Amerika Serikat dan Iran masih memiliki waktu kurang dari 60 hari untuk mencapai kesepakatan damai permanen. Namun hingga kini, kedua negara masih menunjukkan perbedaan pandangan terhadap sejumlah poin dalam nota kesepahaman yang disepakati pada Juni 2026.
Belum ada kepastian mengenai jadwal pertemuan lanjutan antara kedua pihak. Mengutip aljazeera, Negosiator senior Iran, Kazem Gharibabadi, menyebut situasi saat ini masih sensitif dan kompleks.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui media sosial menyatakan bahwa Iran telah meminta pertemuan yang akan berlangsung di Doha. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah adanya agenda perundingan dengan Amerika Serikat dalam waktu dekat.
Menurut Baghaei, Iran hanya akan mengirim delegasi teknis ke Qatar pada pekan ini tanpa agenda pertemuan resmi dengan pihak Amerika Serikat.
Sejumlah isu masih menjadi pembahasan dalam proses negosiasi, di antaranya pengaturan di Selat Hormuz, keringanan sanksi terhadap Iran, serta masa depan persediaan uranium yang diperkaya.
Sesuai nota kesepahaman, seluruh aksi militer seharusnya dihentikan sebelum pembicaraan lanjutan dilakukan. Namun setelah terjadinya saling serang pada akhir pekan, Iran mengancam akan menghentikan seluruh proses negosiasi apabila serangan Amerika Serikat kembali berlanjut.
Pada Senin (29/6/2026), kedua pihak dilaporkan tidak lagi melakukan serangan sehingga situasi relatif lebih tenang.
Persoalan lain yang masih menjadi perbedaan adalah pengelolaan Selat Hormuz. Dalam kesepakatan sementara disebutkan jalur pelayaran internasional harus kembali dibuka. Namun Iran menegaskan tetap memiliki kewenangan dalam pengaturan lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan setiap upaya membentuk mekanisme baru di luar pengaturan yang dijalankan Iran hanya akan memperumit proses pembukaan kembali Selat Hormuz dan meningkatkan ketegangan.
Pemerintah Amerika Serikat, di sisi lain, menyatakan kapal-kapal komersial sudah dapat kembali melintas secara bebas sesuai kesepakatan sementara. Meski demikian, arus pelayaran disebut masih berada di bawah tingkat sebelum konflik berlangsung.
Selain Selat Hormuz, perkembangan situasi di Lebanon juga menjadi perhatian dalam proses diplomasi.
Iran menilai penghentian konflik di Lebanon harus disertai penarikan pasukan Israel dari wilayah selatan negara tersebut sebelum pembahasan isu lain dilanjutkan.
Pemimpin Hezbollah, Naim Kassem, menyatakan kelompoknya akan tetap menolak pendudukan Israel di Lebanon selatan dan menilai usulan mengaitkan penarikan pasukan Israel dengan pelucutan senjata Hezbollah sebagai langkah yang berbahaya.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon selatan hingga Hezbollah dan kelompok bersenjata lainnya dilucuti serta tidak lagi dianggap menjadi ancaman bagi Israel.
Di saat yang sama, Amerika Serikat juga memfasilitasi pembicaraan terpisah antara pemerintah Lebanon dan Israel mengenai situasi keamanan di kawasan tersebut.
Meski bentrokan berskala kecil masih dilaporkan terjadi di Lebanon, proses diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran tetap menjadi fokus utama dalam upaya mencapai kesepakatan damai permanen dalam tenggat waktu yang telah disepakati.





0 Tanggapan
Empty Comments