Di dunia pendidikan, tidak ada keberhasilan yang lahir dari satu orang. Sekolah yang berprestasi bukan semata hasil kerja kepala sekolah. Guru yang berhasil mendidik bukan hanya karena kecerdasannya. Peserta didik yang meraih prestasi pun tidak hanya mengandalkan kemampuan dirinya sendiri.
Di balik setiap keberhasilan selalu ada banyak tangan yang bekerja dalam diam, doa yang dipanjatkan tanpa diketahui, serta pengorbanan yang tidak pernah tercatat dalam laporan maupun piagam penghargaan.
Namun, ironi kehidupan kerap memperlihatkan kenyataan yang berbeda. Ketika keberhasilan datang, muncul orang-orang yang merasa dirinya paling berjasa. Mereka berdiri di barisan paling depan menerima tepuk tangan, tetapi lupa bahwa ada banyak orang yang selama ini menopang langkahnya dari belakang.
Ambisi untuk mendapatkan pengakuan perlahan mengalahkan hati nurani. Dari sinilah penyakit “tak tahu diri” mulai tumbuh.
Sesungguhnya ambisi merupakan anugerah yang Allah Swt. tanamkan dalam diri manusia. Ambisi mendorong seseorang untuk belajar, bekerja keras, dan memberikan yang terbaik. Namun, ketika ambisi tidak lagi dipandu oleh iman, ia berubah menjadi nafsu untuk dipuji, dihormati, dan dianggap paling hebat.
Akibatnya, keberhasilan tidak lagi dipandang sebagai hasil kebersamaan, melainkan menjadi panggung untuk meninggikan diri sendiri.
Allah Swt. berfirman:
«أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً ۖ فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ»
“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, serta Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya dan meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 23).
Ayat tersebut menggambarkan seseorang yang tidak lagi mampu melihat kenyataan secara utuh. Ia hanya melihat dirinya sendiri. Ia lupa bahwa keberhasilan merupakan hasil kerja sama, kepercayaan, dan pertolongan Allah Swt. Ia merasa seluruh pencapaian lahir dari kecerdasan dan usahanya semata.
Fenomena seperti ini semakin sering dijumpai. Ada orang yang datang ketika semuanya telah berjalan baik, tetapi kemudian tampil seolah menjadi tokoh utama. Ada yang menikmati hasil kerja keras tim, tetapi enggan menyebut nama orang-orang yang telah bersusah payah membangun fondasinya.
Bahkan, tidak sedikit yang dengan mudah menghapus jejak orang-orang yang pernah mengajarinya, membimbingnya, memberinya kesempatan, hingga mengangkat namanya menjadi dikenal banyak orang.
Lebih menyedihkan lagi, mereka yang bekerja tanpa banyak bicara justru sering berada di balik layar. Mereka tidak mencari sorotan. Mereka tidak sibuk mempublikasikan pengorbanannya. Mereka memilih bekerja dengan ikhlas. Namun, ketika keberhasilan diraih, nama mereka perlahan dilupakan, seolah-olah tidak pernah ada.
Padahal Rasulullah saw. telah mengingatkan betapa berbahayanya kesombongan.
«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim).
Kesombongan tidak selalu tampak melalui ucapan yang keras. Kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih halus, seperti enggan mengakui jasa orang lain, merasa paling berjasa, atau menikmati pujian tanpa pernah berbagi penghargaan kepada mereka yang ikut berjuang.
Kesombongan semacam ini justru lebih berbahaya karena sering dibungkus dengan pencitraan yang baik.
Allah Swt. juga berfirman:
«وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ»
“Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman [31]: 18).
Dalam dunia pendidikan, sikap seperti ini sangat berbahaya. Sekolah dibangun melalui semangat kolektif. Kemajuan madrasah merupakan hasil kerja guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, komite, serta masyarakat.
Ketika satu orang mengklaim seluruh keberhasilan sebagai miliknya, sesungguhnya ia sedang meruntuhkan semangat kebersamaan yang menjadi ruh pendidikan.
Rasulullah saw. juga bersabda:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut mengajarkan bahwa bekerja hendaknya diniatkan sebagai ibadah, bukan untuk menjadi orang yang paling dipuji. Sebab, orang yang ikhlas tidak akan keberatan berbagi penghargaan. Ia justru merasa bahagia ketika keberhasilan dinikmati bersama.
Sesungguhnya, orang besar bukanlah mereka yang selalu ingin disebut paling berjasa. Orang besar adalah mereka yang mampu berkata, “Keberhasilan ini bukan hanya karena saya. Ada banyak tangan yang bekerja, banyak hati yang berdoa, dan banyak orang yang berkorban.”
Kalimat sederhana itu menunjukkan keluasan hati dan kedewasaan akhlak.
Pada akhirnya, sejarah selalu mencatat bahwa keberhasilan tidak pernah lahir dari satu nama. Sebuah pohon yang menjulang tinggi tidak akan berdiri tanpa akar yang menghunjam ke dalam tanah. Begitu pula manusia. Setinggi apa pun ia berdiri hari ini, ada orang tua yang membesarkan, guru yang mendidik, sahabat yang menguatkan, rekan yang membantu, dan orang-orang yang memilih tetap bekerja dalam diam.
Karena itu, jangan sampai ambisi membuat kita lupa pada akar tempat kita bertumbuh. Sebab, ketika seseorang mulai merasa dirinya paling berjasa dan melupakan orang-orang yang mengantarkannya menuju keberhasilan, saat itulah ia bukan sedang membesarkan dirinya, melainkan sedang kehilangan hati nurani dan rasa tahu diri.





0 Tanggapan
Empty Comments