Baru pada 1947, menurut almarhum Moeslimin (lahir 1940) pada 2011 lalu, –mengutip para seniornya–, Muhammadiyah mulai kembali mengadakan aktivitasnya. Pengajian memang belum dalam bentuk “terbuka”. Tetapi masih terbatas dari jamaah ke jamaah, dan dari rumah ke rumah. Meski demikian, untuk seluruh wilayah Surabaya, penyebarannya sudah hampir merata di seluruh kecamatan. “Pada periode ini, Wisatmo dipercaya sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya, hingga enam tahun berikutnya.”
Pada 1953, jabatan ketua beralih ke dr. Moh. Suwandhie (namanya diabadikan sebagai nama RSUD Surabaya). Sementara Wisatmo duduk sebagai Pengamat Besar bersama M. Saleh Ibrahim dan Aunur Rafiq Mansur (wakil ketua), A. Syukur Idris dan Suhaimi Ihsan (sekretaris), Ajarsunyoto (bendahara), HA. Rahman Utsman (Pengamat Urusan Agama), R. Usman Muttaqin (Bagian PKU), HM. Mahin (Bagian Pengajaran), dan Abdillah (Bagian Tabligh). Dalam masa kepemimpinan Soewandhi selama 11 tahun (1953-1964), Wisatmo pernah dipercaya sebagai sekretaris.
Praktis, hanya dalam masa kepemimpinan KH Anwar Zain, (Ketua Muhammadiyah Surabaya 1962-1968), dan Oesman Muttaqien (Ketua Muhammadiyah Jatim 1965-1968), nama Wisatmo “belum ketemu” diamanahi jabatan apa.
Meski demikian, dapat dipastikan dia ikut terlibat dalam kepemimpinan, karena semua sumber oral histories Muhammadiyah Jatim pada zaman itu selalu menyebut namanya. Penyebutan ini tidak lepas dari penampilannya yang sangat berbeda dengan personal lain sezamannya.
Ketika koleganya masih mengandalkan becak dan delman sebagai sarana transportasi, Wisatmo telah punya kendaraan pribadi sepeda motor Radex Express produksi Jerman Timur. Kehadirannya dalam rapat-rapat Muhammadiyah selalu ditandai dengan suara motornya yang bisa didengar dalam jarak lumayan jauh.
Dalam periode selanjutnya (1966-1971), juga tidak ketinggalan dalam kepemimpinan Muhammadiyah Surabaya di bawah Aunurrafiq Mansur. Ketika putra Mas Mansur ini kembali dipercaya sebagai Ketua PDM Surabaya periode 1971-1974, Wisatmo bersama Sismono menjadi Wakilnya. Pada periode selanjutnya (1974-1978), Wisatmo terpilih sebagai ketua, dan berlangsung hingga usai Muktamar ke-40 di Surabaya.
Sementara dalam PWM Jatim, Wisatmo juga beberapa kali terpilih sebagai anggota pimpinan. Dalam Musywil pada 26-27 Dzulqa’dah 1399/28-29 Oktober 1978, dia terpilih sebagai 1 dari 9 pimpinan, yang dalam rapatnya pada 20 Desember 1978 mempercayakan K.H. M. Anwar Zain sebagai Ketua PWM Jatim periode 1978-1981 yang bertahan hingga 1985. Wisatmo sendiri juga dipercaya sebagai Ketua Majelis Wakaf dan Kehartabendaan. Dalam kepemimpinan PWM 1985-1990 yang diketuai K.H.M. Anwar Zain dan Sekretaris M. Mustaqim Fadhil, dia duduk di jajaran Penasehat bersama H. Mas’ud Atmodiwiryo.
Dalam masalah ketertiban administrasi, banyak pihak menilai Wisatmo sebagai salah satu rujukan. Salah satu dokumentasi penting yang pernah dilakukan saat memimpin Muhammadiyah Surabaya – saat itu berstatus cabang – adalah perayaan 40 tahun Muhammadiyah, dan 31 tahun Muhammadiyah Surabaya. Wisatmo sebagai Ketua Cabang Surabaya mencatat secara rapi dalam buku “Kenang-kenangan 40 Tahun Muhammadiyah Seluruh Indonesia, 31 Muhammadiyah Tjabang Surabaja”.
Buku tersebut menjadi salah satu rujukan terpenting bagi orang yang ingin mendalami perkembangan Muhammadiyah Surabaya maupun Jatim. Dalam buku ini juga terekam secara jelas bagaimana catatan maupun gambar kegiatan Muhammadiyah pada zaman itu serta periode-periode sebelumnya.
Untuk memeriahkan 31 tahun Muhammadiyah Surabaya tersebut digelar beragam kegiatan. Diantaranya resepsi umum, penerbitan buku peringatan, mendirikan Panti Asuhan di Jl. Gresikan, dan khitanan massal. Juga beragam perlombaan olahraga, kepanduan, qira’atul Quran, berpidato, menyanyi, dan lain-lain. Buku ini juga menunjukkan bagaimana hubungan mutualisme antara Muhammadiyah dan pemerintah, dengan adanya sambutan Gubernur, Kepala Kepolisian, Panglima Kodam, Walikota, dan lain-lain.
Punya Tempat di Hati Kaum Muda
Wisatmo punya tempat tersendiri di mata kalangan angkatan muda Muhammadiyah. Bahkan, karena demikian seringnya menyemangati kaum muda untuk menggerakkan Muhammadiyah, nasehatnya yang khas Surabaya justru dijadikan nama panggilannya: Pak Por Ketepor.
“Por Ketepor, paling gak dilakoni,” begitu dia sering menyemangati kalangan muda, yang berarti “por ketepor, paling tidak dikerjakan”. Nasehat memang membuat AMM selalu berkreasi agar terhindar dari “por-ketepor”, apalagi bapak-bapak di Muhammadiyah telah memberi contoh dengan selalu beraktivitas “niat tandang, niat tandang”.
Komitmen Wisatmo dalam membimbing kaum muda tidak setengah-setengah. Bahkan sering terjun dalam dunia mereka. Saat Milad Muhammadiyah ke-47 pada tahun 1959 misalnya, Wisatmo juga ikut berperan dalam pementasan drama tentang Fathu Makkah yang disutradarai oleh kalangan AMM. Bertempat di cultuur stadstuin/Taman Budaya Surabaya, – sekarang gedung Bank Indonesia Surabaya – Wisatmo yang saat itu sudah berusia 55 tahun masih saja mau ikut bermain.
Diantara salah satu peran terpenting yang harus ada adalah patung yang berdiri tegap di sekitar Ka’bah. Maka, dipilihlah Wisatmo yang memang punya perawakan tinggi besar. Karena pada zaman itu cat belum sebanyak sekarang, maka digantilah minyak teer (aspal cair) yang dilaburkan ke seluruh tubuhnya. Setelah semua tubuhnya hitam lebam, Wisatmo beradegan duduk terus sambil ditemani kemenyan di sekelilingnya.
Wisatmo jatuh pingsan. Baca halaman 3





0 Tanggapan
Empty Comments