Suatu hari seseorang menerima pesan di grup WhatsApp. Isinya tentang sebuah amalan yang disebut memiliki keutamaan luar biasa. Ada dalil yang dicantumkan. Ada pula kisah tentang orang-orang saleh yang mengamalkannya.
Ia tertarik. Tetapi sebelum ikut mengamalkannya, ia bertanya kepada seorang ustaz yang dipercaya.
“Ustaz, benarkah amalan ini diajarkan dalam Islam?”
Pertanyaan sederhana itu sebenarnya menunjukkan sesuatu yang penting: dalam beragama, kita tidak cukup hanya bertanya, “Siapa yang mengatakan?” Kita juga perlu bertanya, “Apa rujukannya?”
Sebab agama bukan wilayah yang boleh dibangun hanya dari perasaan, kebiasaan, cerita yang beredar, atau pendapat seseorang. Ada sumber yang menjadi rujukan. Ada jalan yang harus ditempuh agar pemahaman terhadap agama tidak keluar dari tuntunan yang benar.
Dalam Islam, rujukan dalam beragama dapat dijelaskan melalui beberapa tingkatan berikut.
1. Al-Qur’an
Rujukan pertama adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia. Karena itu, seorang Muslim dalam menjalani kehidupan beragama harus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Ikutilah apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti wali-wali selain Allah. Sedikit sekali dari kalian yang mau mengambil pelajaran.” (QS al-A’raf: 3)
Ayat ini mengingatkan bahwa ukuran dalam beragama bukan semata-mata apa yang sudah lama dilakukan, bukan pula apa yang sedang ramai dilakukan banyak orang. Yang menjadi ukuran adalah apa yang Allah turunkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu tidak akan sembarangan mengikuti petunjuk ketika menyangkut sesuatu yang penting. Ketika seorang pasien mendapatkan resep obat, misalnya, ia tidak mengganti dosis sesuka hati hanya karena mendengar cerita dari tetangga.
Apalagi dalam urusan agama. Ada pedoman yang harus dirujuk.
2. Hadis atau Sunah Nabi
Al-Qur’an dan hadis tidak dapat dipisahkan. Keduanya menjadi rujukan utama dalam memahami dan menjalankan ajaran Islam.
Al-Qur’an memberikan petunjuk, sedangkan sunah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan penjelasan dan contoh penerapannya.
Karena itu, berpegang kepada Al-Qur’an juga berarti mengikuti Sunnah Nabi. Dalam hadis yang diriwayatkan dalam Muwaththa’ Imam Malik disebutkan:
“Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” (HR al-Hakim; dinilai sahih oleh al-Hakim)
Bayangkan seseorang ingin mengetahui bagaimana cara melaksanakan salat yang benar. Ia membaca perintah salat dalam Al-Qur’an. Namun, bagaimana gerakannya? Berapa rakaatnya? Apa bacaannya?
Di situlah Sunnah Nabi menjadi penting. Nabi bukan hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga memberikan contoh bagaimana ajaran itu dijalankan.
Maka Al-Qur’an dan Sunnah bukan dua jalan yang saling bertentangan. Keduanya menjadi satu kesatuan dalam memahami agama.
3. Pemahaman Para Sahabat
Setelah Al-Qur’an dan Sunnah, hal penting berikutnya adalah memahami bagaimana para sahabat Nabi menerima dan memahami ajaran tersebut.
Mengapa?
Karena merekalah generasi yang hidup bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka mendengar langsung sabda beliau, melihat praktik ibadah beliau, dan menyaksikan bagaimana wahyu diterapkan dalam kehidupan.
Mereka bukan sekadar membaca teks agama dari kejauhan. Mereka hidup bersama sumbernya.
Karena itu, pemahaman para sahabat memiliki kedudukan penting dalam memahami agama.
Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, mereka belajar langsung kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Kedua, mereka merupakan generasi yang mendapatkan pujian dari Allah. Allah menyebut orang-orang Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam QS at-Taubah ayat 100.
Ketiga, kehidupan mereka menjadi bagian penting dari sejarah terbentuknya masyarakat Islam generasi pertama.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi disebutkan: “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka.” (Muttafaq ‘alaih)
Ada sebuah pelajaran sederhana di sini. Ketika kita belajar dari seseorang, tentu akan lebih mudah memahami maksud sebuah ajaran jika orang tersebut belajar langsung dari sumbernya.
Begitu pula dengan para sahabat. Mereka menerima ajaran Islam langsung dari Rasulullah.
Karena itu, memahami bagaimana mereka memahami agama menjadi bagian penting dalam menjaga pemahaman Islam.
4. Pemahaman Para Tabi’in
Generasi berikutnya adalah tabi’in. Tabi’in adalah orang-orang yang hidup setelah para sahabat dan bertemu dengan mereka dalam keadaan beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tetapi tidak mengalami masa hidup Nabi.
Mereka adalah murid para sahabat.
Ilmu yang mereka terima berasal dari generasi yang sebelumnya belajar langsung kepada Rasulullah.
Karena itu, pemahaman para tabi’in juga menjadi bagian penting dalam khazanah keilmuan Islam. Kita bisa membayangkan sebuah mata rantai ilmu.
Nabi mengajarkan kepada para sahabat. Para sahabat mengajarkan kepada tabi’in. Tabi’in kemudian mengajarkan kepada generasi setelah mereka.
Ilmu tidak berhenti pada satu generasi. Ia diwariskan. Dan dalam proses pewarisan itu, perhatian terhadap siapa yang menyampaikan ilmu menjadi sangat penting.
5. Pemahaman Para Tabi’ut Tabi’in
Setelah tabi’in, ada generasi tabi’ut tabi’in atau atba’ut tabi’in. Mereka adalah generasi yang bertemu dan belajar dari para tabi’in, tetapi tidak bertemu dengan para sahabat Nabi dalam kapasitas sebagai generasi yang hidup sezaman dengan mereka.
Mereka termasuk dalam tiga generasi awal yang mendapat keutamaan dalam hadis Nabi.
Rasulullah ahallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka.” (Muttafaq ‘alaih)
Tiga generasi ini—sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in—sering disebut sebagai generasi salaf. Mereka berada pada masa yang sangat dekat dengan sumber ajaran Islam.
Karena itu, pemahaman mereka menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan ketika seseorang ingin memahami agama.
6. Ulama yang Mengikuti Mereka
Lalu bagaimana dengan kita yang hidup jauh setelah tiga generasi tersebut? Di sinilah peran ulama menjadi penting.
Kita tidak hidup pada zaman Nabi. Kita tidak bertemu para sahabat. Kita juga tidak belajar langsung kepada tabi’in dan tabi’ut tabi’in.
Kita mendapatkan ilmu melalui para ulama. Namun, tidak setiap orang yang berbicara tentang agama otomatis menjadi rujukan.
Ulama yang layak diambil ilmunya adalah mereka yang berilmu, memahami Al-Qur’an dan Sunnah, serta berusaha mengikuti pemahaman generasi terbaik umat Islam.
Karena itu, ketika seseorang hendak belajar agama, memilih guru juga merupakan bagian dari kehati-hatian.
Seperti orang yang hendak bepergian ke sebuah tempat yang belum pernah ia datangi. Ia membutuhkan orang yang mengetahui jalan.
Jika salah memilih penunjuk jalan, ia bisa saja berjalan dengan penuh keyakinan, tetapi semakin jauh dari tujuan.
Begitu pula dalam beragama.
Keyakinan saja tidak cukup. Semangat saja tidak cukup. Banyaknya pengikut juga bukan ukuran kebenaran.
Ada rujukan yang harus diperhatikan. Ada ilmu yang harus dipelajari. Ada ulama yang harus dijadikan tempat bertanya.
Pada akhirnya, beragama bukan sekadar soal seberapa banyak kita mengetahui ajaran Islam. Yang tidak kalah penting adalah dari mana pengetahuan itu kita ambil dan bagaimana kita memahaminya.
Al-Qur’an menjadi rujukan. Sunah menjadi penjelas dan teladan.
Pemahaman para sahabat menjadi bagian penting dalam melihat bagaimana ajaran itu diterima oleh generasi pertama.
Kemudian tabi’in dan tabi’ut tabi’in meneruskan mata rantai ilmu tersebut. Dan setelah itu, para ulama yang mengikuti jalan mereka menjadi tempat umat belajar.
Sebab dalam urusan agama, kita tidak sedang mencari pendapat yang paling sesuai dengan keinginan. Kita sedang mencari petunjuk. Dan petunjuk itu perlu dicari melalui rujukan yang benar. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments