Ada orang yang dikenal karena jabatannya. Ada pula yang dikenang karena karya-karyanya. Namun hanya sedikit yang tetap hidup dalam ingatan banyak orang karena keteladanan yang mereka wariskan. HM Mirin—yang karib kami panggil Abah Mirin—adalah salah satunya.
Pada Ahad, 26 Juli 2026 pukul 10.00 WIB, kabar duka itu datang. Abah Mirin berpulang menghadap Allah SWT dalam usia 91 tahun.
Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang tokoh senior Muhammadiyah Pasuruan, melainkan juga kepergian seorang guru kehidupan, penjaga nilai, sekaligus saksi perjalanan panjang Persyarikatan di Pasuruan.
Bagi keluarga besar Muhammadiyah, kehadiran Abah Mirin selalu menghadirkan ketenangan. Sosoknya teduh, tutur katanya lembut, tetapi prinsipnya kokoh. Ia tidak banyak berbicara tentang perjuangan, sebab seluruh hidupnya sendiri telah menjadi bukti perjuangan itu.
Lahir pada 1 Desember 1935, Abah Mirin mengabdikan hampir seluruh usianya untuk Muhammadiyah. Jalan dakwah yang dipilihnya bukan melalui sorotan panggung, melainkan melalui ruang-ruang pendidikan, pelayanan sosial, dan pembinaan umat.
Selepas menamatkan pendidikan PGA enam tahun, beliau mengajar mata pelajaran ISMUBA di SD, SMP, hingga SMA Muhammadiyah Pasuruan, ketika wilayah Muhammadiyah Kota dan Kabupaten Pasuruan masih berada dalam satu kepemimpinan cabang.
Dari ruang kelas itulah lahir banyak generasi yang tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga menyerap nilai-nilai keikhlasan dan keteladanan dari seorang guru yang mengajar dengan hati.
Pengabdian itu kemudian berlanjut dalam kepemimpinan organisasi. Sekitar periode 1975–1980, beliau dipercaya memimpin Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pasuruan.
Setelah pemekaran wilayah Kota dan Kabupaten Pasuruan, amanah yang lebih besar kembali dipikulnya sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pasuruan periode 1995–2000.
Namun, warisan Abah Mirin tidak hanya tercatat dalam dokumen organisasi.
Di samping rumah duka di Jalan Raya Tambakrejo Nomor 4, Kraton, berdiri Masjid Darul Muttaqin, TK ABA, dan Panti Asuhan At-Taqwa.
Bangunan-bangunan itu bukan sekadar fasilitas dakwah dan pendidikan, melainkan jejak nyata perjuangan seorang kader yang meyakini bahwa amal saleh harus diwujudkan dalam karya yang terus memberi manfaat bahkan setelah pemiliknya tiada.
Panti Asuhan At-Taqwa menjadi saksi kasih sayangnya kepada anak-anak yatim. Masjid menjadi saksi kecintaannya kepada dakwah. Sementara lembaga pendidikan menjadi bukti keyakinannya bahwa masa depan umat dibangun melalui pendidikan.
Abah Mirin juga mewariskan keluarga yang tetap menapaki jalan Muhammadiyah. Istri beliau, almarhumah Hj. Lilik Sofiyah, lebih dahulu berpulang setelah mengabdikan diri sebagai tokoh dan pimpinan ‘Aisyiyah.
Mereka dikaruniai enam putra-putri: Dra. Yayuk Nurhayati, Ir. Zainal Abidin A., M.T., Dra. Nurul Aini Hidayati, M.Si., Dra. Hamidah Rusdiyati, Syaifudin Ahmad, M.Si., dan Fatkhur Rozaq Ahmad, S.T. Sebagian besar tetap aktif menggerakkan Persyarikatan, melanjutkan jejak perjuangan kedua orang tuanya. Sebuah warisan yang tidak berupa harta, melainkan nilai-nilai perjuangan yang hidup dari generasi ke generasi.
Bagi kami, para pimpinan Muhammadiyah Pasuruan, kehadiran Abah Mirin dalam setiap kegiatan hampir menjadi sebuah keniscayaan. Kehadirannya seolah menghadirkan keteduhan sekaligus pengingat agar Muhammadiyah tetap berjalan di atas manhajnya.
Setiap kali bersilaturahmi ke kediamannya, kami pulang membawa pelajaran. Bukan hanya dari nasihat yang beliau sampaikan, tetapi juga dari kesederhanaan hidup yang beliau contohkan.
Beliau mengajarkan bahwa menjadi kader bukan soal dikenal banyak orang, melainkan soal tetap istiqamah berbuat baik meski tanpa tepuk tangan.
Beberapa waktu terakhir, kami sempat dibuat cemas ketika beliau harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Bangil. Putra beliau, Syaifudin Ahmad, Ketua Presidium Alumni Muhammadiyah Pasuruan, memohon doa kepada kami semua.
Alhamdulillah, saat itu Abah Mirin sempat kembali ke rumah sehingga kami masih diberi kesempatan menjenguk dan bersilaturahmi.
Namun, sebagaimana ketetapan Allah, setiap perjumpaan pasti akan berakhir pada perpisahan. Saat ajal tiba, tidak ada seorang pun mampu memajukan ataupun mengundurkannya.
Kini, Abah Mirin telah berpulang. Yang tersisa adalah jejak-jejak amal yang terus berbicara. Amal yang tidak berhenti pada masa hidupnya, tetapi terus mengalir melalui masjid, sekolah, panti asuhan, kader-kader yang pernah dididiknya, serta keluarga yang meneruskan pengabdian.
Sesungguhnya tokoh besar tidak benar-benar pergi. Mereka tetap hadir dalam setiap kebaikan yang mereka tanamkan.
Selamat jalan, Abah Mirin.
Terima kasih atas keteladanan, kesabaran, keistiqamahan, dan seluruh pengabdian yang telah engkau persembahkan untuk Muhammadiyah, umat, dan bangsa.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan alam kuburmu, mengampuni segala khilafmu, serta menempatkanmu bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments