Hari ini, 1 Juli 2026, sebuah pesan sederhana di grup WhatsApp mengundang renungan yang begitu mendalam. Seorang sahabat, Kepala MI Muhammadiyah (MIM), menyampaikan pamit karena masa periodisasinya telah usai.
“Sehubungan masa periodisasi kami telah selesai, saya mohon diri. Terima kasih atas bimbingan dan kerja sama selama ini. Mohon maaf apabila selama menjalankan amanah terdapat kekhilafan. Semoga silaturahmi tetap terjalin.”
Kalimat itu terasa begitu biasa, tetapi sesungguhnya sangat menyentuh. Cepat atau lambat, setiap guru, kepala sekolah, maupun aktivis Muhammadiyah akan mengucapkan kalimat serupa. Tidak ada jabatan yang abadi. Yang abadi hanyalah amal, ketulusan, dan jejak pengabdian.
Menjadi kepala sekolah bukanlah pekerjaan ringan. Ada yang mengemban amanah selama dua periode, delapan tahun lamanya. Bahkan ada yang tiga periode atau lebih. Bertahun-tahun mereka mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan sering kali kepentingan pribadi demi kemajuan sekolah dan pendidikan Muhammadiyah.
Pertanyaannya, ketika masa tugas itu berakhir, sudahkah kita memiliki desain penghargaan yang layak bagi mereka?
Bukan karena mereka mengejar materi. Justru para kepala sekolah dan guru Muhammadiyah telah membuktikan bahwa pengabdian adalah panggilan dakwah. Namun, penghargaan adalah bentuk penghormatan organisasi kepada mereka yang telah menunaikan amanah dengan penuh tanggung jawab.
Selama ini, di banyak sekolah Muhammadiyah, belum ada regulasi yang baku mengenai tali asih purna tugas. Akibatnya, kepala sekolah sering kali merasa tidak enak jika harus mengusulkan penghargaan bagi dirinya sendiri. Di sisi lain, jika sepenuhnya dibebankan kepada Majelis, tentu juga tidak mudah karena kemampuan setiap daerah berbeda.
Karena itu, sudah saatnya dirancang skema bersama yang realistis dan berkeadilan. Sekolah bersama Majelis dapat duduk bersama menyusun regulasi sesuai kemampuan masing-masing.
Beberapa sekolah telah memulainya
Penulis jadi teringat diskusi dengan Kepala SD Muhammadiyah Program Khusus Boyolali. Di kota sudah ada desain. Misalnya, kepala sekolah yang mengakhiri masa tugas memperoleh penghargaan material dan nonmaterial. Untuk penghargaan material diberikan sebesar Rp1.000.000 per tahun masa jabatan. Sementara guru yang mengabdi hingga purna tugas pada usia 60 tahun juga memperoleh penghargaan dengan skema yang sama. Meski nilainya tidak besar, penghargaan tersebut menjadi simbol terima kasih atas dedikasi yang telah diberikan.
Di beberapa sekolah Muhammadiyah di Solo, bahkan mulai diterapkan penghargaan berupa logam mulia, misalnya satu gram emas untuk setiap satu periode masa jabatan kepala sekolah, disertai penghargaan nonmaterial seperti malam apresiasi, buku kenangan, atau testimoni dari para guru dan alumni.
Tentu semua itu belum dan tak akan pernah sebanding dengan amal bakti puluhan tahun yang telah dicurahkan. Namun, setidaknya organisasi menunjukkan bahwa pengabdian tidak dibiarkan berlalu begitu saja tanpa penghormatan.
Lebih dari itu, kita juga perlu memikirkan masa tua para guru. Ketika usia semakin senja, kebutuhan ekonomi justru sering meningkat. Biaya kesehatan bertambah, penghasilan berkurang, sementara tanggung jawab keluarga terkadang masih ada. Di sinilah tali asih bukan sekadar hadiah, tetapi wujud kepedulian dan kasih sayang organisasi kepada para pejuangnya.
Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan yang menghargai amal usaha dan perjuangan kadernya. Maka, mendesain sistem tali asih purna tugas bukanlah semata persoalan anggaran, melainkan membangun budaya apresiasi. Budaya yang membuat setiap guru dan kepala sekolah merasa bahwa pengabdiannya dihargai, dikenang, dan didoakan.
Karena pada akhirnya, semua hanya menunggu waktu. Hari ini mungkin sahabat kita yang berpamitan. Besok bisa jadi giliran kita.
Semoga ketika saat itu tiba, yang kita tinggalkan bukan hanya sebuah ruang kerja atau jabatan, tetapi juga jejak kebaikan. Dan semoga organisasi yang kita cintai hadir dengan pelukan penghargaan, sebagai ungkapan sederhana,
“Terima kasih. Engkau telah mengabdi dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah menerima seluruh amal baktimu sebagai investasi pahala yang terus mengalir hingga akhir hayat.” (*)





0 Tanggapan
Empty Comments