Hati memang tidak tampak oleh mata. Secara fisik, hati berada dalam tubuh manusia. Secara metafisik, hati berada dalam sisi rohaniah manusia. Hati tidak terlihat, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap perilaku manusia. Hati dapat menentukan baik atau rusaknya perilaku seseorang.
Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Saw, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah qalbu (hati).” (HR Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599).
Artinya, jika hati baik dan sehat, seluruh tubuh juga akan baik dan sehat. Sebaliknya, jika hati sakit dan rusak, seluruh jasmani dapat ikut sakit dan rusak. Sakit hati dapat menimbulkan dampak yang lebih luas daripada sakit jasmani karena berpengaruh terhadap pikiran, sikap, dan perbuatan manusia.
Sebab dan Bahaya Penyakit Hati
Hati manusia bersifat sensitif dan mudah tersentuh oleh sesuatu yang datang dari luar dirinya. Karena itu, hati manusia juga mudah berubah-ubah. Apabila sesuatu yang menyentuh hati itu baik, hati dapat menjadi baik. Sebaliknya, apabila yang diterima hati berupa keburukan, hati dapat menjadi buruk dan rusak.
Keadaan hati manusia ada tiga macam. Pertama, qalbun salim, yaitu hati yang sehat, baik, dan selamat sebagaimana disebutkan dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 89 dan Surah Ash-Shaffat ayat 84. Kedua, qalbun maridh, yaitu hati yang sakit, rusak, dan kotor sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 10. Ketiga, qalbun mayyit, yaitu hati yang mati, keras seperti batu, dan tertutup sehingga sulit menerima kebenaran dari Allah Swt sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 6–7.
Hati yang sakit, terlebih hati yang telah mati, berbahaya bagi manusia. Penyakit hati yang diderita seseorang dapat memengaruhi seluruh tubuhnya dan bahkan menular kepada orang lain. Hati yang sakit dapat memengaruhi pikiran, badan, serta tindakan seseorang sehingga mendorongnya melakukan perbuatan fasik, keburukan, kejahatan, dan tindak kriminal.
Qabil menyimpan sakit hati kepada saudara kembarnya, Habil, antara lain karena kurbannya ditolak, sedangkan kurban Habil diterima Allah Swt. Perasaan tersebut berkembang menjadi dendam dalam hatinya. Pada akhirnya, Qabil membunuh Habil, adiknya sendiri. Kisah tersebut terdapat dalam Surah Al-Ma’idah ayat 27–30. Peristiwa itu disebut sebagai kasus pembunuhan pertama yang dilakukan manusia dalam sejarah akibat penyakit hati, yaitu qalbun maridh.
Penyakit hati juga dapat menular dan ditularkan kepada orang lain. Hal itu tampak dalam kisah saudara-saudara Nabi Yusuf alaihissalam yang hasad dan iri kepada Yusuf. Awalnya, salah seorang saudaranya merasa hasad, kemudian menghasut dan mengajak saudara-saudara lainnya. Mereka pun merencanakan untuk membunuh Yusuf. Namun, muncul pendapat lain sehingga rencana itu tidak dilakukan. Yusuf kemudian dibuang ke dalam sumur. Kisah tersebut terdapat dalam Surah Yusuf ayat 9–10 dan 15.
Demikian pula Hindun binti Utbah yang menyimpan sakit hati kepada Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu karena ayah dan pamannya terbunuh olehnya dalam Perang Badar. Perasaan tersebut kemudian ia tularkan kepada budaknya, Wahsyi bin Harb, untuk membunuh Hamzah, paman Rasulullah Saw, dengan imbalan kemerdekaan dari status budak.
Hamzah kemudian dibunuh oleh Wahsyi dengan tombaknya. Setelah itu, hati Hamzah diambil dan diberikan kepada Hindun untuk dikunyah. Namun, Hindun tidak mampu menelannya. Kematian Hamzah tercatat dalam Al-Qur’an, antara lain dalam Surah An-Nahl ayat 126 dan Surah Ali Imran ayat 169.
Penyakit hati dapat membuat seseorang melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Karena itu, iri, dengki, dendam, serta kebencian perlu dihindari agar tidak berkembang menjadi perilaku buruk.
Obat Sakit Hati
Tentang obat bagi berbagai penyakit, termasuk penyakit hati, Rasulullah Saw bersabda, “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat mengenai penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah.” (HR Muslim No. 4084).
Adapun penyakit yang tidak ada obatnya adalah pikun. Sesuai sabda Rasulullah Saw, “Sungguh, Allah tidaklah meletakkan suatu penyakit, melainkan Allah juga meletakkan obatnya, kecuali satu penyakit.” Para sahabat bertanya, “Penyakit apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Pikun.” (HR Tirmidzi, hasan sahih).
Dengan demikian, penyakit hati juga memiliki obat dan dapat disembuhkan dengan izin Allah Swt. Obatnya terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Umat Islam perlu berusaha mencari serta mengamalkan obat yang tepat untuk mengobati penyakit hati.
Ada enam ikhtiar yang dapat dilakukan untuk mengobati penyakit hati.
Pertama, Al-Qur’an. Wahyu Allah Swt menjadi obat bagi penyakit yang berada di dalam dada manusia sekaligus rahmat bagi orang beriman. Hal itu disebutkan dalam Surah Yunus ayat 57. Al-Qur’an bukan hanya menjadi obat bagi tubuh dan jasmani manusia, melainkan juga bagi jiwa, batin, mental, rohani, dan hati. Lihat pula Surah Al-Isra ayat 82 dan Surah Al-Hasyr ayat 21.
Kedua, zikir kepada Allah. Berdzikir kepada Allah Swt sebanyak-banyaknya dapat menjadi obat penyakit hati. Dengan berdzikir, hati menjadi tenteram sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28. Hati yang tenteram menunjukkan keadaan hati yang sehat, sembuh, dan tenang.
Berdzikir juga mencakup ibadah salat. Salat menjadi salah satu ibadah yang dapat membantu seseorang menjaga hati. Sebab, salat merupakan zikir yang utama. Dengan salat, berbagai penyakit hati dapat diobati. Penyakit hati berkaitan dengan dosa, sedangkan salat dapat membersihkan dosa yang melekat dalam diri manusia.
Allah Swt berfirman, “Dan dirikanlah salat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik (salat) itu menghapuskan perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS Hud: 114).
Selain itu, Rasulullah Saw bersabda, “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi di air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR Bukhari No. 528 dan Muslim).
Ketiga, berdoa kepada Allah Swt. Doa memiliki pengaruh dalam proses penyembuhan penyakit hati. Allah membolak-balikkan hati manusia. Karena itu, seorang muslim dapat memohon kepada-Nya agar penyakit hati yang ada dalam dirinya diberikan kesembuhan.
Salah satu doa yang dapat dipanjatkan ialah, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS Ali Imran: 8).
Doa lain yang diajarkan Allah Swt berbunyi, “Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS Al-Hasyr: 23).
Allah Swt membolak-balikkan hati manusia. Karena itu, seorang muslim perlu berdoa agar hati yang sakit dapat disembuhkan dan menjadi sehat. Orang yang hatinya sehat adalah orang yang taat beribadah kepada-Nya. Rasulullah Saw mengajarkan doa, “Ya Allah, Yang Mahakuasa untuk mengubah-ubah keadaan hati, arahkanlah hati kami untuk senantiasa menaati Engkau.” (HR Muslim No. 2654).
Dengan doa, sebagaimana yang dibaca oleh kaum Anshar dan Muhajirin, penyakit hati juga dapat diobati dan disembuhkan. Allah Swt berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, Muhajirin dan Anshar, mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, berilah ampun kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS Al-Hasyr: 10).
Keempat, puasa. Puasa dapat mengobati dan membantu menyembuhkan penyakit hati. Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, melainkan juga meninggalkan laghwun, yaitu hal yang tidak bermanfaat, serta rafats, yaitu perbuatan buruk. Jika ada orang yang mencela atau berbuat bodoh kepada seseorang yang sedang berpuasa, ia dianjurkan mengatakan, “Saya sedang berpuasa.” (Al-Mustadrak, 1/595, No. 1570).
Kelima, sabar. Bersabar dalam menghadapi sesuatu yang menyebabkan hati sakit menjadi bagian dari ikhtiar menjaga diri. Dengan kesabaran, seseorang dapat menghadapi berbagai ujian dengan lebih baik. Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kesusahan, atau kesedihan, atau bahaya, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan sebab kesabarannya tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim).
Keenam, takwa. Bertakwa kepada Allah Swt dapat membantu membersihkan dan menyehatkan hati yang sakit. Hal itu disebutkan dalam firman Allah Swt, “Maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams: 8–10).
Orang yang beruntung adalah orang bertakwa karena berusaha menjaga hatinya agar tetap baik, bersih, dan sehat. Sementara itu, orang yang merugi adalah orang fasik karena membiarkan hatinya kotor, sakit, dan rusak. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments