Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Widang, Tuban, menggelar Kajian Rutin dengan tema “Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam” di Masjid Al Furqon, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tegalrejo, Widang, Tuban, Sabtu (3/10/2026) malam.
Kegiatan yang bekerja sama dengan Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tuban tersebut menghadirkan Ketua PDM Tuban, Drs Masrukin, M.A., sebagai pemateri.
Dalam kajiannya, Masrukin menjelaskan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi yang hidup melalui gerakan. Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki nama sebagai organisasi Islam, tetapi harus terus bergerak melalui berbagai aktivitas yang berorientasi pada perjuangan Islam.
“Muhammadiyah ini tetap hidup dengan cara bergerak, melakukan kegiatan-kegiatan. Itulah yang namanya gerakan. Namun Muhammadiyah bukan sekadar bergerak, tetapi bergerak menuju Islam. Muhammadiyah adalah gerakan Islam,” ujarnya.
Ia menegaskan, seluruh potensi yang dimiliki warga Muhammadiyah, baik harta, pikiran maupun tenaga, hendaknya diarahkan untuk kepentingan Islam. Karena itu, identitas Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari Islam sebagai sumber dan tujuan gerakannya.
Tiga Identitas Gerakan Muhammadiyah
Masrukin menjelaskan, Muhammadiyah memiliki tiga identitas utama, yakni gerakan Islam, gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, dan gerakan tajdid.
Pertama, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam. Artinya, perjuangan Muhammadiyah adalah memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.
Menurutnya, sumber utama ajaran yang menjadi rujukan Muhammadiyah adalah Al-Qur’an dan hadis.
“Penyelesaian terbaik adalah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis. Kita boleh menggunakan pendapat ulama, namun ulama itu harus mengikuti Al-Qur’an dan hadis,” jelasnya.
Ia mengingatkan warga Muhammadiyah agar memiliki pemahaman yang baik dalam membedakan antara ajaran agama dan adat kebiasaan masyarakat.
“Orang Muhammadiyah itu harus paham mana ajaran Islam dan mana yang bukan, mana yang dianjurkan agama dan mana yang merupakan adat,” tuturnya.
Dakwah melalui Amal Usaha
Kedua, lanjut Masrukin, Muhammadiyah merupakan gerakan dakwah. Islam dapat berkembang karena adanya aktivitas dakwah yang mengajak manusia kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Ia mengaitkan semangat tersebut dengan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 104 tentang pentingnya adanya sekelompok umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.
“Berdakwah itu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran,” katanya.
Menurut Masrukin, semangat dakwah Muhammadiyah kemudian diwujudkan dalam berbagai amal usaha. Amal usaha tersebut bukan sekadar sarana pelayanan masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen dakwah.
“Dari gerakan itu, Muhammadiyah mewujudkan amal usaha yang terus berkembang. Amal usaha ini sebagai sarana untuk dakwah. Contohnya masjid, mushala, kemudian sekolah,” jelasnya.
Tajdid untuk Memurnikan Ajaran Islam
Ketiga, Muhammadiyah merupakan gerakan tajdid. Masrukin menjelaskan, tajdid berarti pembaruan yang mengajak umat kembali kepada ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Menurutnya, prinsip pemurnian tersebut terutama berkaitan dengan persoalan akidah dan ibadah.
“Tujuannya mengajak orang melaksanakan Islam seperti ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Murni yang dibawa Nabi, tidak ada campuran, khususnya masalah akidah dan ibadah,” terangnya.
Karena itu, Muhammadiyah dikenal dengan gerakan pemberantasan Takhayul, Bid’ah, dan Churafat (TBC) dalam kehidupan umat.
Namun, Masrukin menegaskan bahwa prinsip tersebut berbeda penerapannya dalam persoalan sosial dan muamalah. Menurutnya, kehidupan sosial dapat berkembang mengikuti perubahan zaman selama tetap berada dalam koridor syariat.
“Kalau masalah sosial atau muamalah, tidak harus persis seperti zaman Nabi. Boleh mengikuti perkembangan zaman. Tetapi kalau masalah akidah dan ibadah, harus sesuai dengan tuntunan Nabi,” tegasnya.
Ia menambahkan, semangat tajdid tersebut kemudian menjadi salah satu jalan Muhammadiyah dalam mengembangkan Islam Berkemajuan, yakni menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan dengan tetap berpegang pada ajaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Menutup kajiannya, Masrukin berharap kegiatan tersebut dapat semakin menguatkan semangat warga Muhammadiyah dalam menjalankan gerakan dakwah.
“Semoga dengan kajian ini kita bisa memperjuangkan Muhammadiyah. Semoga kita dicintai dan diampuni Allah, istiqamah dalam perjuangan, dan semoga meninggal dalam keadaan husnul khatimah,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments