Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 90 s/d 100.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 40
***
Halaman 90
Catatan:
(1) H.A.R.Gibb, Mohammedanism an Historical Survey (New York: A Mentor Book/The New American Library, 1953), 135-6.
(2) Ibid., 136.
(3) Ibid., 137.
(4) H.A.R. Gibb, Modern Trends of Islam (New York: Octagon Books, 1978), 36.
(5) C.A.O. van Nieuwenhuijze, Aspects of Islam in Post-Colonial Indonesia (The Hague and Bandung: W. van Hoeve Ltd., 1958), 45.
(6) Solichin Salam, K.H. Ahmad Dahlan: Tjita-Tjita dan Perdjoangannja (Djakarta: Depot Pengadjaran Muhammadijah, 1962), 5-6.
(7) Makin Lama Makin Tjinta: Muhammadijah Setengah Abad 1912-1962 (Jakarta: Departemen Penerangan, 1962), 156-7.
(8) Salam, K.H. Ahmad Dahlan, 34.
Halaman 91
(9) HAMKA, “K.H.A.Dahlan,” dalam Prospectus Isi dan Beberapa Penggalan dari Kandungan Kitab jang Bersedjarah Kitab Peringatan 40 Tahun Muhammadijah Sedjarah Pertumbuhan dan Bentuk Organisasi (Jakarta: Panitia Pusat Perayaan 40 Tahun Berdirinya Perserikatan Muhammadiyah, 1952), 27; Aboebakar Atjeh, Sedjarah Hidup KHA.Wahid Hasjim (Jakarta: Panitia Peringatan, 1957), 245.
(10) Periksa Salam, K.H. Ahmad Dahlan, Lampiran IV, 82; dan Berita Tahoenan Moehammadijah Hindia Timoer Tahun 1927, hal. depan.
(11) Jusuf Abdullah Puar, “Kenangan Hari Wafat ke-37 Kijahi Hadji Ahmad Dahlan dan Pembaruan Pembangunan Islam 23 Pebruari 1923 – 23 Pebruari 1960,” Panji Masjarakat No. 17 Th. II (5 Pebruari 1960/18 Sya’ban 1379), 19.
(12) Adanya larangan bagi abdi dalem kraton untuk berdagang, kiranya tidak termasuk K.H. Ahmad Dahlan, karena kedudukannya bukan sebagai abdi dalem atau punggawa kerajaan tingkat atas, melainkan hanya sebagai ketib atau khatib saja yang bekerjanya bersifat temporer dan tidak berada dalam lingkungan istana. Adapun yang menjadi abdi dalem sebenarnya adalah Kyai Khalil Kamaludiningrat. Periksa Salam, K.H. Ahmad Dahlan, 55.
(13) Periksa Makin Lama Makin Tjinta, 13-8 dan 42.
(14) A.R.Fachruddin, “Peringatan Setengah Abad Muhammadijah,” dalam Makin Lama Makin Tjinta, 76; dan Kesaksian tentang Masjid Plampitan Gg.VIII Surabaya oleh Dr.H.Roeslan Abdulgani (lahir 1914) tanggal 9 Mei 1991: “Pada tahun 1920-an langgar ini sering menjadi tempat “tabligh” (yaitu dakwah) tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Sarikat Islam, seperti K.H. Ahmad Dahlan, H.O.S. Tjokroaminoto, Bung Karno dan K.H. Mas Mansur.”
(15) A.R.Fachruddin, “Peringatan Setengah Abad Muhammadijah,” 13.
(16) Kyai Haji Mas Mansur, “Kijahi Hadji Ahmad Dahlan” dalam Amir Hamzah Wirjosukarto, Rangkaian Mutu Manikam: Kumpulan Buah Pikiran Budiman Kijahi Hadji Mas Mansur 1896-1946 (Surabaya: Penyebar Ilmu & Al-Ihsan, 1968), 141.
Halaman 92
(17) Ibid., 142-3.
(18) Makin Lama Makin Tjinta, 16.
(19) Kyai Haji Mas Mansur, “Desa Sjanggit,” dalam Amir Hamzah Wirjosukarto, Rangkaian Mutu Manikam, 153.
(20) Wirjosukarto, Rangkaian Mutu Manikam, 1.
(21) Aboebakar Atjeh, Sedjarah Hidup KHA.Wahid Hasjim, 469; Lothrop Stoddard, Dunia Baru Islam (The New World of Islam): Bab X Kebangkitan Dunia Baru Islam di Indonesia, bab tambahan oleh Tim Penerjemah/Panitia Penerbit (Jakarta, 1966), 323-4.
(22) Kyai Haji Mas Mansur, “Kijahi Hadji Ahmad Dahlan,” dalam Amir Hamzah Wirjosukarto, Rangkaian Mutu Manikam, 142-144.
(23) PDM Surabaya, “Sejarah Berdirinya Muhammadiyah Surabaya,” (Naskah, 2004), 6.
(24) Syaifullah, “Sikap dan Pandangan Hidup Kyai Haji Mas Mansur,” (Skripsi Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, 1985), 72-3; mengutip dari H. Djarnawi Hadikusumo, Matahari-Matahari Muhammadiyah (Yogyakarta: Persatuan, t.th.), 37; Solichin Salam, K.H. Ahmad Dahlan Tjita-Tjita dan Perdjoangannja, 56; Cerita tentang sapu kawat Jawa Timur (yang dimaksud H.Mas Mansur) pada tahun 1960-an sering diucapkan oleh H.Bustami Ibrahim, Ketua PWM Sumatera Utara dan H.Abd.Mu’thi Nurdin SH., Wakil Ketua PDM Sumatera Timur (pen.)
(25) Hamka, “K.H.A.Dahlan”, 30; Aboebakar Atjeh, Sedjarah Hidup KHA.Wahid Hasjim, 248.
(26) S. Edy, “Suka-Duka Muhammadjah Tjabang Surabaja,” dalam Panitia Peringatan Bagian Penerbitan, Kenang-kenangan Muhammadijah Seluruh Indonesia Genap 40 Tahun [18 Nov. 1912-1952] dan Muhammadijah Tjabang Surabaja Genap 31 Tahun [1Nov.1921-1952] (Surabaya: Muhammadijah Tjabang Surabaja, t.th), 33; PDM Surabaya, “Sejarah Berdirinya Muhammadiyah Surabaya,” 9; A. Jainuri, Muhammadiyah Gerakan Reformasi Islam di Jawa Pada Awal Abad kedua Puluh (Surabaya: Bina Ilmu, 1981), 41
Halaman 93
(27) S. Edy, “Suka-Duka Muhammadjah Tjabang Surabaja,” 29; Jainuri, Muhammadiyah, 53
(28) S. Edy, “Suka-Duka Muhammadjah Tjabang Surabaja,” 33
(29) Nurhasan Zein (76 tahun, tokoh tua Muhammadiyah yang aktif sejak Atfal HW), “Cacatan Singkat Riwayat Berdirinya Muhammadiyah Surabaya,” (naskah, 2004), 21. Pada 1932 kecamatan-kecamatan di Surabaya digabungkan dan menjadi daerah Kotapraja dan pada saat itu Muhammadiyah dipimpin oleh H. Abdul Hadi.
(30) Pusat Penelitian dan Kajian UMM, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Daerah Malang Tahun 1926–1989 (Malang: Pusat Penelitian dan Kajian Universitas Muhammadiyah Malang, 1990), 48; dengan sumber Arsyad, putera M. Saeroji [wawancara] di Sumber Pucung, pada 26 Oktober 1988.
(31) Ibid., 49; mengutip BTMHT Tahun 1921, 16 dan 35-36; Muhammadiyah Kepanjen berdasarkan sumber BTMHT Tahun 1927 dan SM dari tahun 1933 sampai dengan 1942 statusnya tercatat sebagai gerombolan/groep (ranting) tidak pernah meningkat menjadi Cabang. Begitu juga dengan Muhammadiyah Sumber Pucung.
(32) Tahun berdirinya Muhammadiyah yang boleh jadi benar adalah tahun 1921, sebab pada 1924 kakak H. Salim sudah masuk sekolah Muhammadiyah dan dia sendiri masuk sekolah Muhammadiyah baru pada 1925. Pada waktu Muhammadiyah berdiri dia berumur antara 4-5 tahun. Selain itu pada 1927 Muhammadiyah Blitar sudah berstatus cabang. Periksa BTMHT tahun 1927, 33.
(33) PDM Blitar/Tim Penulis, saduran dari manuskrip H. Salim, 1.
(34) PDM Blitar/Tim Penulis, wawancara dengan H. Sumardi (Kauman Blitar), tanggal 8-9 September 2004, pkl.19.00 WIB.
(35) Pusat Penelitian dan Kajian UMM, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Daerah Malang, 51; Salam, K.H. Ahmad Dahlan, 56.
(36) Langgar ini di kemudian hari dan sampai sekarang diberi nama “Mushalla Nyai Ahmad Dahlan,” terletak di Jalan Hayam Wuruk Ponorogo.
Halaman 94
(37) Team Penelitian dan Penulisan Sejarah Muhammadiyah Ponorogo, Selintas Perkembangan Muhammadiyah Ponorogo (Ponorogo: Majlis Pustaka Ponorogo, 1991), 21-4; Sugeng Wibowo, “Sejarah Muhammadiyah Ponorogo,” (naskah, 2004), 1-2; Salam, K.H. Ahmad Dahlan, 56; Terdapat perbedaan nama belakang tokoh antara sumber PDM dengan Solichin Salam, yaitu nama Diwiryo dengan Pawiro, tetapi nama depannya sama yaitu Karso.
(38) Team Penelitian & Penulisan Sejarah Ponorogo, Selintas Perkembangan Muhammadiyah Ponorogo, 24-5; Sugeng Wibowo, “Sejarah Muhammadiyah Ponorogo,” 3.
(39) Sugeng Wibowo, “Sejarah Muhammadiyah Ponorogo,” 3.
(40) Pusat Penelitian dan Kajian UMM, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Daerah Malang, 35-6.
(41) Verslag Moehammadijah Madioen Sedjak Berdirinja, 6.
(42) Salam, K.H. Ahmad Dahlan, 61.
(43) Verslag Moehammadijah Madioen Sedjak Berdirinja, 8.
(44) Periksa BTMHT Tahun 1927, 33.
(45) Periksa SM No. 6/1352 Th. XIV (Mei 1933), 67-8.
(46) Periksa SM No. 6/1353 Th.XVI (Desember 1934), 114.
(47) K.H. Fauzan, K.H.Abd.Muchid Djaelani, Fathurrahman Sani (Tim Peneliti), “Laporan Hasil Penelusuran Sejarah Muhammadiyah Jombang,” (naskah, 2004), 1-5; K.H. Fauzan, Sejarah Singkat Berdirinya Muhammadiyah di Jombang (PDM Kabupaten Jombang, 2002), 2-8.
(48) Pusat Penelitian dan Kajian UMM, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Daerah Malang, 36.
(49) Ibid., 53.
(50) Ibid., 51-2.
(51) Ibid., 52.
(52) Ibid., 53-4, mengutip Surat Ketetapan Hoofdbestuur Muhammadiyah Hindia Timoer No.53 [dokumen].
(53) Ibid., mengutip dari “Memperingati 40 Tahun Muhammadiyah se Indonesia di Malang,” 12-3.
Halaman 95
(54) PDM Ngawi/Tim Penulis Sejarah Muhammadiyah Ngawi, “Sejarah Perkembangan Muhammadiyah Ngawi,” (naskah, 2004), 1-5.
(55) Ibid., 1.
(56) Ibid.
(57) Periksa BTMHT Tahun 1927, 33-4.
(58) PDM Ngawi /Tim Penulis Sejarah Muhammadiyah Ngawi, “Sejarah Perkembangan Muhammadiyah Ngawi,” 5.
(59) Ibid. 5-6.
(60) SM No. 1-2 Th. 49 (Januari 1969), 20.
(61) Diposupeno adalah ayahanda dr. Moh.Kusnadi, alumnus MULO Muhammadiyah Bondowoso yang pada masa berikutnya menggantikan ayahandanya menjadi Ketua Cabang Muhammadiyah Bondowoso dan menjadi tokoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 1960-1970-an
(62) Ibid.
(63) Mustakim, Taufiqullah Ahmady, Anas Thohir, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah di Gresik Tahun 1926-2003 (naskah, PDM Gresik, 2004), 67; sumber: Wawancara dengan H. Amanullah, 21 Pebruari 2004; juga periksa Joko Suryo, “Lembaga Perkreditan Rakyat pada Masa Kolonial,” HISTMA No. 3/IV (1994), 23.
(64) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gresik, Memori Milad Muhammadiyah Gresik (Gresik: Majlis Pustaka, 1992), 13. Juga wawancara dengan Amanullah, 21 Pebruari 2004.
(65) “Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Gresik 1926-2003,” 68.
(66) Hal ini bisa dilihat dari Surat Pimpinan Muhammadiyah Cabang Gresik Nomor 001 A-1 1979 tertanggal 30 Desember 1979 yang disetujui oleh PDM Gresik dengan ditandatangani oleh H. Amanullah sebagai Ketua dan Isyfa Ali sebagai Sekretaris.
(67) Saat ini merupakan kawasan Kecamatan Dukun. Hal ini diketahui berdasarkan hasil wawancara dengan H. Amanullah pada 21 Februari 2004, dan dapat dilihat pada laporan resmi Muhammadiyah Kecamatan Dukun (Desember 2004).
(68) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cakru, “Selayang Pandang Muhammadiyah Cabang Cakru,” (1998); PCM Cakru
Halaman 96
Daerah Jember, “Sejarah Berdirinya Muhammadiyah di Cakru,” (naskah, 2003).
(69) Periksa BTMHT Tahun 1927, 33.
(70) PDM Lumajang, “Sejarah Muhammadiyah Lumajang,” (naskah, 2004), 2; data diperoleh dari Yusuf Hidayat, dulu pemilik gedung bioskop al-Hambra (wawancara tahun 1987).
(71) Pusat Penelitian dan Kajian UMM, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Daerah Malang, 15.
(72) PDM Lumajang, “Sejarah Muhammadiyah Lumajang,” 2.
(73) Pusat Penelitian & Pengkajian UMM, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Daerah Malang, 35; mengutip dari Salam, K.H. Ahmad Dahlan, 27.
(74) PDM Kota Probolinggo, “Sejarah Persyarikatan Muhammadiyah Probolinggo,” (naskah, 2004), 1.
(75) PDM Kota Probolinggo, “Sejarah Persyarikatan Muhammadiyah Probolinggo,” 2. Tanggal berdirinya Groep Muhammadiyah Probolinggo pada 18 Maret 1928 perlu diperiksa lagi, karena Groep Probolinggo sudah muncul dalam daftar cabang dan ranting Muhammadiyah Hindia Timoer tahun 1927.
(76) PDM Trenggalek, “Sejarah Muhammadiyah di Daerah Trenggalek” (naskah), 1.
(77) BTMHT Tahun 1927, 33 dan 37.
(78) PDM Bondowoso, “Sejarah dan Perkembangan Muhammadiyah di Kabupaten Bondowoso” (naskah, 2004), 3-4; dengan sumber wawancara dengan Siti Fatimah (lahir 1936), putri Ny. Zaibiyah.
(79) Ibid., 4.
(80) Pusat Penelitian dan Kajian UMM, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Daerah Malang, 15.
(81) Ririn Agustine, “Kiprah Muhammadiyah Daerah Bangkalan” (Skripsi Universitas Muhammadiyah Surabaya, 1991), 37; sumber Soebagijo I. N., KH.Mas Mansur: Pembaharuan Islam di Indonesia (Jakarta: Gunung Agung, 1981), 22.
(82) Ibid.; sumber wawancara dengan H. Abdul Manan Hamid, Socah, Bangkalan (1991).
Halaman 97
(83) Ibid., 38; sumber wawancara dengan Mudakir Joyokusumo, H. Umar Said, Hanafia, semuanya dari Bangkalan (Januari, 1991).
(84) BTMHT Tahun 1927, 33
(85) H. Muh.Ali Sastronegoro, “Riwayat Masuknya Muhammadiyah di Daerah Sumenep,” (stensilan, Sumenep: t.p., 1986), 3.
(86) Ibid.
(87) Ibid., 4.
(88) BTMHT Tahun 1927, 33.
(89) BTMHT Tahun 1927, 33.
(90) Duplikat Surat Ketetapan Cabang Muhammadiyah Pamekasan (dokumen).
(91) Hartono, “Profil Sejarah Muhammadiyah Pamekasan,” (naskah), 1.
(92) Moh. Thohir Aziz, “Sejarah Muhammadiyah Kota Kediri,” (2003), 1-2.
(93) SM No. 3/1351 Th. XIV (Oktober 1932), 18.
(94) SM No. 6/1352 Th. XIV (1933), 66.
(95) SM No. 6/1353 Th. XVI (Desember. 1934), 115.
(96) PDM Banyuwangi, “Sejarah Berdirinya Muhammadiyah Banyuwangi dan Amal-Usahanya,” (naskah, ditulis oleh Abdallah [lh.1942] dari hasil wawancara dengan Mustadjab [1891-1978] pada 1975), 5-9; H. M. Junus Anies, Riwayat Hidup Nyai Ahmad Dahlan Ibu Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Pelopor Pergerakan Indonesia (Jogjakarta: Yayasan Mercu Suar, 1968), 11-2; Salam, K.H. Ahmad Dahlan, 56.
(97) PDM Banyuwangi, “Sejarah Berdirinya Muhammadiyah Banyuwangi dan Amal-Usahanya,” 9; Pada 1927, Muhammadiyah Banyuwangi sudah berdiri dengan status Gerombolan (Ranting; periksa Berita Tahoenan Moehammadijah Hindia Timoer (BTMHT) Tahun 1927 (Jokjakarta: PB Moehammadijah Hindia Timoer, Weltevreden, 1929), 34; Pada 1933 Muhammadiyah Banyuwangi berstatus Cabang dan masuk Daerah Besuki, periksa SM No. 8 Th. XIV (Maret 1935), 209.
(98) Nama Asisten Wedono Katayong hingga kini belum terungkap.
Halaman 98
(99) PDM Magetan, “Catatan untuk Penulisan Sejarah Magetan,” (naskah, 2004), 11.
(100) Ibid.
(101) Periksa SM No. 3/1351, Th. XIV (Oktober 1932), 18; dan SM No. 6/1352 Th. XIV (Mei 1933), 67.
(102) PDM Magetan, “Catatan Penulisan Sejarah Magetan,” 11.
(103) Tidak ada catatan dari mana asalnya.
(104) Muhammadiyah Daerah Kabupaten Nganjuk, “Peringatan Milad Muhammadi- jah (hari lahir 18-11-1912 — 18-11-1966) ke 54,” 11.
(105) Periksa SM Th. XIV (Mei 1933), 67.
(106) Periksa SM Th. XXIII (Pebruari 1941), 30.
(107) Periksa BTMHT Tahun 1927, 34.
(108) Periksa SM No. 6/1352 Th. XIV (Mei 1933), 67.
(109) SM No. 1/1356 Th. XIX (Mei 1937), 29.
(110) PDM Pacitan, “Jawaban Kuesener Sejarah Muhammadiyah Provinsi Jawa Timur,” (naskah), 1.
(111) Tahun berdirinya Muhammadiyah Tuban “1933 M/1346 H” perlu kejelasan. Ranting Tuban boleh jadi sudah berdiri sebelum 1933, sebab pada 15 Juli 1933 sudah masuk dalam “Aderboek Moehammadijah” dan sudah masuk ke dalam daftar cabang dan ranting Muhammadiyah seluruh Hindia Timoer (Indonesia) nomor urut 155, tetapi belum memperoleh nomor besluit (surat ketetapan) dari Hoofdbestuur Muhammadiyah. Periksa SM No. 6/1352 Th. XIV (1933), 67; Tahun hijriyah 1346-nya tidak benar, tahun 1933 itu bertepatan dengan 1352 bukan 1346 H. Sebelum tahun 1932 agaknya Muhammadiyah Tuban memang belum eksis, selain tidak terdapat dalam daftar cabang dan ranting yang ada dalam BTMHT Tahun 1927 dan BTMHT Tahun 1933 saja belum mendapatkan besluit.
(112) Tim Peneliti Sejarah Muhammadiyah, “Laporan Penelitian Sejarah Muhammadiyah Daerah Tuban,” (naskah, 2004), 1.
(113) Tibyani, “Persyarikatan Muhammsdiyah di Mojokerto,” (naskah, 2004), 1.
(114) SM No. 6/1352 Th. XIV (Mei 1934), 67.
Halaman 99
(115) Penyusun, Panti Asuhan Yatim (PAY) Muhammadiyah Jl.K.H. Mas Mansur No. 24 Mojokerto (Mojokerto: Panitia 42 Tahun Panti Asuhan & Reuni I PAY Mojokerto), 17.
(116) Periksa SM No. 8/1353 No. XV (Maret 1935), 209; SM No. 1/1356 Th. XIX (Mei 1937), 29.
(117) Periksa SM No. 1/1356 Th. XIX (Mei 1937), 29.
(118) PDM/Tim Penulis, “Sejarah Muhammadiyah Kabupaten Sidoarjo,” (naskah, 2004), 5; dengan sumber H. Takrip (lahir 1916), mantan murid H. Mas Mansur, mantan Ketua HW dan mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Sepanjang.
(119) Ibid., 6.
(120) SM No. 12/1360 H (30 Januari 1942), 327-329.
(121) Ibid., 37.
(122) SM No. 6/1352 Th. XIV (Mei 1933), 67-8.
(123) SM No. 6/1353 Th. XVI (Desember 1934), 114-6.
(124) SM No. 3/1351 Th. XIV (Oktober 1932), 18.
(125) SM No. 8/1353 Th. XVI ( Maret 1935), 208-110.
(126) SM No. 1/1356 Th. XIX (Mei 1937), 29-30.
(127) Ibid.
(128) Ibid.
(129) SM No. 3/1357 Th. XX (Mei 1938), 67-8.
(130) SM No. 1/1360 Th. XXIII (Pebruari 1941), 20-1.
(131) SM No. 12/1360 Th. XXIII (Januari 1942), 327-8.
(132) Team Penelitian dan Kajian UMM, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Daerah Malang, 15; dari Almanak Moehammadijah Tahun 1924, 40.
(133) BTMHT Tahun 1927, 156- 162.
(134) S. Edy, “Suka Duka Muhammadiyah Tjabang Surabaja,”42.
(135) Soeara ‘Aisjijah No. 8-9 Th. VII (September 1932), 200.
(136) Tim Penelitian & Penulisan Sejarah Muhammadiyah Ponorogo, Selintas Perkembangan Muhammadiyah Ponorogo, 51.
(137) Ibid., 95-7 dan 100.
(138) Ibid., 105-6.
(139) Ibid., 113.
(140) Ibid., 42; gambar yang sama sudah dipajang di Almanak Moehammadijah Tahoen Hidjrijah 1351 ke IX/1931. Mana yang
Halaman 100
benar tahun 1938 seperti yang ditulis oleh Tim Penelitian & Penulisan Sejarah Muhammadiyah Ponorogo atau tahun 1931 seperti yang termuat di Almanak Moehammadijah?
(141) Maandblad (Majalah Bulanan) Brantas No. 9/1356 (Pebruari 1938), 164; kutipan lengkap “Pidato Toean Radjab Ganie dalam sidang peraja’an 10 tahoen berdirinja Polikliniek Moehammadijah tjabang Malang.”
(142) Ibid., 166.
(143) Ibid., 164.
(144) Ibid., 167.
(145) Ibid.
(146) Ibid.
(147) Arsip sebagai dokumen masih tersimpan (sebagian) di Perpustakaan PP Muhammadiyah Jalan Cik Ditiro Jogjakarta.
(148) K.H. Mas Mansur menulis beberapa artikel di majalah ini, antara lain untuk penerbitan No. 1 (1 Maret 1937), No. 3 (1 Mei 1937), No. 4 (1 Juli 1937), dan No. 5 (1 Agustus 1937); periksa Wirjosukarto, Rangkaian Mutu Manikam.
(149) SM No. 4/1356 Th. XIX (Juli 1937), 119-121.
(150) Singkatan PKO diubah menjadi PKU dengan kepanjangan yang sama, yaitu Penolong Kesengsaraan Umum oleh Sidang Majelis Tanwir di Jogjakarta tanggal 19-24 Agustus 1951; periksa SM No. 14 (Nopember 1951), 180.
(151) Ibid., 44.
(152) Ibid.
(153) Ibid., 46.
(154) Maandblad Brantas No. 9/1356 (Pebruari 1938), 163.
(155 Tim Penelitian & Penulisan Sejarah Muhammadiyah Ponorogo, Selintas Perkembangan Muhammadiyah Ponorogo, 53.
(156) Edy S., “Suka Duka Muhammaijah Tjabang Surabaja,” 47.
(157) Maandblad Brantas No. 9/1356 (Pebruari 1938), 163-4.
(158) Tim Penelitian & Penulisan Sejarah Muhammadiyah Ponorogo, Selintas Perkembangan Muhammadiyah Ponorogo, 51.
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments