Pada tanggal 24 hingga 30 Juni 1978, Surabaya sukses menjadi tuan rumah Muktamar ke-40 Muhammadiyah. Meski hasil kerja bersama, tapi satu nama patut dicatat sebagai sosok di balik kesuksesan muktamar ini. Yakni Wisatmo, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya saat itu.
Nama Wisatmo sangat pantas disebut. Sosok yang komitmennya cukup kuat terhadap Muhammadiyah, bahkan jauh hari sebelum muktamar ke-40 tersebut. Khusus muktamar yang pembukaannya di Stadion Gelora 10 November Tambaksari itu, Wisatmo cukup sukses dalam segala sisi penyelenggaraan acara.
Muktamar tidak hanya dihadiri utusan resmi, tapi juga banyak penggembira dari berbagai daerah, terutama Jatim. Upacara pembukaan Muktamar juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, pawai ta’aruf, kesenian Reog Ponorogo, dan penampilan Drum Band pelajar Muhammadiyah Surabaya.
Berbagai sidang di kompleks perguruan Muhammadiyah Kapasan berlangsung lancar. Meski Muktamar dilingkupi situasi sosial politik yang bergerak dinamis pasca pemilu 1977: Undang-Undang tentang Perkawinan, perdebatan Aliran Kebatinan/Kepercayaan di Sidang MPR 1978, serta “Komando Jihad”.
Sementara pameran pembangunan ekonomi yang dipusatkan di Balai Pemuda juga mendapat banyak kunjungan. Belum lagi keramahan warga Muhammadiyah Surabaya yang rumahnya menjadi penginapan peserta dan penggembira dari luar Surabaya, membuat pelaksanaan Muktamar ke-40 itu cukup sukses.
Wisatmo memang bukan nama asing dalam pergerakan Muhammadiyah Surabaya maupun Jatim. Sejak didirikan di Jatim untuk pertama kalinya pada 1 November 1921, ia sudah terlibat di dalamnya. Keaktifannya dalam menebar ide pembaruan terus tercatat harum dalam sepanjang hayat mengandung badannya.
Dia menjadi salah satu saksi dan pelaku perkembangan struktur Muhammadiyah. Mulai Cabang Surabaya, Konsul Hoofdbestuur (HB) Daerah Surabaya, Perwakilan PB Daerah Surabaya, Perwakilan PB Wilayah, Pimpinan Muhammadiyah Wilayah, hingga Pimpinan Wilayah Muhammadiyah.
Wisatmo identik dengan Muhammadiyah Surabaya. Meski dia kelahiran Gondanglegi, Malang, 12 Juli 1904 dari seorang petani bernama Reksowidagdo. Entah bagaimana ceritanya, pada awal 1920-an, dia hidup di pusat kota Surabaya yang juga membawanya berkenalan dengan dakwah pembaruan Islam.
Wisatmo termasuk kalangan muda yang aktif menjadi peserta dalam setiap pengajian “cikal-bakal” Muhammadiyah. Tak heran ketika K.H. Mas Mansur mendirikan Muhammadiyah Surabaya pada 1 November 1921, Wisatmo menjadi salah satu suporternya. “Beliau ikut-ikutan mendirikan Muhammadiyah,” begitu anak keenam Wisatmo, Mukti Hari, pada 2011 silam.
Ketika Kepanduan HW Cabang Surabaya didirikan, Wisatmo tercatat sebagai salah satu pengurusnya bersama M. Idris, M. Machin, Asj’ari, Sukardi, Suprapto, M. Kaspan, Isma’il, dan Somo. Pelantikannya dilakukan di sekolah ‘Aisyiyah (Pandean Gang I), dengan pusat kegiatan di halaman Madrasah Mufidah. Dalam kepanduan ini, Wisatmo di kemudian hari menjadi Menteri Daerah HW Karesidenan Surabaya.
Wisatmo juga ikut merasakan Muhammadiyah Surabaya ketika mengalami cobaan dan krisis organisasi pada 1927. Untuk meneguhkan kembali komitmen berorganisasi, KH. Mas Mansur melakukan semacam “bai’at” terhadap beberapa kaum muda untuk berjuang bersama-sama. Dalam catatan S. Edy (Suka Duka Muhammadiyah Tjabang Surabaya: 1952), peristiwa itu terjadi pada Ahad dinihari pukul 01.00 wib, tanggal 1 Muharram 1346, bertepatan dengan 1 Juli 1927.
Ke-20 orang yang berkomitmen itu di kemudian hari dikenal dengan nama “Wali Rongpuluh”, yaitu 20 wali (bapak) atau Pamong Muhammadiyah Surabaya. Selain Mas Mansur dan Wisatmo, yang ikut dalam ikatan ini adalah Kiai Utsman (Kaliasin), Wondowidjojo (saudara Menteri Dalam Negeri 1947), Tjiptoredjo (Genteng), Mas Getong, Hardjodipuro, M. Saleh Ibrahim, Mas Idris, Soemoredjo, Abd. Barry, H. A. Rachman Utsman, M. Saleh Tjilik, HM. Orip Temenggungan, Jaminah (Genteng), Sariman, Andjarsunjoto, M. Badjuri, Soeroatmodjo, dan Martodjojo.
Begitu juga saat KH Mas Mansur mengadakan revitalisasi Pimpinan Muhammadiyah Cabang Surabaya pada 5 April 1930. Wisatmo juga tercatat sebagai salah satu pengurusnya.
“Begitoe djoega tentang soesoenan Bestuurs tjabang, dioebah sebagai terseboet dibawah ini,” begitu laporan Suara Muhammadiyah Nomor 24 terbitan 14 Mei 1930, halaman 552.
KH Mas Mansur sebagai Voorzitter, sebutan ketua saat itu. Didampingi S. Wondowidjojo sebagai Wakil Ketua, serta Ardjosepoetro sebagai bendahara (penningmeester). Sementara Soediroatmodjo sebagai Sekretaris I, dan Badjoeri di sekretaris II. Adapun anggota pimpinan cabang lainnya, saat itu bernama Komisaris (Commissarissen) adalah E Hamid, H Oerip, Pa. Jaminah, dan Wisatmo.
Nama Wisatmo juga tercatat dalam perjalanan Pemuda Muhammadiyah Daerah Surabaya. Dalam Konperensi di Sidoarjo, 26-29 Maret 1937, Wisatmo ditetapkan sebagai Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah (WMPM). Amanat serupa dengan nama Pembantu WMPM kembali dikukuhkan dalam Konperensi ke-10 di Mojokerto, 16-18 Desember 1938, yang kali ini didampingi Slamet. Konperensi juga menetapkan susunan pemimpin daerah sebagai berikut: WMPM dijabat oleh Tamsi (Kampung Kemasan Gresik); dan Menteri Daerah HW dijabat Semail (Kemuteran Gresik).
Seusai berhidmat di ortom, Wisatmo menerima tanggung jawab lebih besar dengan aktif sebagai pimpinan Persyarikatan. Ketika K.H. Mas Mansur terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah pada 1938, posisinya di Konsul Surabaya digantikan KH. Fakih Usman (Ketua) dan Tamsi (Sekretaris), dan Wisatmo tercatat sebagai anggota Majelis Konsul bersama Wondowijoyo, M. Saleh Ibrahim, dan Siti Aminah.
Struktur ini tampaknya tetap bertahan hingga bertahun-tahun, bahkan tidak mengalami perubahan. Sebab, semua orang disibukkan dengan perjuangan mengusir penjajah Jepang dan Belanda. Kegiatan Muhammadiyah pada tahun 1940-an hingga proklamasi mengalami kevakuman.
Barulah pada tahun 1947-an, Muhammadiyah di Surabaya kembali “hidup”. Selanjutnya halaman 2





0 Tanggapan
Empty Comments