Sejarah kelahiran Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) menjadi salah satu materi yang disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan Fathurrahim Syuhadi, MM, MPd, dalam pembukaan Latihan Gabungan (Latgab) dan Fun Camp Kokam Lamongan, Sabtu (3/10/2026)
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut digelar di bumi perkemahan Kendal, Kecamatan Sekaran, Lamongan, yang berada di kawasan pinggiran Bengawan Solo. Latgab dan Fun Camp diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai unsur Kokam se-Kabupaten Lamongan.
Dalam penyampaian sambutannya Fathurrahim Syuhadi memberikan apresiasi atas kegiatan Latgab dan Fun Gamp Markas Daerah Kokam Lamongan. Ia juga mengajak peserta memahami Kokam tidak hanya dari sisi kegiatan dan atribut, tetapi juga dari sejarah kelahirannya.
Ia menjelaskan, Kokam lahir pada 1 Oktober 1965, di tengah situasi politik dan keamanan nasional yang sangat genting setelah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September. Berdasarkan sejarah yang dicatat Muhammadiyah, Kokam dibentuk pada 1 Oktober 1965 dan Letnan Kolonel Sudarsono Prodjokusumo atau dikenal sebagai Pak Projo menjadi komandan pertamanya.
“Kelahiran Kokam merupakan respons terhadap kondisi bangsa yang pada saat itu sedang menghadapi situasi yang sangat genting. Karena itu, memahami sejarah kelahirannya penting bagi setiap kader Kokam,” ujar Mantan Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Lamongan
Menurutnya, generasi Kokam saat ini perlu memahami bahwa setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda. Jika pada masa kelahirannya Kokam hadir dalam konteks situasi kebangsaan yang penuh ketegangan, maka tantangan Kokam sekarang berkembang sesuai kebutuhan masyarakat dan bangsa.
Fathurrahim Syuhadi menegaskan, semangat kesiapsiagaan, pengabdian, nasionalisme, dan kepedulian terhadap sesama tetap relevan untuk dipelihara. Muhammadiyah sendiri mencatat bahwa Kokam mengalami pembaruan gerakan sesuai perkembangan zaman.
“Dulu konteks perjuangannya berbeda. Sekarang Kokam harus mampu membaca persoalan zaman dan hadir memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, salah satu bentuk nyata pengabdian Kokam masa kini adalah keterlibatan dalam kegiatan kemanusiaan, pencarian dan pertolongan atau SAR, penanganan kebencanaan, serta berbagai bentuk pelayanan sosial.
Peran kemanusiaan dan kebencanaan tersebut juga menjadi bagian dari perkembangan gerakan Kokam. Dalam sejumlah kegiatan Muhammadiyah, Kokam didorong untuk memperkuat pelayanan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Karena itu, Penulis buku Jejak dan Sejarah Ortom Lamongan ini meminta peserta Latgab dan Fun Camp tidak hanya berlatih kemampuan fisik dan kedisiplinan, tetapi juga membangun kepekaan sosial.
“Teruslah berlatih, tingkatkan kedisiplinan, kekompakan, kemampuan, dan kesiapsiagaan. Kokam harus hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan,” pesannya.
Ia juga mengajak kader Kokam menjaga Indonesia dari berbagai ancaman dengan cara yang sesuai dengan hukum, konstitusi, dan perkembangan zaman. Semangat menjaga NKRI, menurutnya, perlu diwujudkan melalui pengabdian nyata dan tindakan yang bermanfaat.
Kegiatan Latgab dan Fun Camp tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk meningkatkan kapasitas sekaligus mempererat solidaritas antarkader. Selain latihan, peserta juga mendapatkan pembinaan organisasi dan wawasan kebangsaan.
Kegiatan tersebut dihadiri Danwil Kokam Jawa Timur beserta tiga orang pimpinan, Forkopimcam Kecamatan Sekaran, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Sekaran, jajaran Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Lamongan, Komandan Marda Kokam Lamongan dan jajarannyaserta utusan dari berbagai Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) se-Kabupaten Lamongan.
Fathurrahim Syuhadi berharap Latgab dan Fun Camp tidak berhenti sebagai kegiatan rutin, tetapi menjadi bagian dari proses kaderisasi Kokam yang mampu melahirkan anggota yang disiplin, tangguh, memiliki kepedulian sosial, serta siap memberikan pengabdian kepada Persyarikatan, masyarakat, dan bangsa.
“Semangat Kokam adalah siap dalam satu komando. Semangat itu harus diwujudkan dalam pengabdian nyata, terutama ketika masyarakat menghadapi kesulitan dan bencana,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments