Setiap pertemuan pada akhirnya akan berujung pada perpisahan. Itulah yang dirasakan jamaah KBIHU Jabal Nur pada hari terakhir berada di Kota Madinah. Selasa (30/6/2026) menjadi hari yang penuh haru karena rombongan harus meninggalkan kota Rasulullah SAW untuk kembali ke Tanah Air.
Kerinduan kepada keluarga di Indonesia memang telah membuncah. Namun, di sisi lain, hati para jamaah justru terasa berat meninggalkan Madinah. Selama sepekan berada di kota suci itu, mereka seolah telah menjadi bagian dari kehidupan di sekitar Masjid Nabawi.
Kerinduan kepada Masjid Nabawi, Raudhah, dan makam Rasulullah SAW membuat air mata tak kuasa dibendung.
Seusai salat Subuh, aktivitas jamaah terbagi menjadi dua. Sebagian mulai merapikan barang dan mengemas koper kabin sebagai persiapan kepulangan. Sebagian lainnya memilih memanfaatkan sisa waktu dengan memperbanyak ibadah dan berziarah ke makam Rasulullah SAW.
Bagi penulis, satu kali ziarah terasa belum cukup.
Pagi itu, penulis berkesempatan tiga kali menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW. Setiap selesai melewati makam Rasulullah, penulis kembali memutar langkah agar dapat memasuki area ziarah sekali lagi.
“Assalamu’alaika ya Rasulullah. Assalamu’alaika ya Habiballah,” ucap penulis berulang kali dengan hati yang dipenuhi rasa haru.
Setiap langkah terasa berat. Hati seolah enggan meninggalkan tempat yang selama ini hanya dikenal melalui kisah-kisah sirah Nabi.
“Ya Rasulullah, kami rindu kepadamu. Kami tidak ingin berpisah denganmu. Jadikanlah kami tetap sebagai umatmu yang istiqamah menjalankan ajaran Islam dan memperoleh syafaatmu kelak di hari kiamat,” doa yang terus terucap dalam hati.
Usai berziarah, penulis memasuki Masjid Nabawi untuk menunaikan salat Dhuha. Jika pada hari-hari sebelumnya hanya empat rakaat, pagi itu delapan rakaat ditunaikan sebagai ungkapan syukur sekaligus salam perpisahan kepada masjid yang menjadi pusat dakwah Rasulullah SAW.
Setelah itu, penulis bersandar di salah satu tiang Masjid Nabawi. Udara yang sejuk, suasana yang tenang, dan lantunan ayat suci Al-Qur’an menghadirkan ketenteraman yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Rasa lelah yang selama ini tertahan akhirnya membuat penulis tertidur sejenak di dalam Masjid Nabawi.
Ketika terbangun, jarum jam telah menunjukkan pukul 10.00 waktu Arab Saudi. Saatnya kembali ke hotel untuk mengumpulkan koper dan bersiap menuju bandara.
Meninggalkan Madinah bukan sekadar berpindah kota. Bagi jamaah, momen itu merupakan perpisahan dengan kota yang menjadi saksi perjuangan Rasulullah SAW dalam membangun peradaban Islam.
Perjalanan haji memang hampir berakhir, tetapi kerinduan kepada Tanah Suci justru semakin menguat.
Sebelum meninggalkan Masjid Nabawi, penulis kembali menengadahkan tangan.
“Ya Allah, kami pulang ke tanah air dengan membawa cinta kepada rumah-Mu dan kerinduan kepada utusan-Mu. Berkahilah kehidupan kami setelah kembali ke Indonesia. Istiqamahkan kami menjalankan syariat-Mu sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW. Dan undanglah kami kembali menjadi tamu-Mu untuk menunaikan ibadah haji, umrah, serta berziarah ke Masjid Nabawi.”
Doa tersebut menjadi penutup perjalanan spiritual yang penuh makna. Perjalanan yang bukan sekadar mengubah langkah kaki, tetapi juga diharapkan mengubah hati, memperkuat keimanan, dan menghadirkan semangat baru untuk menjalani kehidupan setelah kembali ke Tanah Air.





0 Tanggapan
Empty Comments