses pengambilan gambar. Dengan cara tersebut, pembuat konten dapat merekam materi secara bertahap tanpa harus menyampaikan seluruh naskah dalam satu kali pengambilan.

Menyusun Naskah dengan Prinsip AIDA

Selain teknik produksi, peserta mempelajari penyusunan naskah menggunakan prinsip AIDA, singkatan dari Attention, Interest, Desire, dan Action. Teknik ini membantu pembuat konten menyusun pesan secara terarah, mulai dari menarik perhatian hingga mendorong audiens melakukan tindakan.

Peserta belajar membuat pembuka yang kuat, menghubungkan topik dengan kebutuhan audiens, menjelaskan manfaat informasi, serta menutup video dengan ajakan yang relevan.

Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik kelompok. Peserta menentukan topik, menyusun naskah berdasarkan prinsip AIDA, dan melakukan pengambilan video menggunakan perangkat yang tersedia.

Melalui praktik tersebut, peserta berkesempatan menerapkan materi secara langsung, mulai dari pengembangan ide hingga produksi konten audiovisual.

Pelatihan FRAME. CREATE. SPEAK berlangsung pada 20–21 Oktober 2026 dan diikuti 34 peserta secara luring. Pada hari pertama, peserta mengikuti sesi fotografi jurnalistik dan pengembangan konten kreatif.

Peserta berasal dari berbagai majelis, lembaga, organisasi otonom Muhammadiyah, Himpunan Difabel Muhammadiyah, serta pengelola program Eco Bhinneka Muhammadiyah di tingkat nasional dan berbagai wilayah.

Rangkaian pelatihan ini merupakan bagian dari program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) yang dijalankan Eco Bhinneka Muhammadiyah. Program tersebut bertujuan memperkuat kapasitas pengelolaan media dan komunikasi di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 21/10/2026 17:54
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu