Iklan SDM 4 Mudipat 2026

SD Mumtaz Latih 48 Guru Pendidikan Khusus, Perkuat Kemandirian Siswa Inklusi

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
SD Mumtaz Latih 48 Guru Pendidikan Khusus, Perkuat Kemandirian Siswa Inklusi
Motivasi Pelayanan Prima GPK SD Mumtaz dengan Narasumber Drs. Muflich Hasyim,M.Pd (Laela Fauziah/PWMU)
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
pwmu.co -

SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman (SD Mumtaz) menggelar Pelatihan Pelayanan Prima Guru Inklusi untuk meningkatkan kompetensi 48 Guru Pendidikan Khusus (GPK) atau shadow teacher, Rabu (21/10/2026). Pelatihan ini menekankan pentingnya pendampingan yang empatik, strategi pembelajaran yang tepat, serta penguatan kemandirian peserta didik.

Kegiatan yang berlangsung pukul 14.00–15.30 WIB di Ruang Rapat Zona 2 SD Mumtaz tersebut menghadirkan Drs. Muflich Hasyim, M.Pd., dari Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo sebagai narasumber.

Mengusung tema “Excellent Service bagi GPK/Shadow Teacher: Mendampingi dengan Empati, Mengajar dengan Strategi, Menguatkan Kemandirian”, pelatihan ini menjadi upaya sekolah dalam menghadirkan layanan pendidikan inklusif yang profesional, humanis, dan sesuai kebutuhan setiap peserta didik.

Mendampingi dengan Empati

Setiap anak memiliki karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan belajar yang berbeda. Ada peserta didik yang dapat memahami materi dengan cepat, sementara yang lain membutuhkan penjelasan berulang, waktu lebih panjang, atau pendekatan pembelajaran khusus.

Kondisi tersebut menuntut GPK untuk memahami kebutuhan setiap anak sebelum menentukan bentuk pendampingan. Pelayanan prima tidak hanya diwujudkan melalui pemberian bantuan, tetapi juga melalui kesabaran, kepedulian, komunikasi positif, dan penghargaan terhadap setiap perkembangan peserta didik.

Dengan pendekatan yang tepat, guru dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman sehingga anak merasa diterima serta memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya.

Mengajar dengan Strategi yang Tepat

Selain empati, GPK perlu mampu menerapkan strategi pembelajaran sesuai kemampuan peserta didik. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan antara lain menyederhanakan instruksi, memanfaatkan media visual, membagi tugas menjadi tahapan kecil, serta memberikan penguatan positif.

Pendampingan juga membutuhkan kerja sama antara GPK, guru kelas, guru mata pelajaran, dan orang tua. Kolaborasi ini penting agar dukungan terhadap perkembangan anak dapat berlangsung secara berkesinambungan, baik di sekolah maupun di rumah.

Keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya dilihat dari pencapaian akademik, tetapi juga dari perkembangan kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, mengelola emosi, dan mengikuti aktivitas sehari-hari.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Menguatkan Kemandirian Anak

Salah satu poin penting dalam pelatihan ini adalah memastikan pendampingan tidak membuat peserta didik bergantung pada guru. GPK perlu memahami kapan anak membutuhkan bantuan, kapan cukup diberikan arahan, dan kapan harus diberi kesempatan mencoba secara mandiri.

Sebagai contoh, ketika anak kesulitan mengerjakan tugas, guru dapat memberikan petunjuk secara bertahap tanpa langsung menyelesaikannya. Kebiasaan sederhana, seperti menyiapkan perlengkapan belajar, mengikuti instruksi, dan berinteraksi dengan teman, juga dapat menjadi sarana melatih kemandirian.

Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dari pengalaman sekaligus membangun kepercayaan diri.

Memperkuat Layanan Pendidikan Inklusif

Pelatihan bagi 48 GPK ini menjadi bagian dari upaya SD Mumtaz membangun budaya pelayanan prima di lingkungan sekolah. Selain meningkatkan kompetensi guru pendamping, sekolah perlu memperkuat komunikasi dengan orang tua serta kerja sama seluruh warga sekolah dalam memenuhi kebutuhan peserta didik.

Kegiatan ini juga sejalan dengan semangat SD Mumtaz dalam mewujudkan World Class Education. Pendidikan berkualitas tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga memberikan kesempatan yang adil bagi setiap anak untuk belajar dan berkembang.

Melalui pelatihan ini, SD Mumtaz berharap prinsip “Mendampingi dengan Empati, Mengajar dengan Strategi, Menguatkan Kemandirian” dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.

Sebab, keberhasilan guru pendamping bukan hanya diukur dari banyaknya bantuan yang diberikan, melainkan juga dari kemampuan anak untuk tumbuh, berkembang, dan semakin mandiri sesuai potensinya. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 21/10/2026 17:28
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu