Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof. Din Syamsuddin: Hijrah Harus Melahirkan Umat Bermarwah, Bukan Generasi Rebahan

Iklan Landscape Smamda
Prof. Din Syamsuddin: Hijrah Harus Melahirkan Umat Bermarwah, Bukan Generasi Rebahan
Prof. Din Syamsuddin ikut meluncurkan program baru di lingkungan PCM Bubutan. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Hijrah tidak boleh dimaknai sekadar perpindahan tempat atau ritual tahunan dalam kalender Islam. Lebih dari itu, hijrah merupakan proses perubahan diri, keluarga, dan masyarakat menuju kehidupan yang bermartabat.

Pesan itulah yang disampaikan Prof. Dr. KH. M. Din Syamsuddin saat memberikan tausiyah dalam Kajian Ahad Pagi Pencerah di PCM Bubutan, Surabaya, Ahad (28/6/2026).

Di hadapan lebih dari 1.400 jamaah yang memadati halaman PCM Bubutan, Jalan Dupak Jaya V, Surabaya, Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005–2015 tersebut mengajak umat Islam melakukan transformasi menyeluruh agar mampu bangkit dari berbagai ketertinggalan, terutama di bidang ekonomi, pendidikan, dan kualitas sumber daya manusia.

Mengangkat tema “Dengan Semangat Hijrah Mewujudkan Hidup Bermarwah”, Prof. Din menjelaskan bahwa hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Yatsrib bukan sekadar perpindahan geografis.

Hijrah merupakan proyek besar perubahan peradaban yang mengubah masyarakat yang terpecah menjadi komunitas yang beradab.

Menurutnya, terdapat dua unsur penting dalam hijrah, yakni at-taghayyur (perubahan diri) dan at-taghyir (mengubah lingkungan). Kedua konsep tersebut harus berjalan beriringan.

“Umat Islam harus berhijrah dari alam pikiran yang berkemunduran menjadi memiliki alam pikiran yang berkemajuan. Itulah Islam yang berkemajuan,” tegas Din.

Dia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW berhasil mengubah Yatsrib yang dipenuhi konflik antarsuku menjadi Madinah, sebuah kota yang dibangun di atas persaudaraan, keadilan, dan kesamaan akidah.

Mayoritas, tetapi Belum Menjadi Kekuatan

Dalam tausiyahnya, Din Syamsuddin juga menyoroti kondisi umat Islam Indonesia yang menurutnya masih menghadapi paradoks.

Meski menjadi mayoritas penduduk, umat Islam dinilai belum mampu tampil sebagai kekuatan utama dalam pembangunan bangsa.

Dia menyebut kondisi tersebut sebagai azzillah, yaitu keadaan ketika umat kehilangan kehormatan akibat ketertinggalan di berbagai bidang.

“Seharusnya umat Islam memimpin Indonesia untuk mengajak umat-umat lain bersama-sama membangun kesejahteraan bersama. Namun kita justru mundur dan terkalahkan, terutama dalam bidang ekonomi, ketika aset-aset nasional hanya dikuasai oleh segelintir orang,” ujarnya.

Menurut Din, kritik tersebut bukan untuk membangun permusuhan antargolongan, melainkan menjadi refleksi agar umat Islam bangkit melalui peningkatan kualitas pendidikan, penguasaan ekonomi, dan penguatan karakter.

Baginya, hijrah masa kini harus dimaknai sebagai perpindahan dari ketergantungan menuju kemandirian, dari kemiskinan menuju kesejahteraan, serta dari posisi dipimpin menjadi mampu memimpin dengan adil dan inklusif.

Waspadai Lahirnya Generasi Rebahan

Perhatian Din Syamsuddin juga tertuju pada tantangan yang dihadapi keluarga Muslim saat ini. Ia mengingatkan agar orang tua tidak meninggalkan generasi yang lemah sebagaimana peringatan Al-Qur’an.

Salah satu fenomena yang disorot adalah munculnya “generasi rebahan”, yakni anak-anak muda yang menghabiskan banyak waktu bersama gawai hingga melupakan kewajiban ibadah, kurang peduli kepada orang tua, dan kehilangan kepedulian sosial.

SMPM 5 Pucang SBY

“Jangan tinggalkan generasi yang lemah, generasi rebahan. Pulang ke rumah langsung merebah di sofa sambil bermain gadget, waktu salat terlewat, ditegur orang tua pun tidak peduli,” tutur Din.

Menurutnya, teknologi bukanlah musuh. Yang perlu dibangun adalah karakter agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi untuk berkarya dan memberi manfaat.

Karena itu, ia mengajak seluruh keluarga Muslim membentuk “generasi rubahan”, yakni generasi yang mampu menjadi pelaku perubahan, bukan sekadar penonton perubahan.

Untuk mewujudkan generasi unggul tersebut, Din menegaskan pentingnya pendidikan sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan umat.

Ia mengapresiasi perkembangan amal usaha pendidikan Muhammadiyah di PCM Bubutan yang dinilai konsisten membangun pendidikan berjenjang, mulai dari tujuh TK Aisyiyah hingga SMP Muhammadiyah 7 Surabaya yang kini mengusung konsep School of Future Leaders.

“Sekolahkan anak-anak kalian di lembaga pendidikan Muhammadiyah, mulai taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi,” pesannya.

Din juga memperkenalkan gagasan pengembangan Pesantren Modern Internasional Dea Malela di Sumbawa. Menurutnya, pesantren tersebut dirancang untuk melahirkan ilmuwan Muslim yang mampu berkiprah di tingkat internasional tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

PCM Bubutan Luncurkan Empat Program Strategis

Kajian Ahad Pagi Pencerah juga menjadi momentum peluncuran sejumlah program baru di lingkungan PCM Bubutan.

Ketua PCM Bubutan, Ir. H. Siswoyo, mengungkapkan bahwa total aset Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Cabang Bubutan telah mencapai sekitar Rp 70 miliar.

Ke depan, PCM Bubutan akan melakukan peremajaan gedung sekolah serta pengembangan Masjid Al-Jihad menjadi empat lantai yang dilengkapi aula besar.

Dalam kesempatan tersebut, Din Syamsuddin meresmikan empat program strategis, yaitu Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan tingkat Tunas Athfal di tujuh TK Aisyiyah se-Cabang Bubutan, Sekolah Hafidz Al-Qur’an SD Muhammadiyah 12 Surabaya, Muhammadiyah Boarding School of Future Leaders SMP Muhammadiyah 7 Surabaya, serta RTDQ Qur’anic Learning Center PCM Bubutan. Ia juga menerima penyerahan empat edisi Creative Magazine News dari SD Muhammadiyah 20 Surabaya.

Acara yang dihadiri jajaran PDM dan PDA Kota Surabaya, unsur Forkopimka Kecamatan Bubutan, serta para kepala sekolah Muhammadiyah itu berlangsung semarak dengan penampilan Da’i Cilik, seni pantomim, dan musik gambus dari para siswa.

Menutup tausiyahnya, Din Syamsuddin kembali menegaskan bahwa hijrah merupakan agenda perubahan yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Hijrah bukan sekadar mengenang perjalanan Nabi. Hijrah adalah ikhtiar mengubah diri, membangun keluarga, memperkuat umat, hingga menghadirkan masyarakat yang bermarwah,” tandasnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 30/06/2026 06:42
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu