Oleh: Muhsin MK
Dalam Islam, tokoh ideal dan panutan adalah Rasulullah, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaulah uswah dan teladan bagi seluruh umat, ulama dan tokoh Islam di dunia, termasuk KH Ahmad Dahlan.
Adapun di Muhammadiyah tokoh ideal dan panutan selain Rasulullah adalah KH. Ahmad Dahlan. Beliau yang menjadi uswah dan rujukan dalam ber-Muhammadiyah.
Suatu realitas sejarah Muhammadiyah selalu diuji dengan godaan dunia dan tahta. Diantara jalan yang jadi batu ujian adalah godaan dunia, yaitu politik praktis.
Jika berpolitik itu meneladani sistem Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan berbeda jalannya.
Namun bila politiknya itu mengikuti sistem kapitalis, materialis, liberalis dan machiavellis, maka godaan dunia dan tahta nya lebih besar. Selain itu lebih mudah terperosok dalam lubang Al-Wahn, yakni cinta dunia dan takut mati.
Bahaya Al-Wahn
Sifat Al-Wahn ini termasuk yang dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti disebutkan dalam sabdanya,
“Hampir tiba masanya umat-umat lain memperebutkan kalian, seperti orang-orang lapar memperebutkan hidangan di piringnya.” Lalu seorang sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit hari itu?”
Beliau bersabda, “Bahkan jumlah kalian hari itu sangat banyak, tetapi kalian seperti buih dalam genangan air (banjir). Sungguh, Allah Azza Wa Jalla akan mencabut rasa takut dari dada musuh- musuh kalian terhadap kalian, dan Allah akan menimpakan ke dalam hati kalian yakni Al-Wahn.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu Al-Wahn?” Beliau bersabda, “Cinta dunia dan takut mati”. (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Kekhawatiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ini juga harus menjadi kekhawatiran bagi Muhammadiyah. Sebab bila penyakit itu berbahaya jika menjangkiti tubuh persyarikatan.
Mereka begitu aktif dalam Muhammadiyah karena cinta pada dunianya, tahta dan hartanya. Tetapi untuk berjuang membesarkan, meningkatkan dan memajukan persyarikatan, apalagi dengan penuh keikhlasan dan pengorbanan jiwa dan harta, mereka enggan dan takut.
Pernah pada masa berlaku sistem multi partai, sebagian warga, anggota, tokoh dan pimpinan persyarikatan terlibat dalam partai Masyumi.
Ini konsekuensi logis karena persyarikatan sebagai anggota istimewa partai tersebut. Namun pada saat berada dalam partai terjadi proses gesekan antara satu anggota dengan anggota partai yang lainnya.
Gesekan terjadi dalam memperebutkan tahta di pemerintahan. Al-Wahn mulai menyelinap dalam tubuh orang-orang partai.
Dalam perjalanan politik Muhammadiyah, partai yang didukungnya itu dinyatakan bubar di zaman Presiden Soekarno.
Lalu Muhammadiyah segera menyatakan diri keluar dari partai itu dan kembali menjadi gerakan dakwah Islam, pendidikan dan sosial kemasyarakatan.
Namun pada saat berdiri Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) lalu kembali warga persyarikatan masuk dunia politik praktis.
Saat itu Muhammadiyah secara organisasi tidak terlibat dalam partai. Namun di dalam Parmusi warga persyarikatan mulai terjadi gesekan, baik dengan sesama anggota organisasi maupun warga kelompok lainnya.
Terjadi benturan dan gesekan di antara kalangan ideologis dan mereka tersingkir oleh kelompok pragmatis yang saat itu mereka didukung oleh rezim yang berkuasa.
Awalnya Mr Roem dan Moh Soleman dari Masyumi dan keluarga besar persyarikatan yang memimpin Parmusi hasil Muktamar I Malang, 1968.
Namun mereka tidak direstui oleh Suharto. Mereka digantikan oleh Jarnawi Hadikusumo dan Lukman Harun, juga dari Muhammadiyah.





0 Tanggapan
Empty Comments