Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pengabdian Patriot dari Lereng Gunung Salak sampai ke Oransbari

Iklan Landscape Smamda
Pengabdian Patriot dari Lereng Gunung Salak sampai ke Oransbari
Oleh : Imam Robandi Ketua TEP Salor, Papua Selatan,  2025. Ketua TEP Oransbari, Papua Barat 2026

Oh pemandangan Gunung Salak dari jauh yang memesona. Green Forest, sebuah tempat awal menggodok para pengabdi Program Patriot untuk Kawasan Transmigrasi, ‘mo kinen ni narimashita’, semua telah menjadi kenangan.

Keindahan alam Jawa Barat saat itu menjadi pemandangan wajib yang harus dinikmati setiap pagi. Persiapan di Bogor itu adalah ide yang sangat cemerlang dari Kementerian Transmigrasi RI, sebelum para patriot harus ‘manjing ajur-ajer’ mengabdi di Kawasan Transmigrasi.

Kedai Sunda Simpang Rawi di Ciawi dengan berbagai sajian leuncha, pepes peda, daun poh-pohan, dan pete bakar, ternyata sudah sekian lama terlewati, dan seperti baru kemarin saja.

Ini adalah menu-menu yang Sunda ‘banget’ mewarnai langkah-langkah untuk mengawali program patriot di lokus-lokus transmigrasi saat itu, sebelum saya harus meninggalkan Bogor.

Memang memompa semangat selalu mengukir kenangan, dan telah menjadi atmosfer baru di Kementrans RI. ‘Patriot is a way to build the future’, tentu sepakat.

Melekat diksi-diksi Kawasan Transmigrasi, ada lokus, ada Bapoktan, ada Tabela, Tapin, Brigadir Pangan, Jalan Usaha Tani, Bumdes, dan berbagai macam istilah yang jarang ada di telinga ‘orang-orang kampus’.

Lidah harus sudah terbiasa mengucapkan itu, dan pikiran saya harus tidak boleh lupa dengan istilah-istilah baru itu, yang tidak ada di perkamusan ‘electrical technology’.

Oh itu Kawasan Transmigrasi Salor yang tahun lalu dulu saya pernah ‘ngabyantara’ dengan penuh kenangan di belantara Wayao, Waninggap Miraf, Suka Maju, Mimi Baru, Gurinda Jaya, Rawasari, Domande, Candra Jaya, Harapan Makmur, Salor Indah, dan Waninggap Nanggo, yang di sana penuh alam-alam nan memesona.

Ada Jagebob, Tanah Miring, Malind, Kali Kumbe, Kali Maro, Waninggap Miraf, dan sekitarnya, yang semua masyarakatnya sangat ramah, dan itu adalah tahun lalu yang telah saya jadikan cacatan sejarah peradaban harmoni antara kampus dan kawasan transmigrasi.

Pengabdian Patriot dari Lereng Gunung Salak sampai ke Oransbari

Tahun ini bergeser sedikit ke Manokwari Selatan (Mansel), untuk mengenal kampung-kampung yang jauh dari kehirukpikukan jagad raya.

Di Mansel saya banyak belajar tentang kehidupan dan alam Distrik Oransbari, Distrik Ransiki, Distrik Momiwaren, pegunungan Arfak, dan Lautan Teduh nan indah di Papua Barat.

Saya harus membuka peta Mansel, yang di sana juga ada Distrik Dataran Isim, Distrik Neney, dan Distrik Tahota yang semua bergunung-gunung yang setiap pagi saya harus merasakan kesejukkan anginnya yang mengalir ke bawah.

Petuah Kyai Dr Mulyadi, Ketua MUI Papua Barat, ‘minumlah air alami di sini, maka akan merasakan kehidupan harmoni Tanah Papua’.

Di sini banyak orang datang dari berbagai belahan, dan di sini adalah miniatur Indonesia, katanya.

Itu adalah petuahnya, saat saya baru saja menyentuh pintu keluar di Ketibaan Bandara Manokwari, awal Agustus.

Rutenya selalu malam hari, agar saat di ketibaan di Bandara Manokwari adalah pagi hari. Saat merasakan udara segar dan sinar matahari cerah, dan rasa plong setelah melewati penerbangan panjang.

Pilihan jalur adalah cukup banyak. Surabaya, Makassar, Manokwari, atau Surabaya, Sorong, Manokwari, atau jika ingin lebih bersantai lagi dapat memilih penerbangan Surabaya, Jakarta, Manokwari.

Jalur yang paling banyak diminati adalah Surabaya, Makassar, Manokwari, dan di Makassar selalu ‘heroik’, karena harus antri lagi dan sering panjang mengular untuk sampai ke ‘boarding gate’ jurusan Manokwari.

Oransbari, Ransiki, Momiwaren sudah saya rasakan malam dan siang harinya. Walaupun baru ‘sak klebatan’, dan saya harus menyetir tanjakan pegunungan Ransiki-Oransbari yang tikungannya sangat tajam seperti cioray yang berkelok, seperti perjalanan dari Wangon menuju Ciamis.

Mobil ‘by manual steering’, presneling gigi satu-dua menjadi andalan, dan dijamin knalpot kemebul.

Belokan hidung petruk, ambil kanan, belok kiri dan tanjak langsung, persneling satu, mesin menderu kencang.

Tanjakan yang menyedot adrenalin ini hampir seperti jalan alternatif Banjarnegara ke Kebumen via Gandulekor di tanjakan Glempang. Mirip tanjakan dari Bangkinang menuju Payakumbuh, via Koto Panjang.

Mirip juga saat menyetir dari Rajapolah sampai ke Nagreg yang sangat aduhai kemiringannya.

Pendek kata, ‘all of things are running well’. Ini benar-benar Tanah Papua, kata saya dalam hati saat itu.

Tidak terasa, seminggu telah terlampaui di Manokwari Selatan, seperti baru saja, ternyata saat-saat kepulangan ke Surabaya sudah waktunya.

SMPM 5 Pucang SBY

Sebuah sore hari, Haji Sidik tokoh masyarakat Papua Barat yang bertinggal di Distrik Oransbari menghubungi saya, katanya, putrinya, Ida Fitriyani akan mengantar saya ke Manokwari dari Oransbari.

Yang menyetir adalah Mas Zai, asli Papua. Oh okay, kata saya.

Zai badannya besar, suaranya ‘anteb’, seperti pegulat sumo Musashimaru era Takano Hana dari Futagoyama Beya.

Perjalanan dari Oransbari ke Manokwari dihibur dengan pemandangan alam nan indah, dan di situ melewati Sungai Mupi yang airnya sangat bening dan situasi hening.

Mungkin seperti yang diceritakan dalam lagu Lolong, karya Ebiet G Ade.

Dari arah selatan menuju utara, sebelah kiri adalah pegunungan dan sebelah kanan adalah pantai memanjang yang sangat bersih.

Mirip sekali perjalanan dari Wollongong menuju Circular Quay di Sydney.

Sampai di Manokwari matahari sudah terbenam, dan ‘thong-thong bleng’ langsung maghriban, dan mencicip ikan bubara bakar berbumbu dabu-dabu.

Teknologi memang sangat hebat, subuh masih di Papua Barat, sore sudah menyoto di Surabaya. Seperti cerita Brama Kumbara dengan ajian ‘tatar bayu’.

Pagi masih di Tanah Madangkara, sore sudah bertemu Biksu Kampala di Puncak Borobudur.

Sudah empat belas hari saat itu saya telah meninggalkan rumah, begitu tiba di Bandara Juanda terasa seperti pulang kampung halaman di Banyumas saat lebaran.

Ketibaan di Kota Surabaya yang selalu hangat, apalagi sekarang ada SSB, soto Boyolali yang takarannya pas banget, dengan camilan pendampinya yang ‘maneka warna’.

Menyoto sebentar agar pikiran ‘kemepyar’.

‘Kok yo pas kebetulan’, di warung soto berjumpa patriot Unair yang ‘ngebasecamp’ di Kawasan Transmigrasi Prafi, 45 km ke arah barat dari Kota Manokwari.

Sebuah kawasan transmigrasi yang sudah makmur loh jinawi.

Nah, memang cerita tutur tinular dari Oransbari tiba-tiba harus berubah karena pagi hari baru saja menikmati nasi kuning di Manokwari, dan sore hari sudah harus membahas monev penelitian dan perscopusan.

Bayangkan saja, otak kanan masih tertinggal di Pantai Oransbari yang ombaknya menenangkan pikiran, sedangkan otak kiri sudah harus menyentuh IEEE Access, Q1, Percentile, dan Scimago yang membuat pikiran ‘kemrungsung’.

Dunia kehidupan dosen di mana pun memang selalu diatonik, pentatonik, dan kadang-kadang juga harus melaras pelog barang agar keseimbangan terjaga.

Tiga hari sebelumnya baru saja membahas harga gabah kering bersama Kang Sahidi di Kampung Sidomulyo, Papua Barat, sore hari sudah harus mengecek abstrak, similaritas, metodologi, kebaruan, dan berbagai “uborampe” milestone di Kampus Sukolilo.

Mungkin ini yang dalam dunia pewayangan disebut ‘ngraga sukma’.

Oh Surabaya, ‘I love you’.

Bogor, Jakarta, dan Manokwari Selatan, semua telah terlewati, dan telah banyak kenangan yang ‘sliwar-sliwer’ yang mampir di pikiran.

Masih ingat slogan Kementrans RI untuk para patriot, Misi Besar, dijawab ‘Karya Nyata’, Dampak Untuk, dijawab ‘Indonesia’.

Waa waa.

Revisi Oleh:
  • Satria - 24/08/2026 10:18
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu