Bertepatan saat tentara Islam datang ke Makkah, tiba-tiba “patung” Wisatmo jatuh tersungkur. Karena tubuhnya tinggi besar, maka jatuhnya pun menimbulkan suara lumayan keras: gedebug!. Sontak penonton pun bertepuk tangan meriah, karena mengira apa yang dilakukan Wisatmo adalah bagian dari skenario. Banyak yang mengira aksinya itu sebagai penanda kemenangan Islam, dan tumbangnya kemusyrikan.
Namun sang sutradara Ja’far Hasan, langsung berinisiatif mencari tahu tumbangnya Wisatmo. Sebab, dalam skenario, apa yang dilakukan Wisatmo belum saatnya diperagakan. Usut punya usut, ternyata ia jatuh pingsan. Minyak teer telah membuat pori-porinya tertutup rapat, sehingga dalam waktu berjam-jam akan membuat siapa pun akan pingsan. Tak heran jika pementasan drama belum selesai, Wisatmo harus mengakhirinya lebih awal untuk pindah ke ruang perawatan.
Wisatmo diambil menantu oleh koleganya sesama “Wali Rongpuluh”, Kiai Utsman. Ia dinikahkan dengan Dewi Aisyah pada 1928. Setelah menikah, pasangan ini menetap di Kaliasin (belakang Tunjungan Plaza), dan dikaruniai 9 anak: Susiani & Susiati, (kembar, meninggal dunia karena prematur), Mukti Ani (Jakarta, wafat 1986), Ulfami (Srono, Banyuwangi, wafat 1986), Mastuti (Jl. Karah Indah), Mukti Hari (Kaliasin VII/7), Mukti Mahfud (Jakarta), Mukti Ahmadi (Jl Cenderawasih Rewwin Waru), dan Febriana (Simorejo).
Pada zaman Jepang (1942), Wisatmo sudah bekerja di bank, yang sekarang menjadi BRI Kaliasin. Seiring kedatangan Belanda NICA pada 1945, Wisatmo juga ikut mengangkat senjata untuk menghalau penjajah, bergabung dalam Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang didirikan Bung Tomo. Alasan dia bergabung dengan kelaskaran ini, karena Bung Tomo adalah sosok penggerak perang terpenting di Surabaya.
Sebagai salah satu “wakil” organisasi Islam dalam BPRI, kedudukan Wisatmo dalam laskar ini lumayan cepat. Dalam akhir pengabdian sebelum semua kelaskaran dilebur ke dalam TNI, Wisatmo dipercaya sebagai Ketua Sektor BPRI Malang Selatan yang meliputi Malang Raya, Mojokerto, Blitar, Nganjuk, dan sekitarnya. “Ketika beliau berada di front depan menghadang musuh, kita disembunyikan,” begitu cerita anaknya, Mukti Hari.
Cerita pertempuran memang harus dilalui Wisatmo dan keluarganya, termasuk ketika dalam perjalanan mengungsi sesaat setelah Surabaya berhasil direbut NICA awal 1946. Tak heran jika rute pengungsian yang dilaluinya sangat berbeda dengan jalur yang dilewati rakyat biasa.
Jika rakyat biasa segera mengungsi untuk menghindari perang, pasukan Wisatmo punya tambahan tugas, menghambat pergerakan musuh. Tak heran jika jalur pengungsian rombongan ini cukup unik seusai keluar dari Surabaya: Perning (Mojokerto), Tretes, Malang, Blitar, Gondanglegi.
Kegiatan Wisatmo dalam dunia pertempuran berakibat pada cedera hingga akhir hayatnya. Meski tidak sampai fatal, lutut kirinya tertembak musuh saat kontak senjata melawan Belanda di Nganjuk. Luka tembak dialaminya ketika memimpin satu kompi pasukan dari Surabaya-Magelang-Yogyakarta-Malang. Saat itu, dia mendapat undangan dari pimpinan tentara Republik A.H. Nasution untuk rapat bersama di Magelang.
Selama menempuh perjalanan Surabaya-Magelang, seratusan pasukan Wisatmo mengalami beberapa kali kontak senjata dengan Belanda. Apalagi setelah acara di Magelang, Wisatmo diminta A.H. Nasution “mampir” ke Yogyakarta untuk membantu pasukan Seoharto (mantan Presiden RI). Setelah tugas di Yogyakarta selesai, pasukan ini baru melanjutkan perjalanan pulang ke Jatim, dengan tujuan Kepanjen, Malang. Beberapa kali pasukan ini mengalami kontak senjata.
Wisatmo kembali ke Surabaya sekitar tahun 1947-an. Ketika semua ragam laskar di Republik ini dilebur dalam TNI. Namun, ia tidak meneruskan karirnya di dunia militer. Dia memilih jadi pegawai di Jawatan Penerangan (Departemen Penerangan), dan pernah menjadi Ketua Departemen tingkat Surabaya, hingga pensiun pada 1960.
Meski sebagai PNS, Wisatmo aktif dalam Partai Masyumi. Dari partai inilah dia duduk sebagai anggota DPRD Surabaya (1955-1959). Dalam kenangan keluarganya, Wisatmo mempunyai kedekatan yang “lebih” dengan Soekarno.
Kedekatannya terbangun sejak sama-sama menjadi pemuda di sekitar Peneleh pada 1920-an. Setiap Soekarno berkunjung ke Jatim, Wisatmo selalu menjadi salah seorang yang selalu mendampinginya. Selain itu, dia setiap tahun juga mendapat kiriman ucapan selamat Idul Fitri dari Soekarno.
Namun kedekatannya terjalin hanya dalam urusan pribadi, karena secara politik sangat berbeda. Lebih-lebih setelah Soekarno mengeluarkan kebijakan Nasakom, yang sangat ditentang aktivis Masyumi. Tak heran jika Wisatmo dan M. Saleh Ibrahim, yang pernah diminta Soekarno agar salah satunya mau menjadi Menteri Sosial Kabinet Kerja III, keduanya sama-sama menolak. “Meski demikian hubungan bapak dan Pak Karno tidak meruncing,” cerita Mukti Hari.
Keseharian Wisatmo memang dikenal sebagai orang tegas dan irit bicara: hanya berbicara yang penting-penting saja. Pengalamannya di dunia kemiliteran sangat mempengaruhi dirinya sebagai sosok yang serius dan tegas. Meski demikian, keiritannya berbicara akan berubah total saat dirinya sudah berada di atas podium. Pemilik suara keras ini betah berpidato berjam-jam. Lebih-lebih jika yang dibicarakan adalah masalah politik yang berkenaan dengan pertarungan umat Islam versus Komunis.
Sebagai penggerak Muhammadiyah periode awal, Wisatmo hanya punya sedikit waktu berkumpul keluarga. Meski tidak mengurangi kualitas dalam membimbing putra-putrinya, Wisatmo banyak mencurahkan aktivitasnya untuk Muhammadiyah. Ia wafat pada 20 Juni 1995, dalam usia 91 tahun.





0 Tanggapan
Empty Comments