Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ada Pelajaran Tekenen dan Rekenen, Melihat Raport SD Muhammadiyah Zaman Belanda

Iklan Landscape Smamda
Ada Pelajaran Tekenen dan Rekenen, Melihat Raport SD Muhammadiyah Zaman Belanda
Cover Raport Hollandsch-Inlandsche School (HIS) II Muhammadiyah Barat, Magetan pada zaman penjajahan Belanda (Foto: Samsul Hidayat/PWMU.CO)

Pada tahun 1938 sekolah Muhammadiyah ternyata punya mata pelajaran yang unik. Namanya Tekenen dan Rekenen, melengkapi 14 mata pelajaran lainnya. Kondisi ini bisa dilihat dari raport sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS) II Muhammadiyah Barat, Karangmojo, Magetan pada zaman penjajahan Belanda.

Bagi warga Indonesia, lebih-lebih yang natural berbahasa Jawa, tentu tidak asing dengan istilah teken dan reken. Teken seringkali dimaknai menandatangani, sementara reken adalah menanggapi. Jika ditambahi imbuhan “en” di belakangnya, ia bermakna sebagai kata perintah.

Setelah ditelisik lebih lanjut, Tekenen ternyata merujuk pada mata pelajaran Menggambar atau Melukis. Sementara Rekenen adalah mata pelajaran Matematika atau Ilmu Berhitung.

Keberadaan Tekenan dan Rekenan ini terlihat dalam raport HIS II Muhammadiyah Barat Magetan. Dalam raport yang tertulis tahun pembelajaran 1939/1940 itu, tercatat ada 16 mata pelajaran. Namun, setelah ditelisik lebih lanjut, hanya 14 mata pelajaran yang diajarkan untuk HIS II.

Demikian raport HIS II Muhammadiyah yang PWMU.CO dapatkan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Magetan.

“Muhammadiyah masuk ke Magetan sejak tahun 1930-an. Adanya raport sekolah HIS II Moehammadijah di Barat ini menjadi bukti yang tidak terbantahkan,” demikian bunyi narasi tersebut.

Raport tersebut masih asli (orisinil) tulisan tangan dengan memakai tinta alami dan berbahasa Belanda. Kurikulum pembelajaran tersusun dari 14 mata pelajaran.

Secara berurutan, ke-16 mata pelajaran yang tercantum dalam raport HIS II adalah sebagai berikut. Untuk tulisan ini, nama yang terdapat dalam tanda kurung adalah terjemahan bebasnya. Yaitu Ned. Spreken (Berbicara Bahasa Belanda), Ned. Lezen (Membaca Bahasa Belanda), serta Ned. Taal (Bahasa Belanda).

Di urutan keempat sampai kedelapan adalah Tafsiroel Qoer’an, ‘Akaid (Aqidah), Quranisch Lezen (Membaca Quran), Fekih (Fiqih), serta Arabische Spelling (Pengenalan Bahasa Arab).

Selanjutnya adalah pelajaran Rekenen (Matematika), Aardijkskunde (Geografi), Natuurkennis (Ilmu Pengetahuan Alam/IPA), serta Natuurkonde (Ilmu Fisika). Selain itu juga ada pelajaran Geschiedenis (Sejarah), Landstaal (Bahasa Daerah), Schrijven (Menulis), serta Tekenen (Menggambar).

Untuk sekolah tingkat HIS II, semua mata pelajaran itu diajarkan kecuali dua. Yaitu Natuurkonde (Ilmu Fisika) dan Geschiedenis (Sejarah). Adapun masa pendidikan selama satu tahun pelajaran yang dibagi dalam 3 kwartal. Atau catur wulan, 4 bulan. Bukan sistem semester sebagaimana dalam pembelajaran 2025/2026.

Sementara untuk nilai raport, sekolah memakai angka 1-10 untuk pengisiannya. Disebutkan 10 adalah bernamkna uitmuntend, sementara 9: zeer goed, 8: goed, 7: ruim voldoende, dan 6: voldoende. Sementara nilai merahnya adalah 5: bijna voldoende, 4: onvoldoende, 3: gering, 2: slecht, serta 1: zeer slecht.

SMPM 5 Pucang SBY

Ada Pelajaran Tekenen dan Rekenen, Melihat Raport SD Muhammadiyah Zaman Belanda
Daftar nilai Raport HIS II Muhammadiyah Magetan milik Kaslan bin Wiryoredjo untuk tahun pelajaran 1939/1940 (Foto: Samsul Hidayat/PWMU.CO)

Serupa dengan sekolah kekinian, raport juga mencantumkan tentang masalah sikap anak di sekolah. Seperti nilai kerajinan, perilaku, absensi, dan sejenisnya. Ada lima item, yaitu vlijt (kerajinan), gedrag (perilaku), verzuimen (ketidakhadiran), wegens zlekten (absen karena sakit), serta om andere redenen (absen karena alasan lain).

Hal yang sangat menakjubkan dari raport itu adalah materi kurikulum yang sudah berkemajuan.

“Dikatakan berkemajuan karena kurikulum pendidikan pada saat itu umumnya masih sangat dikotomi, memisahkan pelajaran dunia (umum) dan ruhani (agama). Tapi HIS Muhammadiyah memadukan antara pelajaran umum dan agama di sekolah yang diselenggarakan,” seperti yang disebutkan dalam narasi.

Pemilik raport itu atas nama Kaslan bin Wiryoredjo. Kaslan masuk kelas satu tertanggal 1 Agustus 1938. Diketahui, Kaslan adalah orang tua kandung ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Barat Magetan, Aris Indarwati.

Dalam suatu kesempatan, lanjut Samsul, Aris pernah bercerita bagaimana bangganya sang ayah terhadap Muhamadiyah. Termasuk mendukung penuh ketiga anaknya untuk berkuliah di perguruan tinggi Muhammadiyah.

Tak heran jika kakak yang pertama dari Aris Indarwati pun kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Program Studi (Prodi) Bimbingan Konseling (1983). Kakak nomor dua Prodi Pendidikan Matematika (1987), dan dirinya di Prodi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 1990.

Keberadaan raport HIS II Muhammadiyah di Barat tahun 1938 ini menegaskan Muhammadiyah memang telah berkembang di Magetan sejak 1930-an. Dalam buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2005”, disebutkan paham Muhammadiyah di Magetan mulai dikenal pada tahun 1930.

Dua sosok penting yang membawa paham Muhammadiyah di Magetan adalah Asisten Wedono, Katayong, serta seorang pegawai yang bernama Moh. Mahdi. Di buku itu juga disebutkan bahwa struktur Muhammadiyah diperkirakan baru berdiri antara pertengahan 1932 sampai dengan awal 1933.

Sebab, pada tahun 1932, nama Magetan belum masuk sebagai salah satu ranting dari Muhammadiyah Cabang Madiun. Barulah pada Juli 1933, Magetan tercantum sebagai salah satu ranting yang berada di wilayah Cabang Madiun. Saat bersamaan juga tercatat Ranting Goranggareng yang kini berada di wilayah Kabupaten Magetan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 01/07/2026 19:33
  • Muhkholidas - 01/07/2026 18:27
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu