Ada satu fakta menarik yang jarang diketahui publik tentang makam pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Selama 35 tahun setelah wafat, makamnya justru seakan tersembunyi. Lokasi tepatnya tidak diketahui oleh hampir seluruh warga Muhammadiyah di Indonesia.
Pusara sang pembaru Islam itu sengaja dibiarkan tanpa penanda. Sehingga menyatu dengan makam-makam lain di kompleks pemakaman Karangkajen, Yogyakarta. Kisah itu pernah diungkapkan oleh Ketua (Umum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1968–1990, KH. A.R. Fakhruddin. Kemudian dibukukan dalam “Mengenang Pak AR: Tak Lelah Menggembirakan Umat”.
Menurut Pak AR, demikian sapaan KH. A.R. Fakhruddin, keadaan itu bukan terjadi karena Muhammadiyah mengabaikan pendirinya. Melainkan merupakan bentuk penghormatan terhadap pesan KH Ahmad Dahlan yang tidak menghendaki adanya pengultusan terhadap dirinya setelah wafat.
Pak AR menegaskan, Muhammadiyah selalu membedakan antara menghormati seorang tokoh dengan mengultuskannya. Bagi persyarikatan, mengenang KH Ahmad Dahlan berarti meneladani perjuangan, pemikiran, dan amalnya. Bukan memuliakan makam atau menjadikan pusaranya sebagai objek penghormatan yang berlebihan.
“Kalau kita menyebut-nyebut nama KH Ahmad Dahlan, maka bukanlah berarti kita hendak mengultuskan, mengeramatkan beliau,” ujar Pak AR.
Prinsip itulah yang kemudian tercermin pada kondisi makam KH Ahmad Dahlan. Hingga sekarang, makam yang berada di kompleks pemakaman Karangkajen, Yogyakarta, masih dalam bentuk yang sederhana. Tidak terdapat bangunan megah, cungkup, maupun batu nisan tinggi sebagaimana lazim dijumpai pada makam tokoh besar.
Yang lebih menarik lagi, selama puluhan tahun setelah KH Ahmad Dahlan wafat pada 1923, makam itu bahkan tidak memiliki penanda sama sekali. Akibatnya, hampir seluruh warga Muhammadiyah di berbagai daerah tidak mengetahui lokasi pasti makam pendiri organisasinya.
“Mulai tahun 1923 sampai tahun 1958 hampir seluruh keluarga Muhammadiyah di Indonesia tidak ada yang mengetahui kubur beliau, karena kubur beliau sama sekali tidak ada tanda-tandanya,” terang Pak AR.
Pernyataan ini menunjukkan betapa konsistennya Muhammadiyah menjalankan amanat pendirinya. Selama 35 tahun, pusara KH Ahmad Dahlan benar-benar dibiarkan menyatu dengan makam lain tanpa identitas khusus. Tidak ada tanda yang membedakan makam itu dari kuburan-kuburan di sekitarnya.
Baru pada 1958, bertepatan dengan peringatan setengah abad Hari Kebangkitan Nasional, Muhammadiyah memberikan penanda sederhana di atas makam tersebut. Penanda itu pun dibuat sangat minimalis, hanya berupa batu semen dengan tinggi tidak lebih dari 20 sentimeter.
“Barulah pada tahun 1958 setengah abad peringatan Hari Kebangkitan Nasional, kubur Kiyai diberi tanda dengan batu semen setinggi tidak lebih dari 20 centi meter,” jelas Pak AR.
Yang patut diketahui, pemberian tanda makam itu adalah karena permintaan dari pemerintah. Melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr Bahder Djohan. Penanda ini dimaksudkan agar generasi penerus dapat mengenali lokasi peristirahatan sosok yang juga Pahlawan Nasional itu.
Disebutkan pula, saat itu Menteri P dan K, menawarkan anggaran 300 ribu rupiah untuk membangun cungkup dan nisan yang mewah untuk makam KH Ahmad Dahlan. Namun, uang itu oleh Ketua (Umum) PP saat itu KH Ahmad Badawi, tidak bisa diterima. Namun, sebagai gantinya, PP Muhammadiyah memberi tanda makam KH Ahmad Dahlan, meski sangat sederhana.
Pemberian tanda tersebut bukan dimaksudkan untuk mengubah karakter makam ataupun membangun monumen bagi pendiri Muhammadiyah. Batu semen kecil itu lebih berfungsi sebagai penunjuk lokasi agar makam dapat dikenali oleh masyarakat yang ingin berziarah atau mempelajari sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan.
Menariknya, setelah penanda sederhana itu dipasang, Muhammadiyah tetap tidak melakukan perubahan berarti terhadap kondisi makam. Hingga kini, bentuk makam tersebut masih dipertahankan sebagaimana adanya.
“Dan begitulah, kubur Kiyai sampai sekarang tetap seperti yang ada. Tanpa ada perubahan apa-apa,” jelas Pak AR. Keputusan itu didasarkan pada pesan langsung KH Ahmad Dahlan agar penguburannya disesuaikan dengan tuntunan Rasulullah SAW mengenai kesederhanaan dalam pemakaman.
“… karena pesan Kiyai memang demikian untuk disesuaikan seperti yang dipesankan oleh Rasulullah saw. dalam soal penguburan seseorang,” katanya.
Di sisi lain, Pak AR juga menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak bermaksud menghakimi praktik pemakaman yang dilakukan oleh umat Islam lain. Menurutnya, apabila terdapat makam para pemimpin Islam yang dibangun dengan semen, diberi cungkup, atau dibuat lebih megah, hal itu merupakan urusan keluarga maupun umat yang merawatnya.
“Adapun kuburan pemimpin-pemimpin Islam lainnya banyak yang disemen dan dicungkup itu terserah tanggung jawab para keluarga atau para umatnya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan sikap Muhammadiyah yang tetap menghormati perbedaan praktik di tengah masyarakat. Organisasi ini hanya berusaha menjaga amanat khusus yang ditinggalkan oleh KH Ahmad Dahlan mengenai makamnya sendiri.
Makam KH Ahmad Dahlan hanyalah gundukan tanah sederhana. Ditandai dengan batu semen rendah, dengan tinggi tidak lebih dari 20 sentimeter. Kesederhanaan ini bukan bentuk pengabaian atau kelalaian ahli waris. Melainkan manifestasi dari wasiat Kyai Dahlan yang meneladani tuntunan Rasulullah SAW dalam tata cara penguburan jenazah. Dan, tentu saja menghindari sikap mengultuskan atau mengeramatkan Kyai Dahlan.





0 Tanggapan
Empty Comments