Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat belum usai, namun ada pelajaran penting dalam setiap pertandingan. Sebagian tim larut dalam euforia kemenangan, sementara sebagian lain sedih, menangis, dan kecewa karena kekalahan.
Dunia sepak bola dengan jutaan pasang mata kembali menyaksikan sebuah pemandangan yang bukan hanya menggetarkan hati karena kemenangan, tetapi juga menyampaikan pesan nilai dan adab ketika memperolehnya.
Setelah Ismael Saibari berhasil menggetarkan jala gawang Belanda dalam adu penalti, Maroko memastikan kemenangan dramatis atas Belanda dengan skor 3-2.
Para pemain Maroko tidak larut dalam selebrasi berlebihan. Mereka berkumpul, menundukkan kepala, lalu bersujud syukur kepada Allah, berjabat tangan, dan menemui keluarga yang telah memberikan dukungan serta doa di tribun selama pertandingan berlangsung.
Tim Maroko memberikan pelajaran yang berbeda dengan tim lainnya. Kemenangan justru membuat mereka semakin tunduk dan bersyukur kepada Allah, serta tidak merendahkan tim yang kalah dalam pertandingan.
Dakwah bil Hal: Menggugah Dunia Lewat Keteladanan Nyata
Dalam Islam, syukur bukan sekadar ucapan, melainkan pengakuan bahwa keberhasilan adalah perpaduan antara usaha manusia dan pertolongan Allah.
Para pemain telah berlatih keras, menjalankan strategi, dan menjaga disiplin.
Namun, ketika hasil berpihak kepada mereka, mereka tidak melakukan hal pertama yang meninggikan diri dengan kesombongan dan keangkuhan, melainkan merendahkan diri di hadapan Sang Pemberi Nikmat.
Allah SWT berfirman:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Dakwah yang efektif adalah dengan keteladan dan memberikan contoh nyata dalam setiap sisi kehidupan. Seribu kata di atas mimbar dan di media sosial terkadang belum tentu menyentuh hati.
Sujud syukur oleh tim Maroko tersebut menjadi contoh nyata dakwah bil hal, yaitu dakwah dengan perbuatan dan keteladanan.
Dakwah semacam ini sering kali lebih kuat daripada seribu kata. Orang tidak dipaksa mendengar ceramah, tetapi diajak merenung melalui sikap nyata.
Kemenangan sejati ternyata bukan hanya saat skor berpihak pada kita, tetapi ketika hati tetap tunduk pada Sang Pencipta, tanpa selebrasi berlebihan yang merendahkan lawan.
Menang dan Kalah Tetap Bersyukur
Pertandingan sepak bola juga memperlihatkan sisi lain: ada yang menang dengan penuh syukur dan ada yang menerima kekalahan dengan air mata kekecewaan.
Dari sini kita belajar bahwa olahraga bukan hanya kompetisi, melainkan juga pendidikan karakter. Bagi yang menang belajar rendah hati, sedangkan yang kalah belajar sabar dan bangkit kembali.
Tim Maroko pernah mengalami kekalahan pada Piala Dunia 2022 di Qatar pada babak semifinal saat menghadapi Prancis, juara bertahan Piala Dunia 2018 di Rusia.
Walaupun saat itu mengalami kekalahan, tim Maroko tetap melakukan sujud syukur di lapangan.
Tim Maroko menunjukkan bahwa identitas keislaman tidak harus ditampilkan dengan banyak slogan.
Ketika nilai iman itu hidup di dalam hati, ia akan membuahkan sikap yang baik, disiplin, kerja keras, doa, dan rasa syukur. Itulah dakwah yang paling menyentuh dan mudah diterima.
Di era digital saat informasi di berbagai belahan dunia mudah menyebar dan menjadi viral, keteladanan seperti ini menjadi pengingat bahwa seorang muslim dapat menunjukkan nilai agamanya di mana pun ia berada: di sekolah, di kantor, di lapangan olahraga, maupun di ruang publik lainnya.
Pada akhirnya, prestasi yang disertai adab akan lebih lama dikenang daripada kemenangan itu sendiri.
Tentu kita berharap tim Maroko dapat terus melaju hingga babak final agar dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin semakin meluas di mata dunia.





0 Tanggapan
Empty Comments