Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Roeslan Abdulgani Tentang Pengajian Muhammadiyah yang Diikutinya

Iklan Landscape Smamda
Roeslan Abdulgani Tentang Pengajian Muhammadiyah yang Diikutinya
Roeslan Abdulgani Tentang Pengajian Muhammadiyah yang Diikutinya

Di antara tokoh nasional yang pernah bersentuhan dengan gerakan Muhammadiyah masa kolonial, Roeslan Abdulgani menempati posisi yang menarik. Tokoh yang kelak dikenal sebagai diplomat ulung, pejuang kemerdekaan, dan Menteri Luar Negeri Indonesia itu ternyata memiliki pengalaman langsung mengikuti pengajian-pengajian Muhammadiyah di Surabaya.

Pengalaman itu dituliskan Roeslan dalam buku Makin Lama Makin Tjinta, Setengah Abad Muhammadiyah. Catatan yang menjadi gambaran dari seorang intelektual muda yang menyaksikan langsung bagaimana Muhammadiyah bekerja. Di tengah masyarakat yang sedang dihimpit krisis ekonomi dan tekanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda

Roeslan mengawali kesaksiannya dengan membandingkan Muhammadiyah dengan gerakan modernisasi Islam lain yang berkembang di Indonesia pada masa itu. Yang ia sebut adalah Jong Islamieten Bond (JIB). Organisasi pemuda Islam yang banyak dihuni kalangan pelajar dan intelektual muda.

Menurut Roeslan, JIB lahir dalam situasi ketika banyak orang tua Muslim khawatir anak-anak mereka yang menempuh pendidikan Barat akan menjauh dari ajaran Islam. Karena itu, organisasi tersebut berupaya menjaga hubungan generasi muda dengan nilai-nilai keislaman. Jalannya adalah lewat berbagai karya tulis dan aktivitas intelektual.

“JIB bergerak di lapisan intelek muda,” tulis Roeslan. Organisasi itu menghasilkan banyak tulisan yang bertujuan mendorong para pelajar agar tidak melupakan ajaran Islam. Apalagi ketika berhadapan dengan pendidikan sekuler ala Barat. “Tulisan-tulisan itu biasanya bercorak popular, tapi ilmiah.”

Bagi Roeslan, pendekatan JIB sangat penting dalam membangun kesadaran intelektual Islam. Namun, ketika berbicara tentang Muhammadiyah, ia menemukan sesuatu yang berbeda. Jika JIB banyak bergerak di ruang pemikiran dan intelektualisme, Muhammadiyah yang ia kenal justru hadir langsung di tengah kehidupan masyarakat.

Roeslan mengenal Muhammadiyah melalui tabligh atau pengajian-pengajian yang diselenggarakan di berbagai kampung di Surabaya. Ia menyebut sejumlah lokasi yang pernah ia datangi. Yaitu langgar-langgar di Plampitan, Peneleh, Blauran, Ngampel, dan beberapa kawasan lain di Surabaya serta sekitarnya. “Bagi masyarakat yang saya kenal itu Muhammadiyah sering diidentifsir dengan tabligh.”

Menurutnya, tabligh Muhammadiyah tidak berhenti pada penyampaian teori keagamaan semata. Pengajian-pengajian itu mengarahkan umat kepada amal nyata dalam kehidupan sosial. Agama tidak dipahami sebagai kumpulan konsep abstrak, melainkan sebagai kekuatan yang harus diwujudkan dalam tindakan.

SMPM 5 Pucang SBY

“… menjurus langsung ke amal perbuatan di tengah-tengah masyarakat yang lebih luas, dengan dapat pula menarik setiap jiwa patrit dan memberikan dasar-dasar teguh bagi setiap jiwa,” tulis Roeslan tentang sifat tabligh Muhammadiyah.

Kesan inilah yang membedakan Muhammadiyah dari banyak gerakan lain pada zamannya. Muhammadiyah hadir bukan hanya untuk menjelaskan ajaran Islam, tetapi juga untuk mendorong masyarakat melakukan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, menurut Roeslan, tidak mengherankan jika Muhammadiyah memperoleh tempat yang penting di hati masyarakat. Organisasi ini mampu menjawab kebutuhan zaman, bukan hanya kebutuhan intelektual, tetapi juga kebutuhan psikologis dan spiritual masyarakat yang sedang menghadapi berbagai kesulitan.

Para mubaligh tersebut, menurutnya, umumnya berasal dari kalangan pengusaha menengah, tukang merdeka, dan guru-guru swasta. Mereka mencari nafkah melalui usaha sendiri sehingga memiliki kebebasan dalam menyampaikan keyakinan dan gagasannya.

Roeslan juga menulis bahwa gerakan Muhammadiyah disinari oleh “sumber rationaliteit dan sumber iman yang kuat.” Dua unsur yang menjadi fondasi bagi setiap teori dan ilmu pengetahuan.

Itulah kesan yang tertanam dalam ingatan Roeslan Abdulgani. Sebuah kesan yang lahir dari pengalaman langsung mengikuti pengajian Muhammadiyah di kampung-kampung Surabaya, dan yang tetap dikenangnya bahkan puluhan tahun kemudian.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 26/06/2026 21:40
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu