Muhammadiyah menyelenggarakan Muktamar ke-15 di Surabaya pada tanggal 25 Februari – 3 Maret 1926. Saat itu, namanya masih kongres, dan diselenggarakan setiap tahun. Surabaya tercatat sebagai tuan rumah yang pertama acara di luar Yogyakarta. Suasana Muktamar terekam cukup rinci dalam berbagai surat kabar pada masa itu.
***
Sabtu malam, 27 Februari 1926, Muktamar ke-15 Muhammadiyah memasuki hari ketiga. Setelah paginya mengadakan rapat di di Stadstuin atau Taman Kota, kegiatan besar juga dilakukan pada malamnya. Yaitu sidang umum di gedung Oriënt-Bioscoop.
Rapat umum ini menjadi salah satu agenda bergengsi dalam rangkaian Muktamar. Ribuan masyarakat memadati gedung pertunjukan yang pada masa itu termasuk salah satu bangunan modern di Surabaya. Surat kabar mencatat sekitar 2.500 orang menghadiri sidang tersebut. Juga 26 utusan dari berbagai organisasi kemasyarakatan, serta 18 perwakilan media massa.
Sidang umum baru dimulai sekitar pukul 22.00 malam. Ketua (Umum) Pengurus Besar –sekarang Pimpinan Pusat (PP)– Muhammadiyah, K.H. Ibrahim, membuka persidangan dengan mengajak seluruh hadirin memanjatkan doa bersama. Suasana hening menyelimuti ruangan ketika ribuan peserta mengikuti pembukaan yang berlangsung khidmat.
Setelah doa selesai, panitia membacakan sejumlah surat ucapan selamat yang diterima menjelang penyelenggaraan kongres. Di antaranya berasal dari Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI serta organisasi masyarakat Tionghoa, Gie Hoo. Kedua surat itu sama-sama menyampaikan harapan agar Muktamar Muhammadiyah berjalan lancar. Juga menghasilkan keputusan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Setelah pembacaan surat selesai, K.H. Ibrahim selaku Ketua Kongres menyampaikan pidato pembukaan. Ia mengawali sambutannya dengan mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah meluangkan waktu menghadiri sidang umum.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh tamu undangan, wakil organisasi, dan para wartawan yang hadir untuk menyaksikan secara langsung jalannya Muktamar Muhammadiyah. Menurutnya, kehadiran mereka menjadi dorongan moral bagi Muhammadiyah untuk terus mengembangkan dakwah Islam melalui pendidikan dan pelayanan sosial.
Di antara tamu undangan yang hadir, berbagai surat kabar mencatat kehadiran Soetan Toemenggoeng, Patih pada Kantor Urusan Bumiputra, beserta sejumlah pejabat kepolisian. Kehadiran para pejabat pemerintah menunjukkan bahwa penyelenggaraan kongres mendapat perhatian dari pemerintah kolonial, terutama karena ribuan orang berkumpul dalam satu forum besar.
Usai pidato pembukaan, sidang memasuki acara inti. Pembicara pertama dr Soetomo, Penasehat PP Muhammadiyah bidang Kesehatan. Tokoh yang namanya diabadikan sebagai RSUD Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Surabaya. Untuk pidato ini berada dalam tulisan tersendiri: Ini Pidato Dokter Soetomo dalam Muktamar Muhammadiyah 1926.
Setelah Soetomo turun, pembicara selanjutnya adalah Haji Soedja’, anggota PP Muhammadiyah. Dalam paparannya, ia menjelaskan tujuan, cita-cita, serta arah perjuangan Muhammadiyah yang sejak awal berdiri. Yaitu berupaya sekuat tenaga untuk menggabungkan dakwah Islam dengan pelayanan nyata kepada masyarakat.
Haji Soedja’ menjelaskan bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak dalam bidang pengajaran agama. Namun, lebih daripada itu, juga berusaha menjawab persoalan sosial yang dihadapi umat.
Ia mencontohkan berbagai pelayanan sosial yang telah dijalankan lembaga-lembaga zending Kristen. Seperti Rumah Sakit Petronella di Yogyakarta maupun rumah sakit di Mojowarno. Menurutnya, pelayanan kesehatan yang dilakukan lembaga-lembaga itu patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat.
Karena itu Muhammadiyah juga berkeinginan mengembangkan pelayanan serupa sebagai bagian dari dakwah Islam. Baginya, mengobati orang sakit, membantu masyarakat miskin, serta memberikan pelayanan kesehatan merupakan bagian dari ajaran Islam yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dalam kesempatan itu Haji Soedja’ juga membacakan laporan tahunan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Lembaga sosial Muhammadiyah yang menjadi cikal bakal berbagai rumah sakit Muhammadiyah saat ini.
Laporan itu menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Hingga tahun 1926, PKO telah mengelola sebuah klinik dan sebuah poliklinik di Yogyakarta, serta sebuah poliklinik di Surabaya. Keberadaan fasilitas kesehatan itu menjadi bukti bahwa Muhammadiyah telah mulai membangun pelayanan kesehatan modern bagi masyarakat.
Meski demikian, Haji Soedja’ mengakui bahwa tugas Muhammadiyah masih sangat berat. Kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan, dan bantuan sosial jauh lebih besar dibandingkan kemampuan organisasi saat itu. Karena itu, ia menegaskan bahwa Muhammadiyah memandang membantu orang-orang yang menderita sebagai tugas suci yang harus terus diperjuangkan.
Menjelang akhir pidatonya, Haji Soedja’ juga menjelaskan pentingnya pembentukan Organisasi Haji. Organisasi itu dimaksudkan untuk melindungi para calon jemaah haji dari berbagai kesulitan yang kerap mereka hadapi selama perjalanan menuju Tanah Suci. Mulai dari persoalan administrasi hingga perlindungan selama berada di kapal maupun di Makkah.
Setelah Haji Soedja’ selesai berbicara, sidang dilanjutkan dengan ceramah Dr. Soemowidako. Selain anggota PP Muhammadiyah, ia juga memimpin pelayanan kesehatan Muhammadiyah. Dalam ceramah bertema dakwah Islam itu, Soemowidako menekankan pentingnya pengakuan terhadap keesaan Allah sebagai dasar terciptanya kehidupan manusia yang damai.
Menurutnya, selama manusia belum mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Mahakuasa dan belum menjalankan ajaran-Nya, pertentangan antarmanusia akan terus terjadi. Ia mengatakan bahwa agama memberikan petunjuk menuju jalan yang benar. Yaitu jalan yang telah ditempuh para nabi dan orang-orang saleh. Jalan itulah yang akan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang damai sekaligus mendekatkannya kepada Allah SWT.
Pembicara berikutnya adalah R. Haji Hadjid dari PKO Muhammadiyah. Dalam pidatonya ia menguraikan arti penting pelayanan sosial yang selama ini dijalankan Muhammadiyah. Menurutnya, kegiatan sosial bukan sekadar pelengkap dakwah, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Melalui pelayanan kepada masyarakat miskin, anak yatim, serta mereka yang sedang mengalami penderitaan, nilai-nilai Islam dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas.
Sebagai pembicara terakhir, adalah Sekretaris (Umum) PP Muhammadiyah Moh. Hoesni yang menyampaikan tentang persaudaraan dalam Islam. Ia menjelaskan bahwa Islam memiliki kemampuan untuk mempersatukan manusia tanpa membedakan suku, kedudukan, maupun status sosial. Persaudaraan yang dibangun di atas ajaran Islam, menurutnya, menjadi fondasi bagi lahirnya masyarakat yang adil dan saling menghormati.
Pidato-pidato yang disampaikan sepanjang malam itu memperlihatkan bahwa Muhammadiyah sejak awal tidak hanya memusatkan perhatian pada persoalan ibadah. Tapi juga mengembangkan pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pembinaan masyarakat sebagai bagian integral dari dakwah Islam.
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, sidang umum resmi ditutup sekitar pukul 00.30 dini hari. Meskipun berlangsung hingga lewat tengah malam, para peserta tetap mengikuti jalannya persidangan dengan penuh perhatian.
***
Tulisan sebelumnya: Melihat Kemeriahan Muktamar Ke-15 Muhammadiyah 1926 di Surabaya (4)





0 Tanggapan
Empty Comments