Apa yang terbayang di benak kita ketika mendengar istilah sahabat sejati? Mungkin sosok yang selalu hadir saat kita membutuhkan. Ia menemani ketika bahagia maupun terluka. Ia mengingatkan ketika kita salah, memberi semangat saat kita lemah, dan mendorong kita untuk terus berada di jalan kebaikan.
Sahabat seperti itu memang sangat berharga. Namun, muncul pertanyaan, adakah sahabat yang tidak hanya setia selama hidup di dunia, tetapi juga tetap menemani ketika seluruh manusia meninggalkan kita?
Jawabannya ada. Bahkan lebih dari sekadar sahabat. Ia akan menemani sejak di dunia, menyertai di alam kubur, menjadi penolong pada hari kiamat, hingga—atas izin Allah—mengantarkan kita menuju surga. Sahabat itu adalah Al-Qur’an.
Betapa banyak manusia yang sepanjang hidupnya mengejar persahabatan dengan orang-orang berpengaruh, berharap mendapat pertolongan ketika menghadapi kesulitan.
Namun pada saat kematian datang, semua hubungan dunia itu berhenti. Sahabat, keluarga, jabatan, harta, dan popularitas hanya mampu mengantar sampai liang kubur. Setelah itu, setiap orang menghadapi perjalanan panjang seorang diri.
Di saat itulah Al-Qur’an menunjukkan kesetiaannya.
Dari Sa’id bin Sulaim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat, dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib, Syarah Ihya’)
Bayangkan sebuah kehidupan yang sering kita saksikan.
Ada seseorang yang setiap pagi tidak pernah lupa membuka mushaf. Walaupun hanya lima atau sepuluh menit, ia membaca beberapa ayat sebelum memulai aktivitas. Saat perjalanan menuju kantor, ia mendengarkan murattal.
Ketika malam tiba, ia kembali membaca Al-Qur’an bersama keluarganya. Barangkali bacaannya belum lancar, tajwidnya masih diperbaiki, bahkan kadang ia mengantuk ketika membacanya. Namun ia terus berusaha menjaga hubungan dengan Kalam Allah.
Sebaliknya, ada orang yang setiap hari begitu sibuk mengejar urusan dunia. Ponsel tak pernah lepas dari genggaman, media sosial selalu dibuka, berita selalu diikuti, tetapi mushaf Al-Qur’an berhari-hari bahkan berbulan-bulan tidak pernah disentuh.
Padahal, apa yang setiap hari kita temui akan menjadi teman akrab kita. Jika Al-Qur’an jarang kita temui, bagaimana mungkin ia menjadi sahabat dekat kita di akhirat?
Dalam sebuah riwayat yang disebutkan oleh Imam Al-Bazzar dalam La’aali Masnunah, dikisahkan bahwa ketika seseorang meninggal dunia dan keluarganya sibuk mengurus jenazahnya, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang sangat tampan. Ia berdiri di dekat jenazah, lalu tetap berada di sampingnya ketika dikafani.
Setelah jenazah dikuburkan dan semua pelayat meninggalkan makam, datanglah dua malaikat, Munkar dan Nakir. Mereka hendak menjalankan tugasnya. Namun lelaki tampan itu berkata,
“Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan apa pun aku tidak akan meninggalkannya.”
Kemudian ia berkata kepada orang yang telah meninggal itu,
“Aku adalah Al-Qur’an yang dahulu engkau baca; terkadang dengan suara keras, terkadang dengan suara perlahan. Jangan takut menghadapi pertanyaan ini.”
Setelah selesai proses pertanyaan di alam kubur, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani dari surga yang penuh keharuman kasturi. (Himpunan Fadhilah Amal, hlm. 609)
Subhanallah.
Terlepas dari pembahasan para ulama mengenai kualitas sebagian riwayat tersebut, makna yang ingin disampaikan sangat menyentuh: Al-Qur’an adalah teman yang tidak akan mengkhianati orang yang mencintainya.
Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira yang sangat jelas melalui hadis sahih.
Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim)
Sungguh, jika hadis ini benar-benar kita renungkan, hati akan bergetar. Selama ini kita begitu serius menyiapkan bekal pendidikan, pekerjaan, rumah, kendaraan, dan tabungan.
Semua itu memang penting. Namun sudahkah kita menyiapkan sahabat yang akan menemani perjalanan setelah kematian?
Mungkin hari ini kita belum menjadi penghafal Al-Qur’an. Mungkin bacaan kita masih terbata-bata. Tidak mengapa. Yang terpenting adalah jangan pernah memutus hubungan dengan Al-Qur’an.
Bacalah setiap hari, walau hanya satu halaman. Pelajari maknanya. Amalkan ajarannya. Jadikan ia cahaya yang menerangi rumah dan hati kita.
Sebab orang yang terus membersamai Al-Qur’an bukan hanya sedang membaca sebuah kitab, tetapi sedang membangun persahabatan yang akan bertahan hingga kehidupan setelah dunia berakhir.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk Ahlul Qur’an, yaitu hamba-hamba yang mencintai Al-Qur’an, membacanya, memahami kandungannya, mengamalkannya, dan memperoleh syafaatnya pada hari ketika tidak ada lagi penolong selain rahmat Allah.
Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dalam kehidupan kami, penghibur dalam kesedihan kami, penolong di alam kubur kami, dan pemberi syafaat bagi kami pada hari kiamat.
Terimalah bacaan Al-Qur’an kami, ampunilah segala kekurangannya, dan wafatkanlah kami dalam keadaan mencintai kitab-Mu. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments