Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab IV berjudul “Muhammadiyah Masa Pergolakan (1942-1956)”, sebagian halaman 103, 104, dan 105.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 42
***
Halaman 103
Manfaat yang dapat dipetik dari sikap kooperatif dengan Jepang ialah bahwa para pemimpin di Jawa dilibatkan secara langsung dalam birokrasi pemerintahan. Sekalipun sering harus menelan pil pahit dari keganasan tentara Jepang, bangsa Indonesia memperoleh kesempatan dan pengalaman mengelola suatu badan pemerintahan.
Di antara pemimpin Indonesia yang memegang jabatan tinggi ialah Ir. Sukarno yang memimpin Departemen Urusan Umum (Somubu), dr. Abdul Rasyid memimpin Departemen Urusan Dalam Negeri (Naimubu), Prof. Dr. Mr. Supomo memimpin Departemen Kehakiman (Syihobu), Mokhtar bin Prabu Mangkunegoro memimpin Departemen Lalu-lintas (Kotsubu), Mr. Muhammad Yamin memimpin Departemen Propaganda (Sendenbu), dan Prawoto Sumodilogo memimpin Departemen Ekonomi (Sangyobu). {10}
Selain jabatan tinggi, pekerjaan-pekerjaan rutin birokrasi juga banyak dipegang oleh orang-orang terpelajar. Jumlah mereka yang
Halaman 104
memegang peranan sangat penting itu tidak banyak. Mereka terdiri dari anggota pelbagai organisasi yang diperkirakan berjumlah 50.000 orang, pembaca surat kabar kira-kira 50 orang, murid pelbagai sekolah swasta di Indonesia diperkirakan sekitar 150.000 orang (dua kali lebih banyak dari murid-murid sekolah pemerintah), murid sekolah Muhammadiyah kira-kira 20.000 orang. Mereka, menurut E.Z.Leirissa, tergolong kaum elite. Jumlah penduduk Indonesia di masa pendudukan Jepang diperkirakan 70 juta orang. {11}
- Kebijakan Politik terhadap Umat Islam Jauh sebelum pecah “Perang Asia Timur Raya,” yaitu sejak pertengahan 1930-an, Jepang telah berusaha menarik simpati umat Islam Indonesia ke pihaknya. Menjelang pendaratan pasukan Jepang ke Indonesia, radio Tokyo terus-menerus menyebarkan propaganda, bahwa pasukan Jepang akan membebaskan rakyat Indonesia dari penjajahan Belanda dan akan menghormati agama Islam. Propaganda serupa kemudian disebarkan lewat pesawat terbang. {12}
Propaganda radio Tokyo memperoleh respon positif umat Islam Indonesia. Ini terbukti tatkala MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) {13} memperoleh undangan dari Persarikatan Islam Jepang (Dai Nippon Kaikyo Kyokai) di Tokyo, untuk menghadiri pameran Islam di Tokyo dan Osaka, 5-29 Nopember 1939. MIAI segera mengadakan konperensi khusus untuk membahas undangan itu. Konperensi itu memutuskan setuju untuk hadir. {14}
Pada awal kedatangan Jepang, rakyat —bahkan sebagian pemimpin di Jakarta dan di daerah-daerah— menyambut gembira. Timbul simpati dan harapan baru, bahwa bangsa Indonesia akan terbebas dari belenggu penjajahan Belanda.
Harapan itu memang terbukti, setelah Angkatan Perang Belanda dan Pemerintah Kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Balatentara Jepang. Kenyataan yang terjadi tidak lama setelah Jepang mengumumkan berdirinya Pemerintahan Militer Jepang, rakyat di Indonesia terutama di Jawa menerima perlakuan yang bengis, penghisapan dan penindasan tanpa mengenal perikemanusiaan, oleh tentara Jepang. Rakyat bagai lepas dari mulut singa, masuk ke mulut buaya. Jepang jauh lebih kejam dari Belanda.
Halaman 105
Dalam propagandanya tentang Islam dan umat Islam, Jepang tidak cukup akan menghormati agama Islam saja, tetapi lebih dari itu. Jepang, sebelum mendarat di Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya, menyebutkan tentang persamaan antara Shinto dan Islam. Jepang mengumbar harapan bahwa Kaisar akan beralih agama dan memeluk agama Nabi Muhammad. Pusat kejayaan Islam akan berada di sekitar Kaisar Khalifah Jepang Raya. {15}
Pemerintah Militer Jepang sadar akan tugasnya, yaitu memenangkan perang di Asia dan Lautan Pasifik. Ternyata, angin surga yang dihembuskan Jepang hanya fatamorgana, bahkan ibarat racun yang diolesi madu. Pemerintah Militer Jepang menerapkan dua sikap yang antagonistis, yaitu sikap keras dan sikap moderat.
Sikap keras Pemerintah Militer Jepang dilakukan dalam rangka Nipponisasi, yakni upaya pemaksaan cara hidup Nippon (Jepang), seperti keyakinan, semangat, ideologi, budaya, pendidikan dan bahasa Jepang, kepada penduduk di wilayah kekuasaannya. Nipponisasi terutama ditujukan kepada umat Islam yang diketahui merupakan kekuatan utama di negeri ini, dengan harapan menjadi pilar untuk regenerasi sosial, kultur, dan rasa kebangsaan untuk kepentingan Jepang yang lebih luas. Terjadinya penetrasi spiritual yang mendalam atas kehidupan orang Indonesia menjadi sangat penting, sehingga mempengaruhi semangat dan cita-cita sampai ke tingkat masyarakat bawah. {16}
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments